Atut dan Fashion

Desember 16, 2013 at 1:39 pm Tinggalkan komentar

Dianing Widya, novelis dan pegiat sosial | @dianingwy

SEJAK Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi pada 2 Oktober 2013 lalu, nama Ratu Atut Chosiyah, Gubernur Banten, ikut meroket. Ia ikut dikaitkan dengan kasus yang menimpa adiknya tersebut. Apalagi kemudian ia dicegah tangkal ke luar negeri dan telah pula diperiksa KPK.

Di luar soal kasus itu, hal lain yang tak kalah menarik dari sosok ini adalah penampilan dan hobi belanja. Beberapa waktu lalu Tempo menurunkan laporan yang memperlihatkan bagaimana Atut bisa menghabiskan uang miliaran rupiah untuk membeli pakaian dan asesorisnya.

Atut pernah membelanjakan Rp 430 juta di butik Hermes di Tokyo, Jepang, pada Februari 2012. Pada kesempatan yang sama, Atut juga berbelanja Rp 100 juta di toko Daikokuya. Tentu saja yang dibeli Atut tak sekedar pakaian, tapi citra (imaji) dari pakaian itu. Ia tidak sedang berhadapan dengan kebutuhan (needs), tapi keinginan (desire). Kebutuhan dibatasi oleh fungsi, sedangkan keinginan dibatasi oleh uang. Itu sama halnya dengan Wawan, adiknya, yang mengoleksi banyak mobil mewah. Apa yang dilakukan Wawan tak sekedar kebutuhan untuk mobil, tapi imaji yang dibangun oleh kendaraan mewah itu. Jadi, fashion – pakaian, busana, asesoris, hingga tunggangan (kendaraan dan sebagainya — tak sekedar benda mati. Lebih dari itu, fashion merupakan pernyataan diri.

Berpakaian adalah cara menyampaikan identitas diri kepada orang lain. Di sana ada statement kelas dan status. Umberto Eco, filsuf dan novelis berkebangsaan Italia, menyebut bahwa busana adalah mesin komunikasi. Dengan kata lain, busana adalah sistem simbol. Ia berbicara lebih banyak hal dari pada benda itu sendiri. Dalam konteks kekuasaan, ia menjadi pembatas antara “kalian” (kawula dan bawahan) dengan “aku” (penguasa). “Kalian” tidak boleh lebih tinggi atau hebat daripada “aku”. Atut sadar betul akan jabatannya sebagai gubernur/penguasa harus membedakan dirinya dengan rakyat biasa melalui pakaiannya.

Dengan berpakaian serba wah dan mahal ia tampak mendominasi di setiap penampilannya. Dan orang-orang yang didominasi pun, memaklumi akan posisinya. Atut adalah penguasa, maka ia pantas mengenakan busana mewah, mahal dan wah. Fashion pun menjadi alat untuk mendongkrak citra dan mempertegas posisinya di depan khalayak ramai.

Fashion sendiri memang berkaitan erat dengan kekuasaan. Berasal dari bahasa latin, factio yang artinya membuat atau melakukan. Dari kata factio inilah diperoleh kata faksi yang bermakna politik. Karena itu, arti asli atau akar dari kata fashion adalah kegiatan seseorang “membuat sesuatu” atau “melakukan sesuatu”. Malcomn Barnard (2009: 59) menyebutkan fashion bukan cuma cara mengkomunikasikan identitasnya, juga sebuah upaya untuk mendominasi dalam suatu tatanan sosial. Jadi, menurut dosen di Unversitas Derby, Inggris, ini fashion adalah bagian dari proses seseorang atau kelompok sosial membangun, menopang, dan memproduksi posisi kekuasaan.

Lagi-lagi, perlu dicatat, ini sama sekali terlepas bagaimana (memakai uang apa dan siapa) benda-benda itu dibeli dan dimiliki. Meskipun dalam relasi ini busana sesungguhnya menunjukkan kelas pendapatan. Namun, dalam konteks seorang birokrat, hal ini menjadi sulit didefinisikan. Orang susah membedakan mana fasilitas kebirokrasian dan mana properti pribadi. Apalagi, pejabat mendapat kemudahan-kemudahan karena jabatannya – entah itu pakaian, rumah, mobil, dan berbagai fasilitas lainnya. Bahkan, bagi pejabat daerah, fasilitas-fasilitas itu bisa dengan mudah dinegosiasikan dengan pemegang palu anggaran yakni DPRD.

Ini baru fasilitas yang sah dan legal (secara formal kebirokrasian). Belum lagi fasilitas-fasilitas yang bisa saja berasal dari pihak ketiga. Maka itu, fashion bagi seseorang yang berada di dalam ring kekuasaan sulit digolongkan dalam pruduksi citra kekayaan/pendapatan. Ia lebih tepat sebagai pembeda identitas antara rakyat, bawahan, dan pimpinan. Apalagi, dalam konteks Atut, ia memang tidak lagi membutuhkan penegasan citra kaya, karena ia datang dari keluarga kaya. Jadi, yang lebih muncul adalah simbol kepercayaan diri dan perangkat untuk mendominasi.

Dimuat di Koran Tempo, Jumat 6 Des. 2013

 

Entry filed under: Opini. Tags: .

Rindu Ruh Puasa Tahun Baru dan Perayaan Konsumsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2013
S S R K J S M
« Agu   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: