Cermin

Januari 28, 2014 at 4:27 pm Tinggalkan komentar

 

HANYA orang mati yang tak bisa bercermin. Sekarang sosok di depan cermin itu, adakah ia diriku? Aku selalu ragu jika tengah bercermin. Aku tak pernah puas dengan pantulan yang ada di depanku.

Cermin ini seperti mengutukku. Ia, seperti malaikat yang sibuk mencatat kesalahanku.

 *     *     *

Masa kecilku adalah kesepian memanjang. Aku tak punya teman untuk bermain di rumah. Ayah ibu terlalu sibuk. Mereka pergi saat aku baru saja bangun. Ibu hanya bilang uang saku ada di tas sekolahku, sambil terburu-buru. Usai itu bibi dan sopir keluarga yang mengurusku.

Di meja makan, setiap pagi aku selalu berangan-angan di seberangku duduk ayahku sedang makan. Lalu di sampingku ibu menyuapiku. Tidak. Aku tak pernah disuapi Ibu. Bibi yang sering menyuapiku. Aku ke sekolah selalu diantar sopir.

Aku ingin sekali saja, dalam seminggu ayah mengantarku ke sekolah. Atau ibu yang datang menjemputku saat pulang. Aku selalu iri dengan teman-teman sekolah. Banyak dari temanku berangkat sekolah diantar ayahnya. Lalu ketika pulang sekolah dijemput oleh ibu. Kecemburuanku pada teman sekolahku seringkali menyiksa. Begitu juga saat akhir pekan. Orangtuaku tetap sibuk.

Hingga datang hari yang tak pernah aku inginkan. Ayah ibu bercerai. Mereka kemudian meributkan aku karena anak tunggal. Aku yang membenci mereka tak satu pun aku pilih. Kalau saja mereka bercerai bukan di saat aku menghadapi ujian akhir sekolah, mungkin bebanku tak terlalu berat.

*     *     *

Kamar adalah tempat paling tepat untuk menyendiri, dan hati ruangan teramat luas untuk bersembunyi. Aku yakinkan pintu kamar terkunci. Aku kangen nenek. Aku hampiri dan aku turunkan cermin dari dinding. Cermin ini satu-satunya peninggalan nenek. Ia yang menyatukan aku dengan almarhum.

Tak ada yang menarik dari cermin ini, melainkan warnanya yang buram dengan karat di bagian tepinya. Cermin ini tak bisa aku tatap lama. Setiap kali aku terhanyut karena kangen dan rasa bersalah pada nenek, cermin ini akan mengurai peristiwa masa lalu. Ia seperti film yang memaksaku melihat. Ingat itu buru-buru aku letakkan cermin itu ke dinding.

Hanya bersama nenek aku merasa dimanusiakan.  Sayang,  kasih sayang nenek tak mampu membuatku menjadi anak manis. Aku pandangi cermin di dinding itu. Selalu ada kekuatan yang sulit aku lawan. Aku entah sadar atau tidak saat ini. Tubuhku sangat ringan. Aku menuju cermin di dinding dan menurunkannya lagi.

Ada wajahku di cermin itu  mulai menua. Lipatan-lipatan kecil bermunculan di wajahku. Aku menggeleng-geleng.

*     *     *

Nenek sangat menyayangiku. Apa saja yang aku inginkan selalu nenek penuhi. Hanya saja di rumah nenek semuanya harus teratur. Nenek sangat rapi. Aku harus bangun, mandi, nonton tv, pulang dengan jadwal yang sama. Kemana aku pergi nenek selalu bertanya tujuan dan dengan siapa.

Jika aku pulang terlalu malam, nenek sudah siap dengan daftar pertanyaan. Jika jawabanku tak bisa diterima, aku mendapatkan sangsi. Lama-lama aku jenuh dengan nenek, meski aku tahu seperti itulah cara nenek mengungkapkan kasih sayangnya.

Sesayang apa pun nenek denganku, nenek sangat perhitungan dengan uang. Nenek memberiku uang sangat ketat. Alasan nenek uang dari ayah dan ibu tak lancar. Aku harus hemat. Aku sangat kesal ketika nenek tak memenuhi permintaanku.

Mataku tertuju pada cermin. Aku melihat sosokku empatpuluh tahun silam,  tengah memperhatikan nenek dari kaca yang terpasang di pintu. Nenek berjalan keluar pagar. Aku segera mengunci pintu. Aku bergegas menuju kamar nenek yang selalu tak terkunci. Dengan leluasa aku menuju lemari. Aku pernah melihat nenek menyimpan kotak perhiasan di bawah tumpukan baju-baju pada rak lemari paling atas, sebelah kanan. Hanya dalam hitungan detik aku menemukan kotak dari kayu berwarna coklat tua.

Aku menghela napas. Tampak di cermin jemariku bergetar membuka kotak itu. Wajahku. Itu bukan wajahku. Pelan-pelan pada wajah itu tumbuh bulu-bulu hitam mengerikan. Mulutku. Mulutku terbuka sangat lebar, seperti hendak menelan semua yang ada di depanku. Perutku mual. Aku berkeringat. Sosokku yang wajahnya sudah bukan lagi wajahku mengambil cincin. Menyimpan di saku baju. Menutup kotak dengan buru-buru. Aku keluar kamar dengan napas memburu.

Pelan-pelan gambar di cermin itu mengabur. Lalu berganti dengan wajahku kini, yang menua karena perasaan bersalah.

*     *     *

Selang beberapa minggu nenek gelisah. Nenek mencari-cari cincinnya. Aku pura-pura tidak tahu. Nenek sempat bertanya padaku,  tetapi aku justru mempertanyakan kembali ke nenek. Aku tak segan justru mengatakan barangkali nenek lupa menyimpan. Nenek sama sekali tak bersikeras jika nenek tak lupa menyimpan cincin itu. Sikap nenek yang merelakan cincinnya, membuatku dikejar rasa berdosa.

Cincin itu aku jual murah karena tidak ada surat pembelian. Uangnya aku gunakan untuk membeli kado ulangtahun seorang teman perempuan, yang tengah menarik perhatianku. Prameswari.

*     *    *

Terdengar salam diiringi suara langkah kaki. Prameswari akhirnya aku nikahi dan memberiku dua anak. Sejak pertama menjadi istriku, ia sangat menyayangi nenek.

Cermin di depanku bergetar. Membuat aku menatap ke cermin.

“Nenek.” Pintu kamar terbuka.

“Ayah,” panggil Prameswari agak terkejut. Ia menghampiriku.  Sejak menikah ia tak memanggilku Mas melainkan Ayah. Semula untuk mengajari cara anak kami memanggilku,  tetapi selanjutnya ia terbiasa memanggilku Ayah. Aku menoleh.

Prameswari menggelengkan kepala. Sekarang ia sudah ada di sampingku. Ia raih cermin dari tanganku. Beranjak menuju ke dinding. Meletakkan cermin itu di dinding. Aku diam saja. Prameswari selalu menasehati agar aku merelakan kepergian nenek. Seperti biasa aku akan mengangguk, meski jauh di dasar hatiku ada perih.

*     *     *

Sampai kapan aku simpan rahasia ini. Seribu kekuatan sering aku kumpulkan untuk jujur kepada Prameswari. Hadiah yang dulu aku berikan, hasil dari mencuri cincin nenek. Aku kecut jika ingat pada sikapnya yang anti mencuri. Aku takut ia marah besar.

Sejak menikah dengannya, ia selalu bertanya asal-usul uang yang aku dapatkan selain dari gajiku, sebagai salah satu pegawai negeri. Ia selalu curiga jika ada uang lebih di rekening. Padahal selain pegawai negeri, aku suka menulis artikel di berbagai media.  Prameswari sejak semula memang minta agar keuangan keluarga menjadi sangat terbuka. Setiap saat ia bisa membuka informasi transaksi di rekeningku. Jika aku tampak royal dalam belanja, ia bertanya dapat uang dari mana.

“Aku tak mau dinafkahi dari uang haram.  Jangan sekali-kali mengambil hak orang lain, menerima suap apalagi korupsi.  Jangan.” Sekarang aku sudah pensiun. Aku pastikan harta yang aku bawa pulang untuk anak dan istri, bersih.

Aku menunduk. Akhir-akhir ini aku suka menyepi di kamar. Prameswari sibuk dengan usahanya membuat makanan kecil. Sejak ia pensiun dari pekerjaannya di sebuah bank swasta, ia mengisi waktu dengan usaha kecil-kecilan. Anakku yang pertama sudah bekerja. Anak ke dua tengah kuliah. Keduanya di luar propinsi. Jika sedang tak menulis, hasratku pada cermin peninggalan nenek itu menguat. Kali ini pun aku ingin menyentuhnya.

*     *     *

Cermin yang sudah buram dan penuh goresan, serta berkarat di tepiannya itu kali ini hanya menampakkan wajah tuaku. Ingatanku pada nenek mendesak-desak di kepala. Nenek sangat antusias dengan Prameswari. Aku senang. Nenek merestui hubungan kami. Bagiku nenek memang ayah sekaligus ibu. Nenek bahagia ketika  kami sampaikan segera menikah. Aku terguncang ketika hendak akad nikah. Nenek menyayangkan cincinnya yang hilang. Dia cerita cincin itu hadiah buyut saat nenek menikah. Cincin itu sempat ingin ia hadiahkan ke ibu tetapi urung. Ia pernah memiliki keinginan memberikan cincin itu kepada istriku kelak. Duh.

Sejak itu aku selalu dihantui rasa bersalah. Aku ingin sekali jujur pada nenek bahwa akulah yang mencuri cincinnya, tetapi seribu kekuatan yang aku himpun untuk mengatakan hal itu, selalu lumer saat di depan nenek. Begitu terus berulang hingga akhirnya aku benar-benar tak pernah mengatakannya pada nenek. Aku sempat mengakuinya saat nisan nenek baru saja ditegakkan. Lega tetapi tetap saja mengangguku sampai saat ini.

Aku usap permukaan cermin dengan lembut. Haruskah aku mengakui perihal cincin itu pada Prameswari? Sebagai pejabat negara aku dikenal bersih, tetapi sesungguhnya aku pernah mencuri cincin nenek, untuk membeli kado di hari ulangtahunnya dulu.

Aku merasakan getaran sangat lembut di tanganku. Cermin ini bergetar sangat pelan, pelan,  agak cepat, bertambah cepat, bertambah cepat dan bertambah cepat lagi hingga aku hampir melepasnya. Pelan-pelan getaran cermin itu berkurang, berkurang, terus berkurang dan akhirnya berhenti. Aku merasakan keringat dingin mengucur dari pelipisku. Aku hela napasku pelan-pelan. Kali ini aku tak kuasa menatap cermin di tanganku.

Aku melihat jasadku terbungkus kain kafan diturunkan ke liang lahat.

 

Depok, Juni 2013

Dimuat di Suara Karya 

 

 

 

 

 

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Tahun Baru dan Perayaan Konsumsi Capres van Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2014
S S R K J S M
« Des   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: