Warisan

Januari 18, 2013 at 3:17 am Tinggalkan komentar

Dianing Widya

ADA yang menghantam jantungku, hingga tak bisa aku bedakan, apakah saat ini aku masih bernafas atau tidak. Kania, anak perempuanku semata wayang mengajukan permintaan sulit.

“Bunda.” Aku pandangi matanya yang penuh harapan dan menghiba. Pada mata itu aku lihat jelas restuku menjadi bagian penting dalam hidupnya.

“Beri bunda waktu,” pintaku sembari memandangi taplak meja bermotif batik pemberian ibu beberapa waktu lalu.

Memandangi garis-garis lembut di taplak itu mengentalkan ingatan pada tanah kelahiran. Tanah kelahiran yang tak jarang membuatku riuh rendah juga terpintal sunyi. Keriuhan itu sesungguhnya telah lama hampir bisa aku lupakan, hingga Kania mengingatkan kembali luka di masa kecil dulu.

“Bunda,” panggil Kania lagi. Aku masih menyampaikan hal sama. Beri bunda waktu untuk memikirkan niat Kania. Kali ini Kania ikut memperhatikan setiap warna di taplak meja itu.

“Dia orang Pekalongan lho Bun.” Aku hanya meresponnya dengan memejamkan mata. Hatiku kembali riuh rendah. Bunda tahu siapa dia, Kania. Jauh sebelum kamu mengenalnya.  Aku katakan pada Kania ada pekerjaan yang secepatnya harus aku selesaikan, mengoreksi tugas mahasiswaku. Aku segera  beranjak dari hadapan Kania dengan menghela napas pelan-pelan.

Dari balik pintu kamar aku perhatikan Kania masih duduk dengan posisi belum berubah. Ia tampak tengah memikirkan sesuatu, mungkin mengenai sikapku yang tak seperti biasanya. Ia tampak kurang nyaman, agak lama aku memperhatikannya hingga akhirnya ia beranjak dan menuju anak tangga dengan gontai.

Masih dari kamarku, hatiku teriris-iris melihat cara dia melangkah. Saat ia menapak tangga pertama pelan-pelan aku tutup pintu kamar. Menuju kasur sembari menggumam permintaan maaf atas sikapku pada Kania. Aku duduk di tepi kasur. Kamar mendadak sunyi.

*     *     *

Waktu itu aku berseragam putih merah dengan rok berimple. Tangan kananku memegang piala. Aku baru saja dinobatkan sebagai juara pertama lomba baca puisi yang diselenggarakan dalam rangka menyambut hari jadi kabupaten Batang. Pertama yang ingin aku sapa adalah mbah kakung. Dia yang mengajari aku bagaimana membaca puisi yang baik dan bisa menarik perhatian juri. Dia juga yang selalu mendorong aku untuk mengirimkan tulisanku ke majalah media pelajar terbitan Semarang. Namanya MOP.  Aku berhenti mengirim ke majalah itu karena puisiku tak kunjung dimuat. Aku kecewa, dan mbah kakung menimpali dengan ucapan bocah kok mutungan, anak kok mudah kecewa.

Aku tercekat. Lututku lemas. Kakiku tak bisa bergerak. Terdengar deru mobil dari halaman. Itu suara mobil suami. Hari ini ia diundang menjadi pembicara untuk acara sastra yang diadakan oleh dewan kesenian pusat. Sastra, dunia yang sudah lama aku tinggalkan karena terlampau banyak aku menelan kecewa. Aku sudah tak ingat berapa puisi juga cerpen aku kirim ke media, tetapi tak satu pun dimuat. Aku menyerah. Aku kubur hasratku yang menggebu di masa remaja. Aku ingin menjadi sastrawan terkenal, yang karyanya selalu dibicarakan oleh para kritikus sastra, meski tak digandrungi banyak orang.

Tuhan mempertemukan aku dengan penulis sungguhan.  Penulis cerpen sekaligus wartawan dan sekarang dipercaya mengasuh rubrik sastra di koran terkemuka. Koran yang merupakan barometer sastra di tanah air. Entah berapa kali ia membangkitkan semangatku untuk menulis lagi, tetapi selalu aku berkata, cukuplah aku menjadi pembaca dan pecinta sastra. Jika ia sudah tersenyum, artinya ia sudah memaklumi pilihanku. Aku sekarang asyik dengan pekerjaanku sebagai dosen sastra. Pekerjaanku mengulas teori sastra di hadapan mahasiswa, tanpa bisa mempraktekkannya dengan baik.

*     *     *

Makan malam bersama kali ini terasa kaku. Aku kehilangan sikap santai. Permintaan Kania beberapa waktu lalu membuat aku mati kutu. Hampir tak ada percakapan di meja makan. Hanya tangan-tangan kami yang sibuk mengambil ini dan itu, lalu menaruhnya ke piring. Sesekali aku mencuri pandang ke Kania. Aku merasa bersalah melihat wajahnya. Suami, mungkin karena kelelahan tak menangkap hal yang tak biasa. Ia tak berkata apa pun tentang sikapku dan diamnya Kania.

Malam terlewatkan begitu saja. Kania segera ke kamar begitu usai makan. Suami duduk di kursi malas di ruang keluarga sembari membuka buku. Tidur di kursi malas, lalu entah pada jam berapa dia pindah dan berbaring di sampingku. Tahu-tahu ketika terjaga tengah malam dia sudah ada di sampingku. Begitu terus berulang sejak awal kami menikah hingga kini. Aku menelan ludah. Beberapa jam lalu Kania mengutarakan ingin menikah.

Aku tutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Suhu badanku bertambah rasanya. Setiap orangtua selalu bahagia jika mendengar anaknya yang sudah mapan ingin segera berkeluarga. Aku kecut. Seharusnya aku menyambut suka cita niat Kania, tapi …

*     *     *

Orang-orang berkerumun di depan rumah mbah kakung. Aku pikir pegawai mbah kakung sedang sibuk menurunkan karung-karung padi yang hendak ditimbang, tetapi jeritan orang-orang terasa aneh. Aku mendekat dengan kening bertaut kuat. Seketika piala di tanganku hampir lepas. Tangan lek Supen mencengkeram kuat bahu mbah kakung. Wajah lek Supen garang siap menjatuhkan, sedang mbah kakung tampak lemah. Orang-orang kampung mendekat hendak menolong, tetapi lek Supen tambah mengancam. Akhirnya kami mundur hingga datang beberapa petugas kelurahan menenangkan keadaan.

Usai itu mbah kakung jatuh sakit. Berat badannya turun drastis. Tubuhnya kian hari kian lemah. Ia sempat dirawat di rumah sakit selama satu bulan. Sengketa tanah antara mbah kakung dengan keluarga lek Supen sangat menyakitkan hati mbah kakung. Mbah kakung, menurut keluarga sudah membeli tanah orangtua lek Supen tiga tahun lalu. Sayangnya mbah kakung terlampau percaya sama orangtua lek Supen. Mbah kakung tak segera mengurus akta kepemilikian tanah. Pihak keluarga hanya memiliki kuitansi pembelian tanah.

Aku menghela napas, mbah kakung meninggal tiga bulan sejak peristiwa itu. Mbah putri, bulek dan paman memendam sakit hati pada keluarga besar lek Supen. Kami kebetulan bertetangga, rumah keluarga besar lek Supen hampir berhadapan dengan rumah mbah kakung.

Aku juga sakit hati, apalagi kalau melewati tanah seluas hampir dua hektar itu. Ah, sudahlah. Aku sudah lupa peristiwa itu hingga Kania mengungkapkan keinginan menikah dengan Wisnu, yang tak lain cucu lek Supen. Bagaimana mungkin aku bisa merestui rencana itu Kania.

*     *     *

Suami tercengang. Kania mengurung di kamar. Aku meminta kepada Kania agar keluarga Wisnu menunda acara lamaran dulu. Aku meminta waktu lagi untuk berpikir, berdamai dengan keadaan. Aku sangat heran mengapa setelah jauh dari kampung, tinggal puluhan tahun di Jakarta anakku justru jatuh hati pada Wisnu. Kalau saja bukan Wisnu, tentu rencana menikah itu sangat mudah aku restui.

*     *     *

Dari helaan napas suamiku, aku tahu apa yang hendak ia tanyakan.

“Kau ingin bertanya mengapa aku mempersulit Kania?” Suami mengangguk. Aku pandangi wajahnya lalu pelan-pelan aku ceritakan luka lama itu. Kalau saja bukan Wisnu yang hendak menikahi Kania, cerita ini akan tetap menjadi milik pribadiku saja. Kenyataan aku harus membukanya karena tak sanggup menanggung sendiri. Belum dengan sikap keluarga besarku nanti jika tahu aku berbesan dengan Yuniar, anak lek Supen.

Aku memegangi kepalaku. Dengan lembut suami menurunkan kedua tanganku. Menatapku dengan tatapan yang sulit aku balas. Mengalir kalimat-kalimat bijak yang sangat sulit aku laksanakan.

“Jangan menghukum orang yang tak bersalah.” Aku menghela napas.

“Kania, Wisnu tak ada hubungannya dengan soal perebutan tanah itu.” Aku tatap suamiku dengan tidak suka.

“Benar Wisnu cucu lek Supen, tapi dia tak turut campur dalam sengketa itu.” Aku menghela napas lagi. Ada kebenaran dalam kalimatnya.

“Jangan libatkan Kania dan Wisnu. Restui mereka.” Suamiku beranjak. Aku menelan ludah.

*     *     *

Akhir-akhir ini aku merasa sangat kesepian. Kania menjadi pendiam. Sepulang dari kantor ia lebih banyak di kamar. Aku tak melihatnya lagi Kania yang ceria. Ia selalu murung. Aku mencoba membayangkan diri adalah Kania. Bagaimana perasaanku jika mengalami seperti Kania? Mencintai seseorang tetapi ditentang ibunya sendiri. Alangkah sakitnya. Bagaimana nanti jika Wisnu yang ia cintai malah bersanding dengan lainnya. Tentu hatinya hancur. Aku tersentak. Aku tak ingin Kania menderita. Aku tak boleh aniaya padanya. Menghalangi niatnya menikah, padahal perempuan hanya memiliki satu hati untuk satu laki-laki.

Aku pandangi langit. Berharap senja cepat datang. Menyambut Kania pulang dari kantor, lalu mengatakan padanya jika aku merestui hubungannya dengan Wisnu. Tak peduli soal sengketa tanah itu.

 

Depok, Oktober 2012

NOVA, edisi 7 –  13 Januari 2013

 

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Salma Satpam Kami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2013
S S R K J S M
« Okt   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 101,550 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 14 hours ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 2 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: