Capres van Iklan

Februari 23, 2014 at 3:19 pm 1 komentar

Menjadi presiden, tentulah, sangat menggiurkan. Berada di tampuk kekuasaan merupakan hal yang menyenangkan, begitu kata Friedrich Nietzsche. Maka itu, berbagai cara ditempuh untuk menuju tampuk kekuasaan. Mereka berlomba-lomba memperkenalkan diri kepada rakyat agar dipilih. Salah satunya, “menjual diri” lewat iklan. Bahkan terkadang, kelihatannya iklan lebih penting daripada aksi nyata sang calon.

Iklan dipercaya menjadi salah satu media penting untuk mengenalkan diri ke khalayak. Iklan dibuat semenarik mungkin untuk bisa “melumpuhkan” kesadaran rakyat agar memilih mereka. Seperti halnya iklan produk, iklan politik membekali diri dengan usaha menawarkan/menafsirkan mimpi-mimpi calon konsumen atau orang banyak. Maka iklan capres ditampilkan seolah kita tinggal di negeri atas angin.

Dalam iklan, capres seolah hadir mewakili impian orang banyak pada kehidupan ideal: damai, makmur, dan sejahtera. Mereka juga sosok yang populis dan mengayomi-antara lain direpresentasikan dengan visual sang capres sedang bersama orang-orang kecil. Ada hiruk-pikuk kehidupan nelayan, petani di sawah, serta senda-gurau buruh yang baru keluar dari tempat kerja. Orang-orang kecil itu digambarkan begitu bahagia.

Tak berlebihan jika E.B White, esais dan novelis terkemuka Amerika (1899-1985), menyebutkan bahwa para pengiklan adalah para penafsir mimpi-mimpi khalayak ramai, dengan tujuan tertentu. Mereka mengandalkan kelemahan orang banyak, seperti rasa takut, ambisi, kebanggaan, keegoisan, keinginan, dan ketidaktahuan.

Iklan capres yang mengharu biru sekaligus bikin mual bagi mereka yang melek politik, mungkin menjadi harapan besar bagi mereka yang tidak tahu perkembangan politik mutakhir. Penampilan sosok yang merakyat dengan berbelanja di pasar tradisional, sosok yang akrab dengan wong cilik, sosok yang menyayangi ibu dan manula, akan dipilih karena dianggap mewakili impian mereka.

Pengiklan meniupkan slogan-slogan dan visual yang membius. Bahkan mereka tidak hanya membius nalar, tapi juga menggunakan simbol-simbol tertentu untuk meraih simpati itu. Sebut saja penggunaan salawat. Sekilas, itu terlihat sah-sah saja. Namun, jika kita lebih mencermatinya, itu tak lain dari eksploitasi agama untuk kepentingan politik-yang perilaku pelakunya sering tak sejalan dengan keluhuran agama.

Tapi agama, dalam banyak kesempatan, selalu dipakai sebagai komoditas. Dalam perspektif komunikasi, penggunaan simbol-simbol yang menyentuh emosi atau sentimen tertentu dilakukan untuk memudahkan misi iklan itu sampai. Sebab, tujuan utama iklan adalah membuat pesan cepat merasuk dan mempengaruhi orang lain untuk bersikap terhadap sesuatu.

Masyarakat yang tinggal di pedesaan, terutama yang akses informasinya terhadap capres itu terbatas, tentu akan mudah saja mempercayai apa yang disampaikan dalam iklan. Sebagian dari mereka tidak melek Internet, jarang buka situs berita daring, yang menyediakan begitu banyak informasi faktual tentang para capres itu. Kecuali kelas menengah perkotaan dan pemilih muda, sebagian besar dari mereka pasti tidak akan mudah percaya pada narasi gombal para capres itu.

 

Koran Tempo, Senin 20 Januari 2014

Entry filed under: Opini. Tags: .

Cermin Terkikisnya Kesadaran

1 Komentar Add your own

  • 1. 20 | iklan copy paste  |  September 12, 2014 pukul 1:34 pm

    […] Capres van Iklan | – Dianing – WordPress.com […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Februari 2014
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
2425262728  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: