Dari Dunia Kekecewaan ke Hasrat

Mei 11, 2012 at 2:00 pm Tinggalkan komentar

Judul Buku   :  Pramoedya Menggugat

(Melacak Jejak Indonesia)

Penulis          :  Prof. Koh Young Hun

Penerbit        :  Gramedia Pustaka Utama

Tebal buku   :  407 (+xxix) halaman

Cetakan 1     :  Desember 2011

 

MENYEBUT Pramoedya Ananta Toer, akan terlintas pada benak kita novel tetralogi Bumi Manusia atau Rumah Kaca. Kita ingat betul, betapa susahnya mendapatkan novel-novel Pramoedya ketika rezim orde baru masih berkuasa. Kalau pun kita bisa mendapatkan novelnya, misal rumah kaca, pembaca akan membacanya dengan sembunyi-sembunyi.

Pramoedya sangat kaya akan pengalaman juga keberanian dalam mengungkapkan pikiran-pikirannya. Hingga tak berlebihan jika nama Pramoedya sangat akrab bagi para pecinta, pembaca juga pelaku sastra di Indonesia. Namanya yang bergaung di dunia sastra internasional, bisa dilihat dari karya-karyanya. Pramoedya telah melahirkan 50 karya,  yang dialihbahasakan tak kurang dari  41 bahasa.

Sosoknya kemudian tak sekedar menjadi milik Indonesia, tetapi juga asia. Pamornya kian kokoh sebagai penulis kelas dunia dengan masuknya Pramoedya sebagai calon penerima hadiah nobel sejak tahun 1980-an. Dan pada tahun 1986 Pramoedya hampir menerima penghargaan bergengsi itu.

Kekuatan novel Pramoedya adalah pada sikapnya. Pramoedya tak sekedar menumpahkan ide dan gagasan, tetapi Pramoedya yang adalah pelaku sejarah, sekaligus saksi keegoisan penguasa orde lama dan orde baru,  selalu membawa pembaca melihat kembali peristiwa-peristiwa pilu di masa lampau. Peristiwa-peristiwa yang menjadi tabu untuk dibicarakan, justru ia tulis dengan semangat humanisme.

Nilai-nilai kemanusiaan dengan sadar Pram hadirkan sebagai keberpihakkannya pada nasib manusia. Pramoedya sangat percaya bahwa manusia merupakan subyek, pelaku utama dalam memajukan bangsa. Maka setiap karya Pramoedya menampilkan ruh kebebasan, keadilan sosial dan kemanusiaan bagi rakyat kecil.

Hoa Kiau adalah salah satu contoh novelnya yang membela keberadaan manusia. Bagi Pram manusia tak bisa dikotak-kotakkan berdasarkan keturunan. Hoa Kiau kemudian dituduh sebagai pembelaan Pramoedya atas pedagang-pedagang keturunan Cina. Waktu Hoa Kiau terbit, ketika itu menurut undang-undang “PP No. 10/1959 keturunan Cina dilarang berdagang di daerah tingkat kecamatan dan kabupaten. Akibatnya, Pram dipenjara di Cipinang selama sembilan bulan, tanpa proses pengadilan.

Kondisi itu tak membuat Pramoedya jera menuliskan issue-issue tentang kemanusiaan. Baginya, menjadi novelis tak sekedar menyajikan kehidupan, tetapi juga intuisi serta tafsir kehidupan itu sendiri. Karenanya setiap  kisah yang ditulis Pramoedya sangat terasa mewakili kegetiran, perasaan manusia sekitar, hingga akhirnya membumi.

Pembelaannya pada nilai-nilai kemanusiaan ternyata sangat membahayakan dalam pikiran para penguasa. Pramoedya tak sanggup menghadapi kesewenang-wenangan manusia atas lainnya. Ia menolak atas warisan budaya yang kolot, ia pun melawan ketidakadilan kekuasaan kolonial. Pramoedya meyakini bahwa manusia memilliki potensi untuk membangun sebuah peradaban.

Sikapnya yang kritis terhadap penguasa, dan karya-karyanya yang selalu menampilkan persoalan yang luas, membuat Pramoedya diganjar penjara selama tujuhbelas tahun semasa hidupnya. Masing-masing di zaman pejajahan Belanda, orde lama  sampai zaman orba.

Seperti yang diungkapkan dalam Prakata, buku setebal 407 halaman ini mengabarkan jika Pramoedya ditangkap polisi militer Belanda dan ditahan selama dua stengah tahun, karena ia menyebarkan selebaran anti-Belanda.

Pada masa orde lama, meski Pramoedya mendukung ”Demokrasi Terpimpin” ia dipenjarakan juga. Kemudian di masa orde baru, Pramoedya meringkuk selama empatbelas tahun di tanah pengasingan, pulau Buru. Dosa Pramoedya adalah karena ia mengasuh rubrik Lentara, koran Bintang Timur.

Pembaharu

Selanjutnya, selepas dari pengasingan di pulau Buru Pramoedya hadir dengan Tetralogi Bumi Manusia. Novel ini serasa penyejuk di tengah keringnya persoalan-persoalan intelektual yang jarang diangkat sastrawan pada waktu itu.

Membaca Pramoedya Menggugat kita jadi lebih dekat dengan sastrawan penting ini. Kita akan tahu pengalaman batin sang sastrawan yang selalu sadar, hanya melahirkan karya-karya yang bermutu dan istimewa. Keistimewaan karya Pramoedya itulah yang tak berlebihan jika A Teeuw mengatakan, bahwa Pramoedya merupakan penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi, bahkan dalam satu abad.

Pramoedya seperti  tak tergantikan dalam kiprahnya di dunia sastra. Sikap dan pemikirannya yang dituangkan dalam berbagai karya-karyanya, seperti Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Arus Balik, Arok Dedes, Gadis Pantai serta karya-karya lainnya sangat dipengaruhi oleh didikan keluarganya.

Kedua orangtuanya yang memiliki sikap jiwa patriotik nasionalis kiri, mendidiknya untuk menjadi manusia bebas, yang tak malu untuk bekerja.  Didikan seperti itu, pada zaman Pramoedya remaja sangat berlawanan dengan masyarakat lainnya. Sebagian masyarakat pada waktu itu lebih suka menjadi pegawai negeri.

Selanjutnya buku setebal 407 halaman ini akan membawa kita pada kisah kehidupan nyata Pramoedya. Kita akan tahu bagaimana getirnya kehidupan nyata Pramoedya dalam rumah tangganya, juga perjalanan kepenulisannya yang kemudian disangkutpautkan dengan Lekra dan organisasi PKI. Pramoedya menjawabnya dengan terbuka apa dan bagaimana hubungannya dengan  Lekra dan PKI.

Prof. Koh Young Hun, membagi buku ini dalam sebelas bab. Setiap babnya memberi kita pengalaman baru tentang sisi kehidupan Pramoedya,  dan kisah dibalik proses kreatif serta hal-hal yang selama ini tidak diketahui oleh masyarakat luas, termasuk para sastrawan. Dengan bahasa yang ringan kita akan menelusuri Sikap dan Pemikiran Pramoedya di bab II.

Seluk beluk Tetralogi Bumi Manusia ada di bab selanjutnya, kemudian bab IV mengungkapkan Citra Pemberontakan : Perlawanan Orang Samin. Bab-bab selanjutnya mengupas tentang Tanggapan Warisan Budaya Bangsa yang tak kalah menarik. Selanjutnya kita diajak tamasya dengan suguhan Fiksi dan Sejarah : Arus Balik pada bab VIII. Belum lagi tentang Kesejarahan dalam Arok Dedes, Budaya Jawa dalam Gadis Pantai.

Buku yang mendekatkan kita pada Pramodya ini,  menjadi sangat penting kita baca. Terutama para generasi muda,  sebagai bahan pembelajaran terhadap etos kerja dan pentingnya memiliki sikap. Bagi penggemar buku-buku Pramoedya belum lengkap tanpa membaca Pramoedya Menggugat.

 

Dianing Widya, Novelis.  Mengelola Lembaga Sosial Spirit Kita (http://spiritkita.org)

Dimuat di harian detik.com

 

Entry filed under: Resensi Buku. Tags: .

Penjara dalam Tubuh Jerawat itu Bernama Ujian Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: