Bendera

Agustus 24, 2014 at 2:12 pm Tinggalkan komentar

Dianing Widya, novelis dan pegiat sosial, @dianingwy

 

MEMASUKI bulan Agustus, aroma perayaan hari kemerdekaan kian mengental di setiap lingkungan dan kampung. Mulai dari lomba-lomba yang khas Agustusan hingga umbul-umbul dan bendera. Warga sukarela mengumpulkan dana untuk berbagai kegiatan guna menyambut hari kemerdekaan. Merdeka itu bahagia, bebas dari kerangkeng penjajah. Kemerdekaan merupakan modal dasar untuk menentukan sikap dan mengatur langkah membangun bangsa.

Sayangnya, ada hal yang luput dari perhatian kita. Kita seringkali abai bagaimana memperlakukan bendera. Misalnya, soal waktu pengibaran. Menjelang 17 Agustus, misalnya, orang-orang memasang bendera seminggu sebelumnya dan tidak pernah diturunkan. Padahal, menurut Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1958, lamanya waktu pengibaran hanya 12 jam, pukul 06.00 hingga 18.00.

Hal itu dipertegas lagi  dalam  Pasal 7  UU No  24  Tahun 2009 tentang Bendera bahwa (1) pengibaran bendera dilakukan pada waktu antara matahari terbit hingga matahari terbenam.

Selain itu, di masyarakat kita, penghormatan  terhadap sang saka merah putih sangat kurang. Contoh kecil, orangtua yang mengantar anak ke sekolah di Senin pagi, tetap asyik bercengkerama meskipun lagu Indonesia Raya tengah dikumandangkan seiring pengibaran bendera merah putih. Kita sering menganggap “biasa saja” bendera itu, padahal dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata.

Karena bendera itu begitu istimewa, seharusnya perlakuannya juga sangat istimewa. Ia tidak sekedar simbol negara, tapi juga merupakan simbol perjuangan, cita-cita, heroisme, hingga harkat dan martabat bangsa. Ia adalah wujud dari keseluruhan kehidupan kita. Ia  identitas bangsa dan alat komunikasi di kancah internasional.

Maka itu, di Jawa, berkembang persepsi yang begitu mendalam tentang arti bendera itu. Misalnya, ada yang mempersepsikan bahwa bendera diambil dari warna gula kelapa. Ini bisa merujuk pada Keraton Susuhunan Paku Buwono yang menggunakan simbol Timur – Selatan yang dilambangkan dengan gula kelapa.

Ada juga cerita yang mengatakan saat Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan terhadap Belanda, rakyat mengibarkan umbul-umbul merah putih sebagai wujud dukungan. Selain itu, dalam kebiasaan masyarakat Jawa, pada bulan tertentu membuat selamatan dengan mengirim bubur abang putih (berwarna merah-putih) ke para tetangga.

Namun sayangnya, belakangan pelan-pelan bendera menjadi sekedar asesoris belaka di hari kemerdekaan. Perayaan Agustusan di banyak tempat dan kampung-kampung lebih menonjolkan “hura-hura” di luar makna kemerdekaan yang lebih substansial: lomba-lomba, panjat pinang, balap karung, makan-makan, dan seterusnya. Arti kemerdekaan menjadi bergeser menjadi semata pesta.

Kita jarang melihat ada perayaan yang lebih khitmat di kampung-kampung kita: misalnya upacara bendera, hening cipta hingga kunjungan ke makam pahlawan (tidak hanya nasioanal tapi juga pahlawan lokal yang begitu banyak jumlahnya). Lomba-lomba juga tak salah, karena itu bagian dari kegembiraan.

Tapi alangkah makin khitmatnya  hari kemerdekaan jika ditambahkan dengan lomba-lomba yang tak hanya berbau hura-hura tapi lebih punya makna.  Misalnya, lomba baca atau cipta puisi tentang pahlawan, lomba menulis tentang Agustusan, lomba cerdas-cermas tentang perjuangan, dan sejenisnya.

Bahkan, kita bisa mengisi pesta kemerdekaan itu dengan menyantuni orang miskin dan papa – salah satunya dengan membantu atau memberi beasiswa kepada anak-anak mereka– agar mereka betul-betul merdeka. Kemerdekaan yang sesungguhnya jika semua warga negara Indonesia bebas dari hal-hal yang membelenggu dan memenjara, termasuk kemiskinan dan kebodohan.

Itulah sesungguhnya makna lebih substansial dari sebuah bendera – sebagai simbol kita telah (benar-benar) merdeka. ***

 

KORAN TEMPO, Sabtu 16 Agustus 2014

Entry filed under: Opini. Tags: .

Kampanye di Media Sosial Lapkeu. Spirit Kita Juni-Agustus 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jun   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: