Kampanye di Media Sosial

Juni 4, 2014 at 3:33 pm Tinggalkan komentar

 

Dianing Widya, novelis dan pegiat sosial, @dianingwy

 

KEBERADAAN media sosial tidak hanya memudahkan orang untuk saling berinteraksi, tetapi sekaligus menjadi media untuk  mempengaruhi. Salah satunya seperti dilakukan para tim pemenangan para calon presiden yang akan bertarung pada 9 Juli nanti. Mereka terus menampilkan “iklan-iklan” yang bisa mendongkrak popularitas atau tingkat keterpilihan calonnya. Apa pun kegiatan positif yang dilakukan oleh calon presiden, langsung dikabarkan pada detik itu juga melalui media sosial.

Ironisnya, mereka (para pendukung) tidak hanya mengabarkan sisi positif calon yang didukungnya, tapi juga menciptakan fitnah dan desas-desus yang menghantam calon lain. Bahkan, jika diperhatikan, yang lebih banyak muncul justru bukan informasi positif yang bisa mengangkat si calon, justru tudingan negatif yang menyerang lawan.

Akibatnya,  kita tidak banyak tahu apa saja program calon tersebut, bagaimana ia bisa membawa Indonesia ke arah lebih baik, bagaimana komitmennya terhadap hukum, HAM, antikorupsi, pendidikan, dan seterusnya. Bahkan, tim media sosial mereka (yang khusus dibayar oleh tim pemenangan calon) maupun pendukung di luar struktur tim resmi (tidak dibayar) lebih banyak mengobarkan “perang” di media sosial.

Anggota “tim bayaran” maupun “tim gratisan” ini nyaris lebih banyak tenggelam dalam perdebatan yang tak produktif. Mereka lupa bahwa mereka adalah “wakil” dari calon yang mereka dukung. Dalam relasi ini, sesungguhnya, apa yang dilakukan oleh tim sukses (termasuk tim media sosial) merepresentasikan apa yang dipikirkan oleh sang calon. Ia merupakan perpanjangan-tangan sang calon.

Boleh saja sang calon menyatakan ia tidak tahu menahu dengan aktivitas tim media sosialnya atau relawannya. Namun, publik tidak perlu tahu apakah apa yang dilakukan itu improvisasi mereka sendiri atau atas “petunjuk” sang calon. Dengan kata lain, publik tidak mau tahu terhadap proses, yang mereka tahu adalah hasil atau apa yang terlihat dan berada ke permukaan.

Sehingga apa yang muncul di hadapan publik, termasuk di media sosial, masyarakat akan melihat bahwa seperti itulah yang sesungguhnya terjadi. Tidak mudah memilah apakah sang calon “tahu” dengan ”tidak tahu” aktivitas pendukungnya. Sejauh tidak ada sanggahan dari sang calon, maka apa yang dilakukan oleh tim suksesnya (termasuk tim media sosial) bisa dilihat sebagai sesuatu yang telah disetujui oleh calon tersebut.

Maka, ketika ada tim media sosial dan relawan salah satu calon melakukan serangan terhadap relawan lain, bisa ditafsirkan itu dilakukan atas kehendak – atau setidak-tidaknya persetujuan – calon tersebut. Hubungan “yang diwakilkan” dengan “yang mewakilkan” memang merupakan sebuah ikatan yang dibingkai oleh satu visi dan tujuan. Mereka bergerak berdasarkan komando, bukan sekehendak hatinya.

Dalam konteks inilah, terbuka kemungkinan bagi calon yang merasa diserang untuk melakukan tindakan hukum, misal melaporkan ke polisi, terutama jika menghadapi fitnah-fitnah yang serius. Memang, jika hal itu dilakukan, akan melelahkan dan menguras energi. Namun, tidak ada salahnya satu-dua kasus dilaporkan sebagai bagian dari pembelajaran bagaimana berdemokrasi yang sehat.

Sebab, jika masih dalam tahap calon saja sudah membiarkan pendukungnya melakukan aktivitas melawan hukum dan menodai demokrasi, apa jadinya jika sang calon itu terpilih nanti. Apa yang bisa diharapkan dari pemimpin yang menertibkan pendukungnya saja tidak bisa. Bagaimana kelak jika ia terpilih.

Jadi, kampanye hitam itu, termasuk di media sosial, tak bisa dipandang sebelah mata. Itu menjadi cermin yang memantulkan seperti apa nanti wajah Indonesia. ****

Koran Tempo, Jumat 30 Mei 2014

Entry filed under: Opini. Tags: .

Malaikat Penolong Bendera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juni 2014
S S R K J S M
« Apr   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: