Mengurai Ketegangan Antar Agama

Juni 25, 2013 at 12:50 pm 1 komentar

 

 

Judul buku            :  Agama dan Konflik Sosial

Penulis                  :  Prof. Dr. Afif Muhammad, M.A

Penerbit                :  Marja, Bandung

Cetakan Pertama  :  Maret 2013

Tebal buku           :  159 halaman

 

SEJAK Nabi Adam hingga Muhammad, agama turun dengan ajaran yang sama, yakni tauhid. Karenanya agama di dunia tak tunggal, melainkan sangat banyak. Agama-agama itu kemudian memiliki ritual masing-masing, sekaligus sapaan yang berbeda kepada Tuhan.

Perbedaan ritual, fanatisme dan cara pandang yang berbeda itu kemudian melahirkan gesekan di tengah para pemeluk agama. Perpecahan tak jarang terjadi di sebuah negara yang agamanya majemuk, seperti Indonesia. Bentuk negara pun tak lepas dari perdebatan antara pelaku sejarah. Ada sebagian yang menginginkan Indonesia berbentuk negara Islam, dengan diterapkannya syariat Islam. Di lain pihak, tak sedikit yang menolak gagasan Indonesia sebagai negara Islam.

Buku “Agama dan Konflik  Sosial” yang ditulis oleh Prof.Dr.Afif Muhammad, M.A ini menuturkan bagaimana seluk beluk negara yang berdiri berdasar hukum agama tertentu. Negara yang hanya mengakui satu agama sebagai agama resmi, dan menyatukan agama warganya, memang bisa menciptakan keadaan yang aman, karena tak ada konflik antar umat.

Negara Chili, misalnya. Sebelum tahun 1923 Chili merupakan negara yang menganut kesatuan negara dan agama. Yakni Katolik sebagai agama negara. Tetapi ternyata kebijakan gereja terhadap negara justru menghambat program-program pemerintah. Akhirnya tahun 1923, presiden Chili, ketika itu Arturo Alessandri, mengajukan usul agar negara dipisahkan dengan agama. Usul itu kemudian direalisasikan pada 1925.

Pengalaman itu pula yang meyakinkan Presiden Soekarno menolak pembentukan negera Islam. Halaman 20 dari buku ini mengutip kalimat Soekarno, “Islam dipisahkan dari negara, agar Islam bisa merdeka, dan negara pun merdeka. Agar supaya Islam berjalan sendiri. Agar supaya Islam subur, dan negara pun subur pula.” Jadilah negara kita negara yang unik. Indonesia yang mayoritas muslim, tetapi bukan negara Islam, sekaligus juga bukan negara sekuler.

Keunikan itu bisa jadi karena jauh sebelum agama-agama besar dunia sampai ke Indonesia, sudah tumbuh agama/kepercayaan asli di tengah-tengah masyarakat. Katakanlah dalam masyarakat  Jawa.

Di Jawa jauh sebelum agama besar datang, telah tumbuh kepercayaan – kemudian dikenal dengan aliran kepercayaan —  yang menekankan ketentraman batin. Sikap tulus menjaga keselarasan dan hidup yang seimbang. Kepercayaan atau agama asli orang Jawa mengajarkan, siapa pun yang hidup selaras dengan dirinya sendiri, dan masyarakat, hidup selaras juga dengan Tuhannya.

Banyaknya agama asli atau kepercayaan kemudian melahirkan sapaan kepada Tuhan yang berlainan. Seperti panggilan Ompu Tuan Mula Jadi Na Bolon, Debata, Hyang Murbeng Dumadi, Hyang Widhi, Matala atau Alatala. 

Di tengah jalan, akhirnya pemerintah membuka kran bagi pemuka-pemuka agama yang diakui negara, untuk menyebarkan agama kepada penganut kepercayaan. Negara menganggap mereka belum memiliki agama. Ini bisa dilihat sampai sekarang, kepercayaan belum juga diakui oleh negara sebagai agama. Mereka lebih dilihat sebagai kepercayaan yang primitif.

Toh demikian, sangat jarang kita temukan perselisihan terjadi di antara para penganut kepercayaan. Berbeda dengan gejolak yang tak jarang justru mengemuka diantara pemeluk agama resmi. Bahkan antara penganut agama yang sama pun sering terjadi pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan.

Buku ini penting dibaca bagi generasi muda muslim, terutama mereka yang tumbuh dalam lingkungan rumah/orangtua yang lebih suka mengenalkan agama dengan dogma-dogma, ketimbang pendekatan humanisme. Pengenalan agama melalui pendekatan dogma selalu melahirkan generasi tertutup. Mengingat aqidah agama (Islam) sangat bertolak belakang dengan aqidah agama lain, terutama istilah kafir.

Muslim fundamentalis sering menelan mentah istilah kafir ini. Bagi mereka selain islam adalah kafir. Titik. Sehingga mereka yang bukan muslim, perlu diperangi atau diislamkan.

Sayangnya, cakupan bahasan buku ini sangat terbatas. Konflik yang ditampilkan ke permukaan lebih sering konflik yang  terjadi antara muslim dan kristiani. Padahal, kasus yang lebih banyak muncul – terutama di Indonesia – justru adalah antara pemeluk agama yang seiman. Sebut saja konflik antara Suni dengan Syiah, perusakan rumah ibadah Ahmadiyah, termasuk perbedaan tafsir antara satu “mazhab” dengan mazhab lain.  

Dianing Widya, novelis  

Sumber  : hariandetik.com  edisi Sabtu, 15 Juni 2013

Entry filed under: Resensi Buku. Tags: .

Memahami Kitab Suci, Menopang Toleransi Rindu Ruh Puasa

1 Komentar Add your own

  • 1. afif muhammad  |  November 30, 2013 pukul 1:54 am

    Terimakasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juni 2013
S S R K J S M
« Apr   Agu »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: