Perspektif Jender dalam Sastra Islam

Januari 10, 2008 at 11:00 am 2 komentar

Sumber:
Republika, Minggu, 30 Desember 2007 (bagian pertama), Minggu, 06 Januari 2008 (bagian kedua/terakhir)

Perspektif Jender dalam Sastra Islam
Bagian pertama dari Dua Tulisan

BSW Adjikoesoemo, alumnus Filsafat UGM
Ketua Forum Indonesia Bangkit

DEWASA ini fenomena sastra Islami, terutama fiksi Islami, kerap menjadi wacana dalam berbagai forum diskusi dan media massa. Namun, sejauh ini belum ada tulisan atau diskusi yang secara khusus menyorot tentang perspektif jender dalam sastra Islami. Pembicaraan lebih banyak menyorot fenomena, potensi pasar, dan kekuatannya sebagai wacana alternatif untuk ‘menandingi’ fiksi sekuler yang belakangan juga marak di Indonesia dan umumnya ditulis oleh kaum perempuan.

Penyebutan ‘sastra Islami’ atapun ‘fiksi Islami’ sebenarnya juga masih menunjukkan wilayah yang kabur, karena sifat Islami dalam sastra bisa saja ditunjukkan oleh karya-karya sastra dari kalangan non-Muslim, seperti sajak-sajak Kahlil Gibran, Gothe, dan bahkan sajak-sajak Tagore. Jadi, tidak hanya merujuk pada karya-karya sastrawan Muslim, semisal Najib Khaelani, Rumi, Kuntowijoyo, atau para penulis fiksi dari Forum Lingkar Pena (FLP) yang berjasa mempopulerkan istilah ‘fiksi Islami’ itu.

Karena itu, untuk kepentingan pembicaraan prespektif jender dalam sastra Islam, saya sengaja mempertegas wilayah pembicaraan dengan penyebutan ‘sastra Islam’. Sebagaimana pernah dikemukakan Ahmadun Yosi Herfanda dalam beberapa diskusi di Yogyakarta, yang dimaksud dengan ‘sastra Islam’ adalah karya-karya sastra yang lahir di dunia Islam dan ditulis oleh sastrawan Muslim serta menawarkan nilai-nilai yang Islami.

Dengan definisi ‘sastra Islam’ seperti di atas, saya akan mencoba melihat secara acak dan sepintas persepektif jender dalam sastra Islam sejak dari karya-karya Nawal el-Sadawi (Mesir) sampai karya-karya sastra Indonesia terkini, terutama oleh para perempuan penulis yang memang lebih banyak berbicara masalah jender dibanding laki-laki. Sebut saja, misalnya, karya-karya Pudji Isdriani, Helvy Tiana Rosa, Wa Ode Wulan Ratna, Asma Nadia, dan beberapa penulis FLP lainnya.

Berbicara tentang perspektif jender dalam sastra Islam, kita memang tidak dapat melewatkan karya-karya Nawal el-Sadawi, seperti Perempuan di Titik Nol, yang sangat menggetarkan. Siapapun kaum perempuan yang membaca novel tersebut akan terdorong untuk bangkit guna melawan diskriminasi jender dan menolak penindasan kaum laki-laki terhadap kaumnya (perempuan).

Kenyataannya, diskriminasi jender, penempatan perempuan sebagai subordinasi lelaki, dan penempatan lelaki sebagai yang berkuasa, memang sangat kental di dunia Islam tradisional yang berbudaya patriarkhi. Budaya demikian sangat tampak di dunia Islam, sejak di kawasan Timur Tengah sampai Asia Tenggara, termasuk di Nusantara.

Diduga, budaya patriarkhi, yang menempatkan perempuan sebagai ‘pelayan’ lelaki, itu merupakan pengaruh bersama antara budaya Barat yang sekuler dan budaya feodal dari kaum bangsawan dan kerajaan-kerajaan Timur yang kemudian ‘diadopsi’ secara tersembunyi oleh kesultanan-kesultanan Islam yang mengalami degradasi nilai. Suatu tradisi budaya yang sesungguhnya tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sejati, yang sesungguhnya muliakan kaum perempuan sebagai ‘ibu kehidupan’.

Nawal el-Sadawi, yang kebetulan berprofesi sebagai dokter, melihat realitas yang amat menyedihkan yang dialami oleh kaum perempuan yang hidup di tengah-tengah masyarakat tradisional Mesir. Seperti tergambar dalam novel Perempuan di Titik Nol, kaum perempuan Mesir mengalami diskriminasi jender yang sangat menyedihkan. Dalam banyak hal, mereka harus mengutamakan kaum lelaki, bahkan dalam soal makan pun mereka harus mengalah dan mendahulukan kaum lelaki. Bersamaan dengan itu, karena ditempatkan sebagai ‘kaum kelas dua’, perempuan sering menjadi korban pelecehan seksual kaum lelaki, dan mereka tidak dapat berbuat banyak selain diam dan tunduk pada kekuasaan lelaki.

Melihat nasib kaumnya yang sangat menyedihkan, Nawal el-Sadawi terpanggil untuk mencatat kesaksian, menyodorkan realitas pahit yang berabad-abad tersembunyi, dan mendorong proses perubahan, melalui karya sastra (novel). Karya-karyanya, yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia, seperti Perempuan di Titik Nol, Matinya Sang Penguasa, Memoar Seorang Dokter Perempuan, dan Catatan dari Penjara Perempuan, membuka mata jutaan manusia dari dunia Islam untuk menyadari keadaan untuk melakukan perubahan. Melalui novel-novelnya, Nawal el-Sadawi hendak membebaskan kaum perempuan dari penindasan kaum lelaki.

Karya-karya Nawal el-Sadawi sudah lama (sejak awal 1990-an) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, pengaruh semangat pembebasannya belum begitu terasa dalam sastra Indonesia, termasuk yang ditulis oleh para sastrawan perempuan semacam Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Karya Helvy, seperti novel Ketika Mas Gagah Pergi, dan beberapa karya Asma Nadia, secara tidak langsung memang menyinggung persoalan jender, tetapi dengan penggambaran yang sangat lembut sehingga malah terkesan membela budaya patriarkhi.

Karya-karya lain, seperti novel Memory in Sorong, memang secara jelas juga mengangkat persoalan jender, tapi lebih terseret ke persoalan poligami. Melalui novel ini, secara tegas Pudji menolak poligami, sambil mencoba memahami kenapa seorang lelaki yang jauh dari istri terpaksa berselingkuh. Namun, ketika perselingkuhan mengarah ke pernikahan (poligami), dengan tegas sang istri menolaknya, dan kalau perlu ‘melenyapkan’ saingannya. Perempuan (istri) menjelma menjadi wanita yang tegar dan keras ketika harus mempertahankan suami demi keutuhan keluarganya.

Pada beberapa fiksi Indonesia terkini, yang ditulis oleh pengarang perempuan Muslim, potret perempuan sebagai kaum yang harus tunduk pada adat dan kekuasaan lelaki juga masih kerap muncul, terutama pada cerpen dan novel yang mengangkat kekayaan lokal. Sebagai contoh adalah cerpen La Runduma karya Wa Ode Wulan Ratna. Tokoh utama (perempuan) dalam cerpen ini harus tunduk pada adat untuk dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tua. Tetapi, sang gadis ‘berontak’ dan melarikan diri. Jadi, sudah berbeda dengan fiksi era Siti Nurbaya, saat perempuan hanya bisa pasrah dalam kekuasaan adat dan kaum lelaki.

Bagian kedua:

Potret Buram Nasib Perempuan dalam Sastra
Bagian Terakhir Dari Dua Tulisan

BSW Adjikoesoemo
Alumnus Filsafat UGM
Ketua Forum Indonesia Bangkit

Nasib kaum perempuan Indonesia di tengah dominasi budaya patriarkhi dapat ditelusur sejak roman Siti Nurbaya (1920) karya Marah Rusli yang terbit pada masa pra-Pujangga Baru. Menjadi representasi dari keadaan zamannya, dalam novel itu perempuan digambarkan dalam posisi yang lemah dan menjadi ‘korban’ kepentingan orang tua, adat, dan nafsu lelaki. Untuk melunasi hutang ayahnya, Siti Nurbaya harus menikah dengan Datuk Maringgih, lelaki tua yang sudah bau tanah.

Meskipun ditulis oleh pengarang lelaki, dan tidak secara jelas membela kaum perempuan, novel tersebut sebenarnya dapat dimaknai sebagai suatu ‘kesaksian zaman’ tentang nasib kaum perempuan. Karena itu, dalam jangka panjang kesaksian itu dapat mengundang empati terhadap nasib kaum perempuan, dan pada akhirnya akan mengundang pembelaan. Kenyataannya, pada pasca-kolonialisme, Siti Nurbaya cukup memberi inspirasi untuk mendorong kebangkitan kaum perempuan agar tidak bernasib seperti Siti Nurbaya.

Namun, pada kenyataannya pula, dalam rentang sejarah sastra Indonesia yang cukup panjang, lebih banyak karya sastra Indonesia, karya para penulis Muslim atau bukan, lebih banyak menempatkan perempuan dalam posisi tertindas. Kondisi tersebut, jelas memberikan pencitraan negatif pada perempuan sebagai ‘mahluk kelas dua’ yang lemah dan gampang dikuasai oleh kaum lelaki. Hingga kini, tokoh-tokoh perempuan kerap ditulis menjadi korban kekerasan, penindasan, perkosaan, dan bahkan pengucilan.

Potret buram nasib perempuan dalam sastra itu terentang sejak masa Siti Nurbaya, dan novel sezamannya, seperti Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar, serta karya-karya para penulis Indo-Belanda dan peranakan Cina yang cukup marak pada abad sebelumnya (1890-an), seperti Nyai Dasima (1890) karya G Francis, Nyai Isah karya F Wiggers, Nona Leonie karya HFR Kommer, dan Rosina karya FDJ Pangemanan. Meski tokoh-tokoh utamanya dilukiskan sebagai perempuan tegar, kaum perempuan di sekitarnya cenderung digambarkan bodoh, miskin, lemah, dan jadi korban budaya patriarkhi. Dalam Surat-Surat Kartini, meskipun ada pesan emansipatoris, perempuan (Kartini), juga digambarkan lemah dan jadi korban budaya patriarkhi.

Ditarik seabad lebih ke masa terkini, potret buram kaum perempuan miskisn, bodoh, dan cenderung jadi korban masih terlihat pada banyak karya sastra Indonesia, termasuk yang lahir dari para penulis Muslimah, seperti Dianing Widya Yudhistira dalam novel Sintren (2007). Tokoh utamanya, Saraswati, adalah gadis cantik yang lemah, bodoh, dan miskin, yang harus menjadi penari sintren dan ‘dikorbankan’ untuk kekuasaan lelaki. Dalam cerpen Jaring-jaring Merah, Helvy Tiana Rosa juga memotret kaum perempuan Aceh yang menjadi korban kekerasan kaum lelaki di tengah konflik bersenjata antara TNI dan GAM. Dalam novel Matahari di Atas Gilli karya Lintang Sugianto, meskipun ada semangat emansipatoris, kaum perempuan rata-rata juga digambarkan lemah, tidak terdidik, dan banyak yang meninggal saat melahirkan.

Tentu tidak terlalu meleset untuk mengatakan bahwa gambaran tentang perempuan dalam sastra Indonesia, juga karya-karya sastra dari dunia Islam serta Negara-negara berkembang pada umumnya, cenderung buram dan menjadi kaum yang tunduk dalam budaya patriarkhi. Belakangan ini, kita dapat membaca makin banyak karya sastra (novel) dari dunia Islam, baik dari kawasan Timur Tengah, Asia, maupun Afrika, dengan gambaran nasib perempuan yang kurang lebih sama.

Gambaran ideal
Upaya untuk menggambarkan sosok perempuan secara lebih ideal, sebenarnya telah kerap juga dilakukan oleh sementara pengarang Indonesia. Dalam novel Layar Terkembang (1936) karya Sutan Takdir Alisyahbana, misalnya, tokoh perempuan (Tuti) digambarkan sebagai sosok yang terpelajar, modern, berpikiran maju, dan menjadi tokoh pergerakan yang tegar. Kaum perempuan ‘memimpin proses perubahan sosial’ kea rah kemajuan bangsanya, khususnya kemajuan kaum perempuan.

Namun, idealisasi sosok perempuan yang ‘bersemangat pembebasan’ seperti itu tidak memiliki mata rantai yang kuat hingga sekarang. Semangat pembebasan kaum perempuan dalam novel-novel mutakhir yang popular, seperti Saman karya Ayu Utami, justru keblinger pada semangat ‘feminisme sempalan’ yang cenderung berorientasi pada ‘kebebesan perempuan untuk menikmati seks di luar nikah dan dari aturan moral’. Pembebasan seperti ini justru mengembalikan posisi perempuan sebagai objek kaum lelaki secara lebih ekstrem. Untungnya, Saman tidak ditulis oleh pengarang Muslim, sehingga kita cukup mengerti saja semangat sekulernya.

Kenyataannya, dalam realitas kehidupan masa lalu dan masa kini, kaum perempuan memang masih cenderung menjadi objek, atau mengobjekkan diri, untuk kaum lelaki. Maraknya bisnis pelacuran, terselubung maupun terang-terangan, juga media-media porno bergambar perempuan telanjang, adalah realitas jender bersisi dua. Pada satu sisi, perempuan menjadi objek kaum lelaki, dan pada sisi lain perempuan sengaja mengobjekkan diri untuk lelaki demi uang. Jadi, perempuan berposisi sebagai objek sekaligus subjek. Apalagi, pada kenyataannya, kebanyakan germo pelacur adalah perempuan juga. Sementara, pada banyak kasus pelecehan seksual, seperti yang menimpa para TKI, kaum perempuan jelas-jelas menjadi korban lelaki, dan mereka sangat layak diselamatkan.

Persoalannya kini adalah bagaimana agar sastra Islam (seperti tema awal tulisan ini) agar dapat menjadi pelopor perjuangan jender yang efektif untuk membebaskan kaum perempuan dari kebodohan, kemiskinan, dan penindasan kaum lelaki. Tentu, bukan pembebasan dalam pengertian ‘bebas dari aturan moral, batasan tabu dan etika seksual’ semacam Saman, tetapi semangat pembebasan yang lebih Islami. Dalam hal ini, pencitraan perempuan yang ‘menokoh’ seperti Tuti dalam Layar Terkembang, dengan sentuhan yang lebih Islami, kiranya lebih cocok untuk Indonesia.

Mungkin itu terlampau ideal, dan agak berjarak dengan realitas. Tetapi, untuk mendorong proses perubahan sosial kaum perempuan di dunia Islam, khususnya di Indonesia, selain dibutuhkan potret nasib perempuan yang senyatanya, sering juga dibutuhkan idealisasi dengan kehadiran sosok-sosok perempuan teladan — perempuan pelopor yang mampu membebaskan kaumnya dari kemiskinan, kebodohan dan penindasan — yang dapat menjadi semacam kiblat mobilitas vertikal mereka. Dan, inilah ‘ranah perjuangan’ yang belum banyak digarap oleh pengarang Muslimah kita. ()

Iklan

Entry filed under: KLIPING.

Sastra Harus Kembali ke Fitrahnya Khatulistiwa Literary Award untuk Buku Prosa dan Puisi Terbaik

2 Komentar Add your own

  • 1. pelanggar  |  Januari 23, 2008 pukul 9:18 am

    mungkin karena bacaanku terhadap karya kaum muslimah sangat terbatas, ya. Namun, beberapa karya yang sempat saya baca, sori belum bisa menunjukkan karya konkret siapa dan judulnya apa, memang tidak muncul ideologi perjuangan pembebasan yang menurutku ideal. Kebanyakan, sesuai bacaanku, cerita2 yang disajikan oleh kelompok feminis Indonesia yang saya tahu, gambaran tentang kelemahan kaum perempuan selalu dijadikan batu loncatan untuk melakukan gagasan kesadaran perlawanan gender.

    Justru, karya-karya ideal sosok perempuan yang kuat, seperti tulisan di atas, banyak saya temui dari karya kaum lelaki… Seperti Pramudya dalam banyak karyanya… Putu Wijaya dalam novel Gadis dan sebagainya… Sekali lagi, mungkin karena keterbatasanku dalam membaca karya sastra…

    Nah, kalau benar dugaan saya, tidak banyak karya kaum feminis yang memberikan corak tanpa mulai dari konteks apa yang dilawan, tapi langsung menunjukkan sosok perempuan yang memang punya latar belakang yang sejajar dengan cerita2 lain tentang sosok laki2 pada umumnya, apakah ini justru menghilangkan semangat kesadaran kaum feminis dalam memperjuangkan kesetaraannya?

    Kalau kecenderungan pemahaman saya, kaum feminis perlu membangun imej kesejajaran posisi gender langsung pada sosok yang sudah sejajar, tanpa harus menunjukkan rintisan perlawanan yang terus diulang2. Biarkan konflik yang berkembang dalam sebuah kisah tersebut benar2 konflik yang natural..

    Balas
  • 2. Sastra-Indonesia.com » Perspektif Jender dalam Sastra Islam  |  September 29, 2010 pukul 3:15 am

    […] Bagian pertama dari Dua Tulisan BSW Adjikoesoemo * https://dianing.wordpress.com/Republika […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 103,212 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: