Anak Kita

September 19, 2014 at 2:17 pm Tinggalkan komentar

 

Anak Kita

Dianing Widya, novelis dan pegiat sosial di @spirit_kita

 

AKHIR-akhir ini berita tentang beragam pelanggaran hak asasi anak tak henti menyerbu kita. Mulai dari pemukulan, pemerkosaan sampai mutilasi sudah sangat sering terdengar. Kasus terakhir yang ramai disorot adalah penyiksaan anak di sebuah tempat penitipan di Jakarta. Ini membuat kita makin cemas: tempat yang seharusnya terawasi dengan baik dan aman pun bisa terjadi kekerasan.

Tampaknnya ada yang menyimpang dalam tatanan kehidupan sosial kita. Pelaku-pelaku kekerasan sulit dikenali. Ia sering datang dari lingkungan keluarga, tetangga, orang dekat dan sebagainya. Ia bisa berwujud pengasuh, pembantu, tetangga, teman, bahkan saudara dan orang tua sang anak itu sendiri. Dan kekerasan itu bisa muncul tiba-tiba, tanpa sempat kita antisipasi, karena kita begitu percaya pada mereka. Namun melihat kasus-kasus itu, tampaknya kita perlu meningkatkan kewaspadaan.

Dulu, sesama tetangga kita bisa saling menitipkan anak ketika hendak bepergian ke pasar atau ke sekolah. Meski si orangtua menitipkan anak hanya ke satu orang, kenyataannya tetangga lain ikut menjaga anak kita. Ini membuat anak-anak kita terlindungi oleh banyak orang. Secara naluriah mereka menganggap anak orang lain itu juga anak mereka sehingga dijaga dengan tulus. Dengan kata lain, kerekatan dan kerjasama sosial bisa membuat anak makin terlindungi.

Tapi kini, apalagi di kota, kesibukan orang tua, membuat rekatan itu tidak sekuat dulu. Antar tetangga pun paling-paling bertemu pada hari libur. Itu pun dengan intensitas yang rendah. Orang sibuk dengan urusan masing-masing, tidak sempat lagi berinteraksi dan berkomunikasi. Sehingga, kontrol terhadap sekeliling pun menjadi lemah, termasuk kontrol terhadap ancaman-ancaman kekerasan terhadap anak-anak mereka, yang mereka tinggalkan di rumah bersama pembantu atau orang lain saat mereka bekerja.

Selain itu, satu hal yang perlu juga diingat bahwa kekerasan terhadap anak yang masif ini, tak datang tiba-tiba. Itu bisa bermula dari perilaku kekerasan berkategori “kecil-kecilan” seperti mencubit ketika sedang rewel, hingga memukul karena anak dianggap nakal. Dan di masyarakat, mencubit dan memukul anak dianggap menjadi hal biasa. Padahal tindakan itu bisa  berakibat fatal, apalagi jika emosi tak terkontrol.

Kita, misalnya, menjadi tidak punya empati melihat ada anak tentangga yang ‘dikerasi” orang tuanya. Kadang saat ingin menegur, kita merasa tak enak karena takut dianggap ikut campur urusan “dalam negeri” tetangga. Hal-hal remeh itu, akhirnya menjadi bom waktu. Secara tidak sadar kita telah ikut andil dalam pembiaran kasus kekerasan itu.

Di luar itu, orangtua begitu cepat mempercayakan anak kepada orang baru, yang belum diketahui karakter dan latar belakangnya, juga bisa berakibat fatal. Bahkan, tekhnologi ikut andil terhadap adanya kekerasan anak. Konten-konten kekerasan yang bisa hadir lewat perangkat digital, entah komputer, tablet, hingga telepon genggam, bisa mendorong terjadinya  beragam bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

Tapi bukan berarti kita menjadi harus selalu memasang sikap curiga kepada orang lain. Juga tidak perlu memproteksi terlalu berlebihan anak-anak kita. Terpenting adalah sikap waspada dan menguatkan kembali rekatan dan relasi sosial di lingkungan kita. Sehingga, dengan kebersamaan itu, kita selalu punya rasa tanggungjawab untuk saling menjaga. Kita juga boleh saja memberi perangkat digital kepada anak atau membiarkan mereka bermain dan berekspresi, terpenting kita bisa mengontrolnya. ***

 

KORAN TEMPO

Edisi Sabtu, 13 Stmber 2014

Entry filed under: Opini. Tags: .

Lapkeu. Spirit Kita Juni-Agustus 2014 Memaknai Ulang Kurban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

September 2014
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

TELAH DIBACA

  • 101,550 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 14 hours ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 2 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: