Charlie Hebdo

Januari 19, 2015 at 3:01 pm Tinggalkan komentar

LAMA nggak ketemu sama mbak In, bikin kangen. Mumpung  ada waktu untuk keluar rumah, saya menyempatkan diri mengunjunginya. Baru membuka pintu, mbak In sudah di depan mata. Selalu ada yang ia bawa jika ke rumah. Tas berwarna putih dari kertas tebal bergambar setangkai mawar lengkap dengan tulisan “Rose”.

Mba In langsung menuju kursi yang kami tata di teras. Menaruh bingkisan di atas meja. Kami duduk saling berhadapan.

“Ada titipan dari Pertiwi buatmu.” Saya tergoda membuka bingkisan itu. Ternyata miniatur menara Eiffel. Saya memandanginya bukan lagi dengan takjub, melainkan dengan dahi mengkerut. Miniatur di tangan kanan ini mengingatkan majalah Satire Charlie Hebdo yang kantornya diberondong tembakan, lalu sepuluh orang meninggal dan belasan lainnya luka-luka. Lama saya memperhatikan miniatur menara ini, seraya mengingat kartun-kartun yang menusuk perasaan itu.

“Sudah. Lupakan. Jangan diambil hati. Mereka itu orang sakit.” Sekarang perhatianku ke mbak In. Tetangga sekaligus teman baik buat ngobrol ngalor ngidul ini selalu tahu isi pikiranku. Aku menaruh dan mendorong pelan miniatur Eiffel. Berkarya adalah kebebasan seseorang untuk menumpahkan apa yang ada dalam pikiran, hati dan perasaan. Tapi kebebasan itu tetap ada etika dan batasan norma-norma. Kebebasan bukan kesempatan untuk menyakiti atau pun menyinggung perasaan yang lainnya.

“Kan sudah aku bilang mereka itu orang-orang sakit.” Aku menautkan kening, memandangi wajah teduh mba In yang biasa-biasa saja. Tak ada garis-garis yang menunjukkan dia seorang paranormal, dukun atau sejenisnya.

“Mestinya kita berterimakasih kepada Charlie Hebdo.”

“Lho mba In bilang mereka itu orang sakit.”

“Ya memang. Bagaimana nggak sakit, wong tokoh terhormat, junjungan umat, kok direndahkan melalui kartun-kartunnya. Sakit to. Tapi, bukan Rasul saja yang dibuat kartunnya. Tokoh lain juga.” Saya dengar kalimatnya yang mengandung ledakan lembut dari dalam hati mba In. Lalu terdengar helaan nafasnya yang memanjang, terhembus pelan-pelan.

“Tapi kita tak perlu ikut sakit, dengan berbuat anarkis kepada mereka. Rasul menyuruh kita untuk tetap menyayangi musuh-musuh kita.” Saya menunduk. Terdengar kalimat mba In selanjutnya.

“Semestinya kita berterimakasih kepada Charlie. Merekalah yang menempa batin kita untuk tetap sabar. Merekalah yang menguji iman dan keindahan akhlak kita melalui hinaan mereka. Seyogyanya kita tak terpancing untuk marah. Biarkan saja mereka bahagia dengan kegemaran merendahkan orang lain. Jika kita tak terpancing, dan tetap santai menghadapi mereka, bukan tidak mungkin mereka akan capek dan berhenti sendiri.”

Saya agak pusing mendengar kalimat panjang mba In. Aneh. Wong dihina kok malah berterimakasih. Tapi, saya juga ingat cerita guru agama dulu, bahwasannya Rasul berkali-kali diludahi oleh orang yang membencinya. Ketika orang yang meludahinya sakit, rasul  datang menengoknya. Rasul mengenalkan Islam dengan keindahan akhlaknya, bukan dengan membalas tindakan mereka yang tak menyenangkan.

 

Entry filed under: ARTIKEL RINGAN. Tags: .

LAPORAN KEUANGAN 1 Sept – 23 Nov 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2015
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: