Tahun Baru dan Perayaan Konsumsi

Januari 12, 2014 at 1:57 pm 1 komentar

 

Dianing Widya, novelis, pegiat sosial di Spirit Kita, @dianingwy

 

PERGANTIAN tahun tinggal beberapa hari lagi. Jauh-jauh hari, orang-orang menyiapkan beragam acara untuk menyambut pergantian tahun. Artis-artis kebanjiran “job”, tiket acara pergantian tahun di hotel-hotel laris, berbagai tempat hiburan dan wisata segera disesaki pengunjung, dan seterusnya. Ya, setiap malam pergantian tahun, berbagai perhelatan yang beraroma pesta digelar.

Semua terbuai dalam ritual tahunan itu. Orang yang melewatkan tahun baru tanpa hura-hura, tanpa keluar rumah, tanpa mengunjungi hotel berbintang, tanpa terompet, tanpa pesta kembang api, bisa dianggap aneh. Sebab, benda-benda itu – paling sederhana adalah terompet – telah menjadi properti wajib di setiap tahun baru.

 

Maka, tahun baru pun menciptakan pasar paling renyah bagi produsen. Para produsen dengan jeli menciptakan definisi tentang tahun baru. Di sana tidak hanya ada benda-benda dengan definisi tunggal – misalnya terompet untuk menciptakan bunyi. Sebaliknya, definisi yang muncul justru simbolik. Terompet, mengunjungi hotel, ke tempat hiburan, pesta, dan seterusnya dalam konteks tahun baru adalah citra sosial. 

Tahun baru adalah produk yang diolah untuk menanamkan ideologi ke konsumen.  Mengunjungi/menginap di hotel A pada tahun baru, misalnya, menunjukkan identitas sosial tinggi. Semua itu memang menjadi tujuan para produsen agar produk mereka laku keras di pasaran. Maka dibuatlah iklan di berbagai media masa dengan “mantra-mantra” yang menyihir korbannya, yakni konsumen.

Dikatakan korban, karena konsumen di sini seringkali terperangkap. Mereka membelanjakan uangnya bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan hasrat atau keinginan. Jika pemenuhan kebutuhan menemukan ujung, pemenuhan hasrat tak pernah menemukan titik akhir. Konsumen hadir sebagai sosok yang dikendalikan oleh propaganda para produsen — melalui iklan.

Iklan itulah yang memformat pikiran calon konsumen, sehingga membelanjakan uang untuk membeli produk yang diiklankan. Didengungkan bahwasannya melalui produk tertentu, seseorang menemukan jatidiri. Menemukan jiwanya dalam sebuah produk. Seseorang merasa lengkap dengan membeli tiket konser penyanyi terkenal di malam tahun baru, misal. Atau seseorang merasa menemukan dirinya ketika bisa menyalakan kembang api ke udara, di pergantian tahun.

Herbert Marcuse (1968) mengembangkan lebih luas lagi mengenai ideologi konsumerisme. Menurut dia, produk telah memberi sugesti kepada konsumen akan makna kehidupan. Makna kehidupan bisa ditemukan dari apa yang dikonsumsi, bukan apa yang dihasilkan.  

Marcuse menjelaskan bahwa produsen melalui iklannya mendorong kebutuhan palsu. Seseorang lalu mempunyai hasrat menjadi sosok tertentu. Itu bisa diwujudkan dengan mengenakan pakaian jenis tertentu, mengkonsumsi makanan dan minuman tertentu. Keberhasilan iklan itulah yang menggiring orang-orang mengkonsumsi dan membelanjakan uangnya secara tak terkendali.

Jadi semua kegiatan yang dilakukan banyak orang di setiap pergantian tahun, sesungguhnya skenario para produsen. Tahun baru adalah sebuah lahan yang bisa diolah untuk menangguk keuntungan. Merayakan malam tahun baru adalah produk. Menginap di hotel mewah, menghabiskan waktu semalaman di kafe ternama, berpesta kembang api sembari meniupkan ribuan terompat, menunjukkan keberhasilan para produsen.

Tak hanya tahun baru, banyak momentum-momentum lainnya yang kemudian bergeser maknanya. Momentum-momentum itu kemudian menjadi bermakna ganda karena campur tangan industri. Sebut saja hari ibu, misalnya. Orang lalu ramai-ramai membelanjakan uangnya, entah untuk sebuah pesta, kado, atau apa pun,  demi mewujudkan kasih sayang pada ibu.

Seolah-olah hal semacam itu wajar saja.  Tapi jika dilihat dalam relasi konsumen-produsen, ini adalah peristiwa ekonomi. Peristiwa ekonomi ini muncul karena keberhasilan industri menciptakan citra tertentu yang membius konsumen. Mereka mengatakan, lewat iklan atau produk-produknya, berilah sesuatu yang terbaik untuk ibumu pada Hari Ibu. Ciptakanlah moment yang istimewa. Pada saat itulah pesan konsumtif menyerap dalam bawah sadar kita.

Begitu pula Hari Kartini, valentine, dan hari-hari lainnya, yang kemudian semangatnya lebih sebagai “pasar” ketimbang makna substansial momentum itu. Ini pula yang dikritisi psikoanalisis postrukturalis Jacques Lacan sebagai gejala konsumerisme. Ideologi konsumerisme bekerja dengan cara seperti ideologi roman, yakni membangun sebuah narasi tentang pencarian yang bernama “cinta”.

Ideologi konsumerisme inilah yang mengalihkan perhatian orang kepada makna pemenuhan. Tanpa benda “sesuatu”, hidup terasa kurang. Maka konsumsi menjadi jawaban dari semua kekurangan. Konsumsi membuat seseorang merasa hadir secara utuh dan sempurna. Konsumsi membuat seseorang merasa bahagia. Sebab, kebahagiaan yang “diiklankan” adalah keberhasilan memenuhi keinginan terhadap benda-benda itu.

 ***

 Sumber  : Koran Tempo  MInggu, 29 Des 2013

Entry filed under: Opini. Tags: .

Atut dan Fashion Cermin

1 Komentar Add your own

  • 1. Ana Fauziyah  |  Januari 12, 2014 pukul 2:29 pm

    Reblogged this on Mbok Menik's Blog and commented:
    Artikel tentang konsumerisme dalam perayaan tahun baru, dicuplik dari blog Mbak Dianing.
    Perayaan tahun baru merupakan mitos bentukan media dan produsen. Kita dipaksa percaya ada dunia gemerlap di sana saat pergantian tahun, membuat kita merasa aneh jika tahun baru hanya duduk-duduk saja di beranda rumah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2014
S S R K J S M
« Des   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: