Jerawat itu Bernama Ujian Nasional

Mei 15, 2012 at 1:59 pm Tinggalkan komentar

Dianing Widya, novelis dan pengelola lembaga sosial “Spirit Kita” [spiritkita.org]

 

GELAK riang ditumpahkan oleh sebagian anak-anak SMU dengan corat-coret di baju seragam sekolah, yang kemudian menandai  usainya “ritual akbar” ujian nasional. Jika pada 1980-an aksi corat-coret dirayakan setelah kelulusan sekolah, era sekarang aksi itu dilaksanakan usai ujian nasional atau UN.

Jadi, corat-coret itu belum menggambarkan kelegaan anak-anak didik menyelesaikan pendidikan. Itu hanya menggambarkan kelegaan sesaat setelah berhasil keluar dari lubang jarum. Disebut lubang jarum, karena menghadapi UN seperti menghadapi peristiwa yang menegangkan. Bukan saja anak-anak didik yang “galau”, orangtua pun ikut galau.

Akhirnya, ujian yang seyogyanya dijalani anak-anak didik dengan tenang, kenyataannya dijalani dengan ketakutan.  Mereka takut tidak lulus, karena UN menjadi salah satu fakror penentu kelulusan, yakni 60 persen. Peran ujian sekolah dalam faktor kelulusan hanya 40 persen. Jadi, bukan proses belajar selama tiga tahun yang menentukan kelulusan, melainkan pekerjaan yang hanya dilakukan selama kurang lebih empat hari.

Proses kelulusan seperti ini yang sadar atau tidak, telah mengajari anak didik kita lahir sebagai generasi instan, hanya mendorong agar mereka bisa menjawab soal ujian UN, bukan memahami materi yang mereka pelajari. Padahal hasil apa pun yang maksimal bertumpu pada proses, bukan pada kegiatan yang hanya dilakukan pada waktu singkat.

Tak heran jika kemudian pelaksanaan UN itu menyimpan banyak cerita. Dari kesungguhan anak-anak menyiapkan diri, berbagai kecurangan yang dilakukan pihak siswa, pendidik, atau pihak yang berkaitan dengan UN, sampai ritual menjelang UN.  Kita lihat berbagai ritual yang dilaksanakan siswa baik dari yang bersifat individu seperti puasa, juga yang dilaksanakan bersama-sama.

Ada pula ritual doa bersama kemudian diiringi kegiatan mencuci kaki ibu, sungkeman dengan para guru,  lalu mencuci kaki para guru dengan rendaman bunga. Ada juga yang melakukan ziarah ke makam tokoh, yang semasa hidupnya sangat dihormati, saleh dan pintar. Mereka mengunjungi makam itu untuk memohon agar lulus ujian. Padahal sejatinya orang yang sudah almarhum, justru lebih membutuhkan doa.

Ada juga yang melaksanakan ritual pensil. Anak didik mengunjungi tokoh spiritual untuk kemudian mencelupkan pensil ke dalam air yang sudah didoakan. Berbagai ritual itu pada mulanya untuk mendekatkan diri pada Tuhan, agar mendapatkan ketenangan dalam menempuh ujian. Tetapi jika kita cermat menganalisa, ritual itu dekat pada kegiatan irasional.  UN telah kehilangan esensinya dimata anak didik sekaligus para guru.

 

Hormati Anak Didik

 

Membuat siswa cemas tentu bukan sesuatu yang baik. Makanya, agak aneh ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh yang terkesan “bahagia sekali” mengetahui hasil riset yang dilakukan pihaknya bahwa siswa cemas karena UN itu.  Menurut Menteri Nuh yang dikutip media massa, tingginya kecemasan itu justru positif, karena kecemasan itulah yang mendorong tingginya pandangan bahwa UN sangat mendorong belajar.

Memang ada yang mengatakan kecemasan bisa mendorong seseorang mencari jalan keluar untuk menyelesaikan persoalannya. Tentu yang dimaksud adalah kecemasan yang muncul jauh sebelum “Hari H”. Tapi kecemasan siswa terhadap ujian nasional, terjadi sejak sebelum hingga pada hari pelaksanaan ujian sehingga menimbulkan dampak negatif. Kecemasan itu membuat seseorang menjadi tidak tenang, tidak konsentrasi, dan akhirnya membuat seseorang menjadi tidak bisa mengerjakan sesuatu dengan maksimal.  Bahkan, sesuatu materi yang telah dipahami atau diingat, bisa buyar tiba-tiba karena situasi tegang dan cemas.

Menurut Prof Dr H Djaali (2009: 45), rasa takut bisa menyebabkan hati dan jantung berdebar-debar, tekanan darah dan kerja susunan percernaannya bisa berubah-ubah, bahkan bisa menyebabkan kesulitan bicara. Bahkan, ketegangan emosional yang berkepanjangan bisa menyebabkan orang menjadi gagap.

Batasan nilai memang diperlukan untuk mengukur kecerdasan siswa, tetapi pelaksanaan ujian yang “memukul rata” ini melanggar hak  azasi anak. Para psikolog, menurut Prof Djaali (2009: 43), menganjurkan anak-anak diperlakukan secara objektif. Jangan membandingkan anak yang satu dengan yang lain.

Dalam konteks ujian nasional ini, pemerintah cenderung menyamaratakan semua anak. Padahal mereka berbeda, baik secara intelektual,  fasilitas pendidikan, hingga geografis dan latar belakang keluarga. Anak-anak yang bersekolah di kota besar seperti Surabaya, Yogya, Semarang, Bandung, Jakarta serta kota besar lain masih beruntung dibandingkan dengan anak didik  di wilayah terpencil.

Arus informasi, pengetahuan, dan fasilitas untuk mendapatkan pengetahuan di kota (termasuk sekolah dan fasilitasnya) jauh lebih bagus di kota ketimbang di desa, apalagi di pelosok-pelosok terpencil. Di kota besar sangat mudah menemukan toko buku, dan mencari buku-buku bacaan yang diperlukan. Sementara di wilayah terpencil sangat sulit mendapatkan buku-buku bagus, juga terbatasnya toko buku.

Belum lagi problem jarak tempuh dan kurangnya fasilitas belajar mengajar di wilayah terpencil. Kualitas pendidikan di wilayah terpencil sangat jauh berbeda dengan di kota.  Satu misal saja, anak didik di wilayah terpencil harus menempuh beberapa kilo perjalanan, yang tak jarang membuat mereka harus mengganti baju karena menyeberangi sungai.  Jarak tempuh yang jauh, buruknya infrastruktur jalan, membuat siswa tak maksimal menerima pelajaran karena kelelahan.

 

Bukan Tolak Ukur

 

Pelaksanaan UN tidak hanya tak bersahabat dengan siswa, tetapi juga kurang pas sebagai tolok ukur kecerdasan siswa. Apalagi ketika kaitkan dengan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang dikemukakan Howard Gardner. Menurut dia, merujuk hasil penelitiannya di Amerika Serikat, seseorang memiliki sejumlah kecerdasan dan itu menjadi satu kesatuan. Namun, tidak semua orang menguasai segala hal karena bisa saja hanya hal-hal tertentu yang menonjol dalam diri seseorang.

Gardner memetakan ada sejumlah kecerdasan, antara lain cerdas dalam bahasa (verbal- linguistik intelegence), kecerdasan dalam berhitung (logical-mathemaical intelegence), kecerdasan ruang (visual-spatial intellegence) yang, misalnya dimiliki arsitek, astronot, pelukis, dan lain-lain, kecerdasan gerak fisik (kinesthetik intelegence), kecerdasan musik, kecerdasan hubungan sosial (interpersonal intellegence), dan sebagainya.

Menurut dia, kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan problematika dalam hidup dan kesehariannya. Dan masing-masing orang punya cara sendiri untuk menyelesaikan persoalannya sendiri. Dengan kata lain, untuk mengatakan seseorang cerdas, bukan berarti orang itu harus mengetahui dan memahami semua hal. Ia bisa saja hanya ahli dan pintar dalam satu-dua hal, dan ia tetap digolongkan cerdas.

Dalam konteks pendidikan, ketika semua mata pelajaran diharuskan mendapatkan nilai bagus, berarti anak telah mengingkari karakteristik dan “keistimewaan” masing-masing anak. Belum lagi jika dikaitkan dengan berbagai fakor lain yang melingkupi anak itu sendiri seperti fasilitas belajar, geografis, latar belakang orang tua, hingga faktor kecemasan ketika ujian yang membuat konsentrasi terganggu ketika menjawab ujian.

 

Metode Ujian

 

Sistem soal pilihan ganda dalam ujian juga menjadi persoalan sendiri.  Sistem demikian membuat siswa dibawa kepada pola untung-untungan. Sehingga, lagi-lagi, nilai bagus bukan jaminan siswa telah memahami pelajaran yang diujikan. Asalkan siswa bisa menebalkan salah satu jawaban, siswa bisa mendapatkan nilai,  meski dia tidak tahu pasti jawaban yang ia pilih adalah benar.

Berbeda dengan soal isian.  Soal isian mengandalkan kekuatan argumentasi anak didik. Ini bisa dilihat bagaimana anak didik menjawab soal. Selain soal isian, ujian bisa dengan metode wawancara. Siswa ditanya oleh penguji di ruang terpisah dengan soal yang sudah diacak, untuk menghindari kebocoran soal. Metode ini dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana kecakapan siswa dalam berbahasa dan mengeluarkan pendapatnya, juga untuk mendeteksi sejauh mana siswa telah memahami isi pelajaran.

Metode ini memang terkesan tidak simple dan rumit, tetapi jika pelaksanaannya dipercayakan kepada masing-masing pemerintah daerah, disesuaikan dengan kualitas pendidikan setempat, dan dikelola oleh tim yang kredible, bukan tidak mungkin metode seperti ini disambut gembira oleh orangtua dan anak didik. Metode ujian seperti ini akan menghindarkan beragam persoalan dalam ujian nasional yang membuat ujian menjadi berkurang kredibilitasnya, seperti kebocoran soal, contek-menyontek, dan sebagainya. Sebab, soal  ujian antara satu wilayah dengan wilayah lain berbeda.

Tujuan pendidikan baru dapat dikatakan tercapai jika siswa mampu menangkap dan memahami materi yang diajarkan. Ini bisa diketahui jika ujian yang dilaksanakan berbentuk soal isian dan test wawancara. Karenanya proses menjadi penting.

Pakar pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approuach,  John Dewey, mengatakan bahwa pendidikan merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinforcement),  hingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada diri sebagai hasil pengalaman (learning is a change of behaviour as a result of experience).

Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresis dan akumulatif, sampai menuju  kesempurnaan. Misal siswa yang sebelumnya tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (afektive domain) juga aspek psikomotorik (psycomotoric domain)

Jadi, sudah saatnya pemerintah berani membuka diri untuk mengevaluasi pelaksanaan UN. Kembalikan kepercayaan diri siswa dengan metode ujian yang ramah, nyaman dan menyenangkan, bukan dengan perasaan galau dan tegang, apalagi sampai menjadi ‘jerawat’ bagi para siswa. @@@

Sumber  :  hariandetik.com

Entry filed under: Opini. Tags: .

Dari Dunia Kekecewaan ke Hasrat Mengolah Tembakau menjadi Obat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: