Panggung

Dianing Widya, novelis, pegiat sosial, @dianingwy

 

KAPAN pulang kampung? Pertanyaan ini seringkali sudah muncul sejak pekan pertama ramadhan. Bagi perantau pertanyaan itu memang amat relevan karena orang harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk pulang kampung. Mulai dari tiket yang harus diambil jauh-jauh hari hingga oleh-oleh untuk sanak-keluarga di kampung. Setelah itu semua tersedia, baru para perantau lega.

 

Maka, pada hari yang ditentukan, mereka pun seperti para pejuang. Mereka berdesak-desakan hingga bertarung dengan kemacetan.  Namun, pemudik tidak pernah peduli. Mudik begitu kuat menghipnotis mereka. Buat mereka, inilah saatnya para pekerja menarik diri dari rutinitas kota dan kembali ke habitatnya yakni udik. Sebab, dari sanalah mereka datang dan berasal. Di sanalah eksistensi mereka yang sesungguhnya.

(lebih…)

September 15, 2015 at 4:01 am Tinggalkan komentar

Rating

Dianing Widya, Novelis dan Pegiat Sosial @dianingwy

TAK ada yang abadi selain perubahan. Karenanya sepanjang  usia peradaban selalu ada perubahan.  Tak terkecuali perilaku manusia serta produk-produk benda yang seolah ada demi memenuhi kebutuhan manusia terkini. Tanpa benda-benda (duniawi) hidup manusia terasa terpinggirkan. Sebab, berbagai benda itulah cara manusia berkomunikasi kepada yang lain tentang siapa dirinya.

 

Perubahan perilaku dan kebutuhan itulah akhirnya dimanfaatkan industri untuk menciptakan suatu produk. Lalu masyarakat dengan sukacita menerimanya, bahkan merayakannya. Salah satu bentuk budaya media itu adalah televisi. Tanpa televisi rumah terasa sepi. Maka segala cara dilakukan oleh keluarga pra sejahtera sekali pun untuk memilikinya.

(lebih…)

September 8, 2015 at 2:27 pm 1 komentar

Memanusiakan Anak

Dianing Widya, novelis, pegiat sosial di Spirit Kita, @dianingwy

 

KASUS Angeline menjadi cermin bagi semua pihak betapa kekerasan terhadap anak, bahkan yang berakibat kematian, begitu mencemaskan. Berdasar data Komnas Perlindungan Anak, pada 2011 ada 2.462 kasus, naik lagi di tahun 2012 sebanyak 2.637 kasus. Tahun berikutnya, 2013, naik fantastik hingga 3.339 kasus. Pada 2014, ada 2.750 kasus. Lalu, pada tahun ini, hingga Mei, sudah terdata 339 kasus.

 

Boleh jadi kasus yang tidak terdata lebih banyak lagi. Sebab, tidak semua kasus mencuat ke permukaan. Namun, angka-angka tercatat itu saja telah menjadi horor bagi kehidupan anak-anak kita. Ini bukan angka main-main. Angka-angka yang terus meroket mengindikasikan negeri kita surga bagi para pelaku kekerasan. Ironisnya kekerasan terhadap anak justru seringkali terjadi di tempat yang semestinya menjadi tempat yang nyaman bagi anak, yakni di rumah dan sekolah.

(lebih…)

Agustus 14, 2015 at 1:25 pm Tinggalkan komentar

Berbuka

KOLOM RAMADHAN

Dianing Widya, pegiat sosial di Spirit Kita.

 

Zaman akan terus berubah. Begitu pula cara orang untuk menikmati Ramadhan, terutama di kala berbuka puasa. Dulu, orang berbuka cukup dengan cara yang sangat sederhana: segelas teh manis atau dua-tiga biji kurma, plus jajanan ringan alakadarnya. Lalu, orang buru-buru berwudhu untuk salat magrib. Setelah itu baru masuk ke makanan utama.

 

Namun saat ini berbuka tak ubahnya “merayakan pesta”. Berbuka puasa akan terasa garing kalau hanya dengan teh manis, apalagi dua-tiga biji kurma. Maka, sebagian orang pun kalap untuk menyediakan apa saja di meja makan. Bahkan, jauh-jauh hari, mereka sudah punya sederet “menu” atau “list resto” yang akan dikunjungi dengan orang-orang berbeda.

(lebih…)

Juli 11, 2015 at 2:17 pm Tinggalkan komentar

Sangkan

 

Dianing Widya

DI kampung tak ada yang tak kenal Sangkan. Laki-laki berperawakan tinggi, bertubuh kurus, wajah tirus dengan tulang pipi keras itu memang membuat gentar setiap orang.   Matanya sama sekali tak enak saat bertatapan dengannya. Mata yang tak teduh, mata  itu kadang redup karena minuman keras yang merasuk ke tubuhnya,  terkadang  garang karena amarah.

Sangkan gemar membuat keonaran. Setiap hari pekerjaannya keliling pasar mengambil paksa dagangan orang untuk memenuhi keperluan dapur. Pekerjaan resminya menjaga parkir sepeda di atas lahan warisan, di depan pasar dengan tarif harga pas. Artinya tak melayani kembalian. Berapa pun uangnya tak akan dikembalikan kelebihannya.

(lebih…)

Juli 3, 2015 at 1:44 pm Tinggalkan komentar

Menghargai Perempuan

 

Dianing Widya, novelis dan pegiat sosial di Spirit Kita, @dianingwy

 

Aceh tak pernah bosan menjadikan dirinya sebagai “selebritis” kontroversial dalam membuat kebijakan yang merugikan perempuan. Tak henti-hentinya para elite Aceh menjadikan perempuan sebagai obyek kebijakan. Teranyar adalah pemberlakuan “jam malam” bagi perempuan oleh Wali Kota Banda Aceh, Hj. IIIiza Saaduddin Djamal. Jam kerja perempuan di sejumlah bidang di malam hari dibatasi hingga pukul 23.00.

 

Ini menambah panjang daftar kebijakan “aneh” di tanah rencong. Sebelumnya, Wali Kota Lhokseumawe mengeluarkan kebijakan agar perempuan tidak duduk ngangkang ketika berboncengan sepeda motor. Kebijakan ini pun sempat membuat sang wali kota sekaligus daerahnya menjadi terkenal. Sang wali kota pun dianggap “kurang kerjaan” sehingga ia “mencari-cari kerjaan”.

(lebih…)

Juni 25, 2015 at 4:20 pm Tinggalkan komentar

Rindu Azan

Rindu Adzan

Dianing Widya

 

SUARA adzan membosankan akhir-akhir ini. Gemanya memekakkan telinga. Betapa tidak, dalam sehari lima kali beberapa masjid di dekat aku tinggal berlomba-lomba mengeraskan suara saat menggemakan adzan. Dari sekian muadzin tak satu pun yang alunannya menggetarkan hati. Rata-rata dari mereka bersuara tak merdu bahkan cenderung berteriak. Pening mendengarnya, terlebih rumahku berada di samping masjid. Persisnya di sebelah bilik kecil tempat marbot tinggal.

Kadang aku berpikir apakah Tuhan itu sangat jauh, hingga untuk memanggilnya diperlukan pengeras suara? Entahlah.

(lebih…)

Juni 23, 2015 at 1:05 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

September 2016
S S R K J S M
« Sep    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

TELAH DIBACA

  • 100,467 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy