Satpam Kami

Januari 26, 2013 at 6:59 am 9 komentar

Dianing Widya

MEMASUKI lorong rumahku terasa ada yang aneh. Biasanya melebihi jam sebelas malam, portal sudah direbahkan. Aku tak pernah berhenti merutuk setiapkali pulang kerja, melihat portal rebah. Aku harus turun dari motor, lalu susah payah mencari kunci serep di tas rangselku. Ini Jakarta, bukan di pelosok kampung. Orang pulang kerja di atas jam sebelas, duabelas malam bahkan sampai dini hari, menjadi hal biasa. Berbeda jika tinggal di kampung. Jam sembilan malam orang-orang sudah ngruntel di kamar tidur.

Aku menautkan kening. Aku tak punya kesempatan merutuk-rutuk sama Mungkin. Mungkin, orang-orang memanggilnya dengan melafadzkan huruf i dengan huruf e seperti membaca pada cabe. Aku tak tahu apakah itu nama asli atau nama iseng, atau bahkan nama olok-olokkan.

Mungkin, orang-orang sering memanggil namanya saja, tetapi aku selalu menyertakan nama Pak di depannya. Ia kemudian bertugas menjaga keamanan di RT. Pak Mungkin bukanlah penduduk lama, ia datang empat tahun lalu dengan membeli rumah tetanggaku. Penampilannya nyentrik. Ia suka mengenakan baju dan celana, hanya warna hitam.  Pekerjaannya tak jelas. Ada yang bilang ia pemilik beberapa pintu rumah kontrakkan di Jakarta. Ada yang bilang  ia pemilik bengkel motor tetapi sudah bangkrut, ada juga yang bilang kalau  dia makelar tanah. Yang lebih tak jelas lagi, desas-desus kalau Mungkin dulunya orang kaya, kemudian jatuh miskin karena istrinya banyak. Entah mana yang benar.

Dari jauh beberapa satpam riuh rendah membangunkan orang-orang. Bunyi besi pagar yang diadu dengan gembok pagar, bergemerincing menikahi angin dingin. Ada Wisman satpam RT 01 memanggil-manggil nama tetangga persis sebelah rumah, sambil memukul-mukulkan cincin baku akiknya ke bagian atas pagar. Sementara Warjo satpam RT 01 juga, berulangkali mengucap salam tetapi tak juga salam bersambut dari tuan rumah. Aku lihat wajah Warjo kecut mengabarkan betapa lelah ia mengucap salam. Karena lelahnya ia pukulkan tongkat yang biasa dibawa para satpam ke badan pagar. Bunyinya mencipta ngilu di benakku. Seperti sebuah perasaan kecewa dan putus asa.

Matsu, nama di KTP tertulis Sumantri. Entah mengapa orang-orang memanggil Matsu. Ia satpam di RT tempat aku tinggal, RT 04. Gatsu sudah lama menjadi satpam, tetapi dibanding Mungkin ia kalah jauh. Mungkin orangnya rajin bahkan terlampau rajin. Bayangkan saja jam sepuluh malam mulut gang sudah diportal lengkap dengan gemboknya.

Mungkin biar pun hanya digaji Rp. 350.000 tiap bulannya sebagai satpam, ia senang sekali membersihkan rumput liar yang cepat tumbuh di bukit yang ada di tepi jalan utama perumahan kami. Mungkin juga mau membersihkan got. Pekerjaan menyapu jalan, mencabuti rumput di bukit itu, membersihkan got ia kerjakan tanpa kami suruh.  Pekerjaan diluar kesepakatan kami itu membuat ia tak mendapatkan upah. Hanya sebagian orang yang menaruh simpati pada Mungkin, yang memberinya uang untuk sekedar membeli secangkir kopi di warung pojok.

Bandingkan dengan Suganda atau Matsu. Sebagai satpam ia sangat santai. Ia jarang keliling gang jika dapat giliran malam. Beda dengan Mungkin. Mungkin rajin keliling dari satu gang ke gang lain. Kalau ada warga yang lupa menutup pagar, Mungkin yang menutupnya. Matsu tak peduli dengan kerja menjaga perumahan kami jika dapat giliran siang. Seringkali ia bekerja sambil nukang. Menerima pekerjaan merenovasi rumah atau menambah ruangan. Pos satpam pun ia gunakan untuk menyimpan peralatan tukang bangunan seperti cangkul, meteran, skop,ayakan pasir, ember juga lainnya.

Pada dasarnya kami tak mempermasalahkan jika Matsu menerima pekerjaan sebagai tukang bangunan, asalkan ia punya tanggungjawab untuk keamanan di perumahan kami.  Gajinya memang jauh dari kata layak. Hanya limaratus ribu sebulan, anehnya dengan gaji hanya sebesar itu, Matsu berani punya istri dua.

Aku hampir sampai di depan rumahku. Para satpam terus sibuk berusaha membangunkan orang-orang. Mali beberapakali menekan bel salah satu tetenggaku. Rojali terus membenturkan gembok dengan pintu pagar sambil memanggil-manggil penghuni rumah. Satpam lainnya lagi melakukan hal yang sama.

“Ada apa,” gumamku sambil memarkir motor di depan pintu. Kesibukkan membangunkan tetanggaku terus berlangsung, tetapi tak satu pun tetanggaku terjaga. Pintu-pintu rumah itu tetap tertutup dengan angkuhnya. Seolah tak peduli dengan keriuhan para satpam.

“Ini orang tidur apa tidur, tak satu pun bangun, ” ujar Samad kesal menendang pagar.

“Ampuuun,” teriak satpam yang lain lagi.

Bagaimana ini Bang, nggak ada yang bangun juga.”

“Mungkin-Mungkin nasibmuuu,” ujung suaranya memanjang. Bernada getir. Aku menghampiri ke mereka. Rupanya Mungkin sejak kemarin mengeluh sakit, dan malam ini giliran dia jaga. Mungkin menelepon Samad minta izin tidak bisa kerja. Suara batuk-batuk yang beruntun di telepon itu membuat Samad curiga. Ia segera menjenguk Mungkin yang rumahnya hanya berjarak dua rumah dari rumahku. Mungkin terkulai lemah. Batuknya yang kencang bercampur darah. Samad segera pulang mengabari ke sesama satpam.

“Duh pak Adit kenapa nggak punya mobil.” Aku kaget. Terpana dengan ucapan Matsu. Apa dia pikir harga mobil seharga kerupuk.

“Maaf Pak, kami butuh tumpangan mobil untuk bawa pak Mungkin ke rumah sakit.” Baru pukul sebelas, bidadari mana yang meniupkan angin teramat lembut hingga orang-orang tak satu pun terjaga.

Putus asa menyergap tetapi cair sesaat kemudian, di ujung lorong masuk mobil pick up yang biasa digunakan belanja sayur mayur milik pak Surya. Kami lega.

“Ayo,” ucap laki-laki setengah baya sambil melongok keluar. Kami agak gentar, bagaimana mungkin membawa orang sakit di bak terbuka, sementara angin menusuk-nusuk pori-pori. Pak Surya turun, dia katakan sudah menyiapkan kasur lengkap dengan selimut tebal beberapa lembar. Benar, bak terbuka yang biasanya untuk menggelar dagangan sayuran disulap menjadi tempat tidur lumayan nyaman.  Kami segera memasuki rumah  Mungkin.

Rumah yang jarang dimasuki tetangga ini, aku masuki untuk pertama kali. Aroma kurang sedap meruap. Lantai kusam seperti tak pernah tersentuh sapu. Debu menebal di lemari juga meja kursi. Tanpa perempuan, ternyata membuat rumah pengap. Terdengar batuk-batuk kencang diikuti lenguhan yang berat. Empat satpam segera menggotong tubuh lemah Mungkin, diantara suara berat untuk bernapas. Sekarang Mungkin sudah dibaringkan di bak terbuka. Mereka siap membawa Mungkin ke rumah sakit terdekat. Badanku yang letih memintaku untuk tinggal. Mereka mengiyakan.

Mobil menembus malam yang tinggi, seiring cemas mengalir kepada Mungkin. Tadi pagi, ketika aku hendak berangkat kantor, Mungkin tampak lebih tampan, lebih bersih. Jika biasanya Mungkin mengenakan baju dan celana warna hitam, tadi pagi Mungkin mengenakan kaos berkrah biru, dengan garis putih melintang di bagian dada.

Ia  duduk di atas pembatas jalan, bukan di dekat sumur milik warga yang ada tepat diseberang mulut gang, seperti biasanya ia duduk. Mungkin pun tak mengisi teka-teki silang kali itu.  Ia hanya duduk manis sembari tersenyum, bertegur sapa dengan orang yang melewatinya. Tadi pagi aku hanya melihatnya. Demikian dengan Mungkin, hanya menatapku saja. Tak ada sapa antara kami, padahal aku selalu meminta tenaganya setiapkali aku memerlukan bantuannya.  Mengubur anak kucing, misalnya.

*     *     *

Tulang-tulangku terasa lepas dari tubuh. Aku masukkan motor di samping rumah. Aku duduk di teras sambil meluruskan kedua kaki. Mungkin menari-nari dalam pikiranku. Mungkin sebatangkara. Terakhir tak punya istri, meski beredar kabar sebelumnya Mungkin punya banyak istri. Ia ditinggalkan oleh istri-istrinya karena sesama istri ternyata tak mau dimadu.  Anak-anak Mungkin memilih ikut ibunya, entah berapa jumlah anak Mungkin. Beritanya simpangsiur, bahkan sudah bukan menjadi berita melainkan gossip.

Aku bayangkan keseharian Mungkin yang sendirian. Apa enaknya? Aku tersentak. Mengingat usia yang tak lagi muda untuk ukuran laki-laki lajang. Aku sudah berkepala tiga, tetapi pacar belum punya. Aku tak ingin melajang seumur hidup. Aku tak ingin seperti Mungkin yang akhirnya hidup sendirian, karena gemar kawin. Aku pandangi langit lepas. Mencoba mencari-cari wajah Tuhan dan bertanya padanya, kapan aku ketemu jodoh?

Jantungku berdetak kencang. Aku kenal deru mobil itu. Segera aku beranjak dari duduk. Memandangi ujung gang. Mobil Pak Surya kembali. Begitu cepat perjalanan ke rumah sakit terdekat. Aku segera menuju ke mobil. Wajah keempat satpam luruh. Aku ingin bertanya kondisi Mungkin, tetapi wajah mereka seperti menjawab pertanyaan yang hendak aku sampaikan.

Pak Surya turun dan menutup pintu mobil dengan sangat pelan. Aku menatap wajahnya. Pak Surya menggeleng. Pandanganku ke Mungkin. Sebaris doa kehilangan terpanjatkan begitu saja. Mungkin yang aku temui tadi pagi tanpa sapa, kini meninggalkan air, angin dan udara.

“Apa kata dokter?”

“Semua sudah terlambat.”

“Ayo turunkan jenazah.”

“Aku ke mushala mengumumkan kematian Mungkin.”

“Tak perlu.”

“Mengapa?”

“Orang miskin seperti Mungkin tak punya pengaruh, tak perlu diumumkan kematiannya.”

“Biar pun miskin, ia satpam yang menjaga keamanan orang-orang kaya.”

“Bukan itu saja, kalau ada apa-apa orang-orang kaya itu minta tolong sama Mungkin. Titip kunci rumah, minta dimatikan lampu jalan, dibukain portal, kalau ada yang kehilangan Mungkin terlebih dulu yang disalahkan. Tak jarang Mungkin yang disuruh buangin bangkai tikus, mengubur anak kucing,” kali ini aku merasa tersindir.

“Itulah giliran Mungkin butuh mobil untuk ke rumah sakit, tak satu pun orang kaya itu terbangun.”

“Sudah nggak usah dibahas lagi. Sekarang dirikan tenda, menjelang subuh kita umumkan kepergian almarhum,” pak Surya menengahi pembicaraan kami.

Kami berenam segera bekerja. Kami angkut tenda dan besi yang disimpan di gudang sebelah mushala bersama-sama. Kami buka portal belakang untuk lalu lintas kami membawa peralatan tenda. Aku tak menyangka jika ternyata besi-besi untuk mendirikan tenda cukup berat. Semua besi dan kain tebal sudah terkumpul di depan rumah Mungkin. Sesekali aku lihat rumah-rumah tetanggaku sembari berharap ada yang terbangun.

Pukul satu dini hari pak Surya mulai memimpin kami mendirikan tenda. Diantara kami, dia memang yang terbiasa mendirikan tenda. Biasanya untuk setiap shalat Id atau di setiap acara-acara tertentu. Sambil memandangi besi-besi yang ditidurkan di sisi jalan, aku berharap ada tetangga yang terbangun dan membantu kami mendirikan tenda untuk berteduh para tamu takziah besok.

Dini hari itu kami seperti berada di sebuah wilayah teramat luas. Dunia serasa masih perawan. Hanya kami berenam yang menghuni wilayah teramat luas itu. Riuh rendah kami tak membangunkan satu pun orang di lorong kami. Aku seringkali sengaja menaruh besi di atas tumpukan besi agar bersuara keras. Palu yang dihunjamkan ke besi pun kami pukulkan keras-keras dengan harapan ada warga yang bangun. Gagal.

Jam tiga dini hari tenda baru separuh berdiri. Masing-masing dari kami mulai kelelahan juga kehausan. Aku masuk rumah untuk sekedar mengambil air minum. Beberapa gelas aku jajar di atas nampan.

“Kasihan  Mungkin, sering dipakai tenaganya tetapi saat meninggal tak satu pun orang tahu dan peduli,” keluh Mali.

Aku menaruh gelas.  Mengambil besi untuk disambungkan dengan besi lain.  Terngiang candaan salah satu tetanggaku beberapa hari lalu.

“Kin, lo besok kalau mati jangan nyusahin orang ya.” Besi di tanganku terlepas. Candaan tetanggaku itu nyata. Mungkin meninggal dengan sangat cepat. Ia tak sempat sakit-sakitan. Jika ia sakit-sakitan tentu kami yang berkewajiban merawatnya. Tapi, Mungkin meninggal tanpa terduga. Hanya bilangan jam saat sakitnya ketahuan, ia benar-benar tidak merepotkan kami.

Aku lemas seraya mengingat perlakuan sebagian tetanggaku yang kurang memanusiakan Mungkin. Sebagian dari tetanggaku lebih suka memanggil Mungkin tanpa tambahan Pak di depan namanya, padahal usia Mungkin lebih tua dari mereka. Aku menghela napas. Menjadi orang miskin, dengan penghasilan tigaratus ribu sebulan sebagai satpam memang tak berharga.

Aku pandangi tenda yang masih separuh berdiri. Semiskin apa pun Mungkin,  sehina apa pun Mungkin hanya Tuhan yang Maha Tahu. Mungkin menghadapNya dengan cara yang paling mudah. Tidak merepotkan orang lain.  Aku tak tahu amalan apa yang Mungkin miliki hingga ia memiliki keistimewaan itu.  Mungkin sangat suka membantu orang lain.

Aku akan kehilangan Mungkin. Aku akan kesulitan mencari orang yang bisa aku mintai pertolongan.  Menguburkan anak kucing yang mati,  misalnya.

 

Depok, April 2012

Suara Karya, Sabtu 12 Januari 2013

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Warisan Memahami Kitab Suci, Menopang Toleransi

9 Komentar Add your own

  • 1. surya  |  Januari 26, 2013 pukul 3:41 pm

    mantapss

    Balas
  • 2. suharti  |  Januari 26, 2013 pukul 3:44 pm

    Ini kisah nyata ya mbak? Kalau bener, menyedihkan sekali nasib satpam yg meninggal itu…

    Balas
    • 3. dianing  |  April 12, 2013 pukul 3:24 am

      Makasih mba Suharti, yaa kurang lebih seperti itu🙂

      Balas
  • 4. Anonim  |  Januari 27, 2013 pukul 7:15 am

    cerita ini mengingatkan pada salah satu satpam yg ada di komplek rumahku…ada sebagian nama jg kejadian yg sama,tapi dlm cerita ini banyak yg melenceng dengan kenyataan yg ada.satpam jg manusia yg harus kita hormati dan hargai.tak ada perbedaan yg kaya dengan si miskin atau satpam dengan orang kantoran…tapi mungkinkah ini kisah nyata….:(

    Balas
    • 5. dianing  |  April 12, 2013 pukul 3:26 am

      Cerpen tak sekedar cerita, ia hadir mengabarkan bahwa di luar sana keadaan tak melulu menyenangkan. Makasih yaa …

      Balas
  • 6. ruangimaji  |  Maret 28, 2013 pukul 4:46 am

    Sebuah pelajaran untuk mau menghargai orang lain tanpa memandang harta, pangkat, dan derajat.

    Salam dari teman lama.

    Balas
    • 7. dianing  |  April 8, 2013 pukul 11:37 am

      Terimakasih. Salam.

      Balas
  • 8. Satpam Kami  |  Desember 27, 2013 pukul 8:05 pm

    […] CERPEN: DIANING WIDYA | DIANING.WORDPRESS.COM […]

    Balas
  • 9. Mulyadi  |  Januari 10, 2014 pukul 2:22 pm

    Hmmm menyentuh

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2013
S S R K J S M
« Okt   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 101,550 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 14 hours ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 2 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: