Andai Saya jadi Bupati Batang

Mei 23, 2008 at 1:27 pm 10 komentar

Hmm, paling enak bila kita berandai-andai. Tapi berandai -andai saya kali ini menyimpan harapan pada tanah kelahiran saya, Batang. Kota kecil di Jawa Tengah, yang sedikit orang mengenalnya.
Setiap kali saya ditanya berasal dari mana?, dan setiap kali saya jawab Batang, beragam pertanyaan muncul mengiringinya. Seolah-olah Indonesia tercinta ini tak memiliki wilayah bernama Batang. Seringkali saya harus memberi embel-embel Pekalongan setelah menyebutkan nama Batang, baru orang yang bertanya asal-usul saya ngeh, alias paham. Ada yang berseloroh, masak sih Dianing dari Batam, kok logat jawanya medok buanget ya. Ya iyalah orang Batang Mbak, Batang ngono lho bukan Batam nun jauh di sana.
Ok, kalau saya jadi bupati Batang, pertama yang hendak saya lakukan adalah memperhatikan soal pendidikan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin menemukan orang-orang miskin di Batang, mendata mereka dan menyekolahkan anak-anak mereka sampai SMU. Gratis. Di samping itu saya akan mendatangkan para ahli untuk membina mereka agar bisa mengembangkan bakat mereka. Pengembangan bakat ini sebagai modal untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Limapuluh persen dari biaya kuliah akan ditanggung pemda, selebihnya mereka usahakan sendiri dengan bekerja sesuai kemampuan atau bakat mereka. Karena hanya dengan pendidikanlah kehidupan yang lebih layak, bermartabat bisa diwujudkan.
Selain pendidikan saya akan memperhatikan bidang ekonomi. Perekonomian Batang akan saya bangun dengan berpihak kepada rakyat kecil. Saya akan memakmurkan pasar tradisional dan menatanya agar lebih rapi dan bersih. Saya tidak akan mengizinkan investor membangun swalayan di Batang. Karena dengan adanya swalayan di Batang akan merugikan bagi pedagang kecil atau pengecer di sekelilingnya. Kerugian atau penurunan omset bagi pedagang kecil akan berpengaruh pada pendidikan anak. Orang tua bisa saja beralasan tidak sanggup menyekolahkan anak karena menderita kerugian.
Di sisi lain dengan berdirinya swalayan di Batang akan membentuk anak-anak atau orang-orang Batang terjerumus ke dalam budaya konsumerisme.

Andai saya jadi bupati Batang, saya akan menggerakkan budaya membaca. Setiap bulan pemda akan membagikan minimal empat buku untuk satu keluarga yang wajib dibaca. Dengan asumsi satu buku dibaca untuk satu minggu. Saya akan melakukan kunjungan mendadak. Bagi warga yang ketahuan sedang membaca buku, koran, majalah akan saya beri hadiah berupa uang limapuluh ribu rupiah ha ha ha. Mengapa? Karena saya ingin rakyat yang saya pimpin menjadi manusia-manusia yang cerdas.
Saya akan membangun toko buku yang menjual buku-buku sastra, sosial, sains, filsafat, ekonomi, politik, agama dan sebagainya (tidak hanya jual buku primbon). Di samping itu saya akan membangun sebuah gedung kesenian yang megah di Batang. Setiap bulan akan saya agendakan kegiatan kesenian di Batang. Saya akan mengundang penyair, cerpenis, novelis, pemikir, dari berbagai penjuru tanah air ke Batang untuk memberi rangsangan kepada anak-anak muda Batang untuk bisa berkarya. Di samping itu dengan adanya kegiatan berskala nasional di Batang, akan membuat kota Batang dikenal. Wuih keren buanget.
Apa lagi ya, kalau saya jadi bupati Batang saya akan dirikan perpustakaan dan mengajak warga saya untuk menjadi anggota. Kepada orangtua saya akan meminta untuk membuat anggaran belanja buku setiap bulannya. Pendek kata saya akan mengajak warga saya gemar baca. Terlebih untuk anak-anak mudanya.
Udah ah, capai berandai-andai aja.

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Surat Terbuka untuk SBY-JK Bersama Kita Bisa makin Menderita

10 Komentar Add your own

  • 1. adhi  |  Januari 10, 2009 pukul 4:40 am

    semoga kalo jadi bupati Batang jangan jadi koruptor ya mbak … !!! Kayak bupati yang sekarang 🙂

    Balas
  • 2. dianing  |  Februari 7, 2009 pukul 4:06 am

    Hehehe saya jadi bupati Batang, tak bangun gedung kesenian di Batang.

    Balas
  • 3. Tiko  |  Desember 23, 2010 pukul 11:22 am

    Memang batang harus ada perubahan besar. saya setuju ide saudara.

    Balas
    • 4. dianing  |  Desember 25, 2010 pukul 1:47 pm

      Terimakasih Mas Tiko. Salam.

      Balas
  • 5. panggiring  |  Januari 28, 2011 pukul 2:27 pm

    mimpinya muantebz 🙂
    ku do’akan semoga terealisasi 🙂

    Balas
    • 6. dianing  |  Maret 3, 2011 pukul 12:15 pm

      he he …

      Balas
    • 7. dianing  |  Maret 26, 2011 pukul 4:54 pm

      Mimpi di siang bolong mas PAnggiring.

      Balas
  • 8. Midi Bens  |  Mei 9, 2011 pukul 6:39 pm

    Sekarang saat tepat Unruk Mimpi …. jadi Bupati Batang

    Balas
  • 9. Budi  |  Agustus 12, 2011 pukul 8:05 am

    Kalo aku gak bisa jadi bupati,tapi aku wong mbatang aku akan selalu katakan kepada semua orang batang dimanapun aku berada

    Balas
    • 10. dianing  |  September 6, 2011 pukul 1:53 pm

      Iya,kita bangga jadi wong Batang 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2008
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 103,230 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Salut untuk pak Ahok, tampak lugas, santai, realistis tak terbawa emosi. Malam yang cukup berkeringat di Metro TV :) 1 day ago
  • Bahagia itu sederhana, seperti menjawab pertanyaan teman mahasiswa via WA,yg menggunakan novel Nawang, untuk tugas kuliah terakhir/ skripsi. 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 4 Maret 2017 Spirit Kita membayar angsuran biaya ujian sebesar Rp 700.000 untuk Yara. SMK AMEC, Keperawatan. Trims 2 weeks ago
  • RT @spirit_kita: 11 Maret 2017 Spirit Kita mendapat donasi dari Sahabat @spirit_kita , Rp 25.000 langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahab… 2 weeks ago
  • Berjanji lalu tak bisa menepati. Meminta maaf lalu berulangkali melakukan salah yang sama. 3 weeks ago

%d blogger menyukai ini: