Salma

Oktober 12, 2012 at 3:47 am Tinggalkan komentar

Dianing Widya 

SALMA selalu dalam keadaan pulas ketika aku pulang kerja. Bukan karena ia istri yang kurang baik, tetapi pekerjaan yang menuntutku pulang larut malam. Apalagi kalau majalah politik tempat aku bekerja menjelang terbit,  setiap satu pekan. Praktis aku selalu pulang lewat jam satu dini hari.

Kalau saja kami memiliki bayi, mungkin Salma tak selelap ini. Bisa jadi ia sering terjaga karena tangis sikecil. Setiapkali aku pulang, selalu kamar yang menjadi tujuan pertamaku. Aku membayangkan suara tangis bayi karena suara langkahku. Tangis itu kemudian reda setelah Salma menenangkannya, juga setelah aku membelai dan mengecup dahinya yang lembut. Saat itulah aku menghirup wangi khas aroma keringat bayi. Menentramkan.

 

Aku tutup pintu kamar pelan-pelan. Menuju dan merebahkan tubuh lelahku di sofa. Apa enaknya kerja siang malam tanpa seorang anak pun. Sebelas tahun bukan waktu pendek untuk menanti kehadiran anak. Mulanya tahun-tahun pertama aku merasa biasa-biasa saja jika Salma belum hamil, tetapi menginjak tahun ke empat pertanyaan mulai muncul dari ibuku. Kapan aku memberinya cucu? Pertanyaan yang sama muncul dari mertua, kapan Salma akan memberinya cucu.

Pertanyaan itu kemudian berulang di setiap tahunnya, saat kami pulang kampung. Semula aku menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu, pertanyaan lumrah. Tetapi ketika sering ditanyakan aku mulai terganggu. Betapa repot tak punya anak, selalu mendapat pertanyaan sulit.

 Aku merasa tersudut ketika mertua menyarankan agar kami memeriksakan diri untuk mendapatkan anak. Saran itu seperti mencurigai kalau aku laki-laki gabuk, suami yang tak bisa memberi keturunan.

Aku tak menyangka ketika ibuku menyarankan hal sama kepada Salma, menyuruhku untuk ikut terapi kehamilan bersama Salma. Ibu bahkan mewajibkan Salma makan tauge setiap hari.  Biar cepat dapat momongan, begitu alasan ibu. Untuk beberapa waktu Salma mengikuti saran ibu sampai ia selalu mual setiap kali melihat tauge, lalu menyerah.

“Banyak perempuan hamil bukan karena makan tauge,” ujar Salma dengan nada kesal.  

Melihat Salma yang tampak tertekan karena keinginan orangtua kami untuk segera hamil, seringkali membuat aku merasa bersalah. Kalau saja bukan aku yang menikahinya, mungkin sekarang ini ia sudah memiliki dua tiga anak. Adikku sendiri yang baru menikah dua tahun lalu sudah punya anak.

*     *     *

Aku pandangi langit-langit rumah sembari membayangkan tengah pulang kampung bersama anak-anak. Di tengah jalan si kecil berujar hendak pipis, lalu terdengar Salma meminta agar si kecil menahan pipis sampai kami bertemu SPBU untuk numpang ke toilet. Kalau si kecil tak tahan maka pipislah dia di pangkuan Salma. Aku tersenyum membayangkan itu. Fantasiku terus membubung tinggi ke awan.

Betapa senangnya punya anak. Dua atau tiga. Kali ini aku membayangkan si sulung akan masuk SMP, anak kedua naik kelas 4 SD. Si kecil baru tiga tahun. Antara Juni dan Juli teman-teman kantor selalu sibuk membicarakan pengeluaran yang membengkak. Kewajiban membeli buku paket, tambahan seragam, daftar sekolah siswa baru.

“Belum punya uang, pinjam lagi ke koperasi,” begitu ujar teman menemukan  jalan keluar. Belum lagi aturan tak tertulis harus membeli tas dan sepatu baru.

Aku belum pernah merasakan langsung kerepotan di setiap pergantian tahun ajaran baru. Kalau pun harus mengeluarkan uang cukup banyak, tetapi senang bisa menyekolahkan anak-anak. Sementara aku belum memiliki kesempatan menikmati pusingnya memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak.

Sepi merayap.  Keinginan memiliki anak membuat aku tersiksa. Sia-sia aku bekerja siang malam, tetapi tak ada anak yang menikmati kerjaku selama ini. Apakah hidup akan berhenti sampai di sini? Apakah tak memiliki anak berarti kiamat. Dadaku bergetar. Pelan-pelan aku merasa menjadi manusia yang egois. Terlampau ingin memiliki anak, sementara Tuhan sendiri belum juga memberi kami kepercayaan satu momongan pun.

Aku angkat tubuhku. Duduk dengan kaki selonjor ke depan. Jarum jam terdengar jelas. Bertahun-tahun sudah aku membiarkan Salma teraniaya oleh keinginan-keinginan memiliki anak. Aku beranjak dari sofa menuju Salma. Di ambang pintu ia berujar jika pagi ini kami harus ke dokter untuk mengikuti terapi.  Aku menggeleng.

“Lupakan terapi Salma.” Aku duduk di tepi kasur tempat ia terbaring.

“Maksudnya?”

“Maafkan aku Sal.” Salma tiba-tiba terbangun lalu meracau kalau aku akan menikah lagi karena ia tak bisa hamil.

“Tega kamu Syaf, tega.” Tangisnya pecah. Ia menolakku ketika aku hendak memeluknya,  untuk menenangkannya. Ucapannya yang lirih karena tak berdaya menghadapi tubuhnya, mencipta perih di dada. Perempuan yang membuatku lengkap itu menangis pilu karena tak bisa memberiku anak.

Pelan, aku raih kepalanya. Menyandarkannya di bahu kananku.

“Maafkan sikapku selama ini Salma.” Salma memandangiku. Tatapannya tak bersahabat. Mengapa jadi begini? Ia menyangka jika aku akan meninggalkannya.

“Aku bosan Sal, capek dengan terapi ini dan itu.”  Suasana hening.

“Lalu apa maumu?”

“Aku tidak mau kita ikut terapi lagi.”

“Kau pasti kecewa sama aku Syaf,” Salma menunduk. Aku menelan ludah.

“Tak punya anak bukan berarti kita tak bahagia, Salma.”

Pelan-pelan Salma menoleh ke arahku.

“Maksudmu?”

“Kita tak perlu risau lagi hanya karena belum punya anak.”

“Kenyataan kita menikah sudah sebelas tahun. Setiap pulang kampung ibuku, ibumu, keluarga besar kita selalu saja mengulang pertanyaan yang sama. Mereka tak tahu kalau aku tak suka pertanyaan itu.” Suara Salma menukik tajam, seperti hendak menumpahkan beban yang selama ini ia tanggung.

“Mungkin ini salahku Salma,” ujarku lirih. Salma memperhatikanku seolah ingin menelisik setiap inci di wajahku.

“Mungkin aku yang bermasalah hingga kita sampai sekarang belum juga punya anak.” Salma menggeleng.

“Dokter Yudi bilang tak ada masalah dengan kita. Kita sehat.” Aku mengerucutkan mulut.

“Jika aku sehat, kamu sehat, artinya …”

“Artinya?”

“Artinya Tuhan belum mempercayai kita memiliki anak.”

Terdengar helaan napas Salma yang berat.

“Apa salah kita Syaf,” tanya Salma lirih. Aku tak mampu menjawab pertanyaan Salma. Aku tak bisa memaksa diri untuk bisa memiliki anak. Anak persoalan diluar kuasaku.

Pertanyaan Salma pelan-pelan mengusikku. Jika kami sehat-sehat saja, mengapa belum juga punya anak. Sementara teman, saudara yang baru menikah langsung ketahuan bakal punya anak. Jika kami sehat-sehat saja, mengapa rumahku masih sepi? Adakah Tuhan membedakanku dan Salma?

Aku menunduk seraya istighfar. Mencoba menenangkan diri di samping Salma yang juga menunduk. Keinginan memiliki anak aku rasakan justru menjadi beban. Aku sering dilanda cemburu jika melihat teman kantor tengah bepergian bersama anak-anak mereka. Aku sering tak nyaman jika melihat kesibukan tetanggaku saat harus mengambil rapor. Aku iri. Aku ingin seperti mereka.

Diam-diam aku mulai memperhatikan Salma yang masih menunduk. Aku mencoba menjadi dirinya. Membayangkan diri menjadi perempuan yang selalu mendapatkan pertanyaan berulang dari ibu juga dari keluarga besarnya. Apakah ia merasakan perasaaan yang sama denganku, merasa iri dan cemburu ketika melihat keluarga lain bersenda gurau dengan anak-anaknya? Atau, jangan-jangan ia merasa tersisih, terpojokkan dengan pertanyaan yang berulang-ulang itu.  Kasihan sekali Salma.

“Maafkan aku Syaf,” lirih suaranya tak bertenaga. Aku meraba ke mana ia hendak berkata.

“Tak ada yang perlu dimaafkan Sal.”

“Hidup tanpa anak sepi Syaf, maafkan aku.” Salma menunduk lagi. Aku raih tangannya. Ia menatapku dengan air mata hampir tergelincir. Aku genggam tangannya kuat-kuat.

“Maukah kamu menjadi ibu bagi banyak anak, Sal. Di luar sana banyak anak-anak tak bisa sekolah karena orangtua tak mampu menyekolahkan anak.”

“Maksudmu?” mata Salma berbinar.

“Tak punya anak bukan berarti kiamat kan. Kita bisa membahagiakan diri dengan menyekolahkan mereka yang kurang mampu. Mengasuh mereka yang terlantar, di rumah kita.”

“Serius?”  Aku mengangguk. Mata Salma kian berbinar.

 

Depok, Juli 2012

 

Sumber  : tabloid Nova edisi 27 Agustus – 2 September 2012

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Napak Tilas ke Jakarta Tua Warisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2012
S S R K J S M
« Jul   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: