Memaknai Ulang Kurban

Oktober 25, 2014 at 12:57 pm Tinggalkan komentar

 

 

BAHASA  iklan adalah wajar jika bombastis dan berlebihan. Tetapi terasa sangat tidak pas ketika bahasa itu digunakan dalam konteks mengajak orang beribadah. Salah satu contoh, misal, kalimat singkat iklan kurban bertuliskan “Kuantar Kau Ke Surga” lengkap dengan gambar sapi, yang pada punggungnya disertakan sofa nyaman. Hewan ternak itu harus menanggung beban (berjalan ke surga) orang yang mengorbankannya.

Iklan ajakan berkurban ini sepintas wajar saja. Tetapi jika kita telisik lebih dalam lagi, iklan itu ingin berkata bahwa surga amatlah mudah dan murah. Jika kita ingin masuk surga, cukup dengan membeli seekor hewan ternak – atau sapi dalam iklan itu. Seolah, tiket ke surga cukup hanya dengan berkurban. Sehingga kentara sekali agama akhirnya dijadikan bahan komoditi dengan surga sebagai iming-iming.

Tuhan pun dinafikan. Antara masuk atau tidak orang ke surga, bukan lagi kuasa Tuhan, melainkan kuasa iklan. Tuhan, dalam bahasa iklan itu, menjadi tak berdaya. Sebab, siapa pun yang berkurban, sudah punya tiket ke surga. Makna kurban disederhanakan sedemikian rupa sehingga makna sosialnya hilang sama sekali. Orang berkurban bukan untuk menyantuni kaum papa, tapi untuk membeli kendaraan ke surga.

Memang, makna berkurban terus bergeser. Idul Adha bukan lagi dimaknai sebagai pengingat manusia untuk turut memikirkan kesejahteraan kaum papa. Idul Adha dirayakan sebagai ritual keagamaan saja. Sekedar mengikuti kebiasaan nabi menyembelih domba, untuk dibagikan kepada kaum dhuafa. Bedanya, jika pada zaman nabi, daging kurban memberi dampak langsung kepada kaum dhuafa, yakni bisa merasakan mewahnya makan daging domba, kini justru sekaligus jadi ajang hura-hura.

Lihatlah pada hari penyembelihan, seperti sebuah pameran massal, orang-orang ramai mengkonsumsi daging kurban, entah dibakar jadi sate atau lainnya. Di lain pihak, orang-orang papa terpaksa berdesak-desakan, berpanas-panasan, bahkan ada yang menjadi korban, ketika harus mengantri sekilo-dua kilogram daging kurban. Padahal daging kurban melimpah ruah karena penyembelihan dilakukan di mana-mana, mulai mushala hingga sekolah dan lembaga-lembaga swasta dan pemerintah.

Sehingga ratusan ribu, mungkin juga jutaan ternak, rebah dan habis dikonsumsi dalam sehari. Padahal jika dikelola secara lebih kreatif, jumlah sebanyak itu akan lebih terasa dampaknya bagi pemberdayaan kaum papa, tidak cuma menguap sehari.  Misalnya, hewan-hewan kurban yang ada tidak semua dipotong, hanya dipotong sesuai kebutuhan bagi orang miskin saja. Jadi selain orang miskin, tidak mendapatkan jatah. Sehingga tidak perlu ada pesta sate tiap rumah pada hari kurban.

Lalu sisa dari hewan itu bisa digunakan untuk kegiatan produktif dan lebih strategis bagi kalangan tak berdaya, misalnya untuk beasiswa pendidikan anak-anak tak mampu, modal kerja orang miskin, hingga untuk menyantuni orang-orang terlantar, kesehatan, dan yang terkena bencana, dan sebagainya. Bahkan, bisa jadi pula, sebagian hewan kurban itu bisa dikonversikan dengan uang, sehingga makin mudah pula pengelolaannya.

Jika hal ini dilaksanakan, jelas kurban akan lebih bermanfaat nyata. Tak ada anak putus sekolah, tak ada orang miskin, tak ada orang terlantar, tak ada orang miskin yang sakit tak mendapatkan pengobatan. Pendek kata, kita perlu mendifinisikan kembali dan memaknai secara lebih subtantif kurban agar sesuai dengan semangat dan kebutuhan zamannya. Sehingga ia tidak sekedar ritual agama, apalagi sekedar pesta. ***

 

Entry filed under: Opini. Tags: .

Anak Kita LAPORAN KEUANGAN 1 Sept – 23 Nov 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2014
S S R K J S M
« Sep   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 101,550 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 14 hours ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 2 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: