Ketika Berita seperti Telenovela

Februari 9, 2012 at 5:16 am 2 komentar

DALAM sepekan terakhir kasus tabrakan maut di Tugu Tani mendapat perhatian khusus dalam masyarakat kita. Media, cetak maupun elektronik, begitu gencar memberitakannya dalam berbagai sudut.  Apriyani, pengemudi mobil yang menabrak 12 orang itu – sembilan di antaranya meninggal dunia – mendadak jadi pusat perhatian. Perhatian yang ditujukan padanya, tentu saja, bersifat negatif.

Apriyani dikecam dimana-mana. Apalagi setelah polisi merilis hasil pemeriksaan urine bahwa ia dan tiga rekannya positif mengkonsumsi narkoba sebelum kejadian pada Minggu siang, 22 Januari itu. Ia makin serta-merta menjadi sosok yang dinilai layak dikecam. Ia betul-betul menjadi tokoh antogonis seperti dalam sinetron: sosok yang berperilaku buruk dan menjadi musuh bagi tokoh orang baik-baik.

Dalam sinetron, tokoh antogonis semacam ini, berperan penting untuk menciptakan drama. Itu pula yang dilakukan oleh media, terutama televisi, yang menghadirkan pemberitaan dengan bumbu drama yang kuat. Hampir semua pemberitaan cenderung negatif dan menempatkan Apriyani dalam konteks antagonistik. Nyaris tak ada ruang yang menempatkan tokoh ini dalam bingkai yang lebih proporsional. Hanya sedikit media yang menguak perilaku positifnya selama ini, misalnya rajin ke pengajian di lingkungan tempat tinggalnya.

Televisi, dengan kukuatan gambar dan kecepatannya, mampu menghadirkan peristiwa itu bak reality show lengkap dengan bumbu-bumbu dramatiknya: ada gambar peristiwa yang diulang-ulang, tayangan keluarga korban, keluarga Apriyani, hingga tuntutan minta maaf yang tak hanya kepada Apriyani, juga kepada keluarganya.

Publik, yang diwakili media itu, seperti lupa bahwa Apriyani berada dalam tahanan polisi dan kala itu media belum ada yang sempat menemuinya. Sementara keluarga, yang ketika dihadirkan ke hadapan publik di sebuah televisi, langsung meminta maaf atas kesalahan Apriyani. Namun, hal ini menjadi semacam suspense yang diciptakan agar peristiwa ini terus menarik untuk disaksikan. Di lain pihak, hal ini makin memperosokkan Apriyani, sekaligus keluarganya, dalam penderitaan lain.

Mereka tidak hanya telah mengalami siksaan mental akibat kecelakaan yang merenggut nyawa 9 orang itu, juga ikut menanggung hujatan dan cercaan dari mana-mana. Lagi-lagi, ini memperlihatkan betapa media begitu dahsyat menciptakan image dan citra tertentu. Media, terutama televisi, memainkan peran strategis untuk menyetir opini publik sesuai kecenderungan dan tuntutan publik itu sendiri.

Jadi, buat televisi, ketika ada drama yang bisa dimainkan, peristiwa pun dibuat seperti sinetron: ada air mata, ada tokoh baik dan buruk yang dipertentangkan secara tajam, ada adegan yang mengiris dan melankolis, lengkap dengan dialog (wawancara) yang menguras air mata atau menonjolkan emosi. Televisi memproduksi makna dengan caranya sendiri — yang ujung-ujungnya adalah rating dan ketertontonan.

Dalam bahasa Marcel Danesi, seorang profesor semiotika dari  University of Toronto (2010: 347), televisi membuat sekaligus mendokumentasikan sejarah secara bersamaan. Kekuatan televisi dalam membuat sejarah telah mendorong banyak orang mengatur peristiwa agar dapat diperlihatkan di depan kamera. Para pengelola televisi sangat paham akan hal itu.  Ia ditonton jutaan pasang mata yang ingin menyaksikan realitas yang tidak biasa-biasa saja.

Maka itu, televisi pun memproduksi realitas yang berbeda, bukan realitas biasa saja, tapi realitas yang telah dikemas sedemikian rupa. Ia menjadi realitas baru, yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Aroma melankolik yang diperlihatkan dalam sinetron di Indonesia, dan mendapatkan rating bagus hingga menghasilkan berpuluh bahkan beratus episode, dipraktekkan pula dalam mendekati sebuah peristiwa, terutama peristiwa yang mampu menggugah emosi massa.

Dalam konteks kasus Apriyani, ia semata-mata dipersepsikan sebagai pelaku yang seperti berlaku sengaja. Padahal, bagi Apriyani sendiri, peristiwa itu adalah musibah buatnya. Artinya, ia bukan cuma sebagai pelaku (penabrakan), tapi sekaligus korban dari peristiwa itu. Ini lepas dari apa pun yang mendorong terjadi kelalaian yang menyebabkan kecelakaan itu — apakah karena pengaruh narkoba atau karena mengantuk akibat semalaman begadang.

Jelas tidak ada dalam kamus siapa pun untuk melakukan kesalahan sedemikian rupa – kecuali ia memang sedang menuju bunuh diri. Kasus Apriyani mestinya lebih dilihat sebagai sebuah kecelakaan ketimbang menciptakan kesan bahwa itu sebuah perilaku membunuh. Kedua hal ini jelas berbeda. Kecelakaan lahir akibat adanya sesuatu yang diluar jangkauan manusia, bukan kesengajaan. Sementara perilaku membunuh hadir dengan sengaja.

Nah, jika dilihat dalam konteks kecelakaan, harusnya kecaman maupun hujatan terhadap dia tidak perlu sampai begitu berlebihan. Lagi pula sudah ada perangkat hukum yang akan menjerat setiap pelanggaran dan kelalaian. Selama ini, kasus-kasus kecelakaan — lihat misalnya kasus kecelakaan yang ditimbulkan oleh sopir bus Sumber Kencono yang ugal-ugalan – tidak sampai sedemikian massif untuk mengecam pelakunya ketimbang kasus ini. Padahal dari sisi jumlah korban jauh lebih banyak.  Selama 2011, Sumber Kencono mengalami 21 kasus kecelakan dengan korban meninggal 36 orang.

Atau lihat pula kasus kelalaian pemeliharaan jembatan Kutai Kartanegara yang mengakibatkan puluhan orang meninggal karena jembatan itu ambruk. Efek emosional yang ditimbulkan oleh pemberitaan televisi tidak semassif kasus kecelakaan oleh Apriyani. Sangat sedikit keluarga korban yang diwawancarai dan ditampilkan. Boleh jadi ini diakibatkan oleh beberapa faktor, misalnya jauhnya lokasi sehingga ada hambatan dalam pencarian berita dan penayangan. Faktor lain, boleh jadi berita itu tidak terlalu seksi karena peristiwanya jauh di seberang sana, bukan di Jakarta yang menjadi kiblat peristiwa.

Tapi apa pun faktornya, semestinya, media menyediakan ruang yang proporsional dalam mempertunjukkan sebuah peristiwa. Jangan sampai terjadi media semata-mata terjebak pada kepentingan-kepentingan ekonomis (tingkat keterbacaan, iklan, dan rating) sehingga mengabaikan aspek-aspek manusiawi orang yang menjadi sumber berita. Sehingga ia menggunakan kaca mata tertentu (framing) dalam menyajikan peristiwa sesuai kepentingannya.

Justru yang harus dilakukan media adalah mendudukkan persoalan pada proporsi sebenarnya. Media mestinya menjadi penjernih sebuah informasi.  Dengan begitulah, media – terutama televisi — tidak terjebak dalam praktik sinetron atau telenovela. ***

hariandetik, 2 Februari 2012

 

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Ketika Berita seperti Telenovela. Cara Seno Gumira Ajidarma Mengkritik Penguasa

2 Komentar Add your own

  • 1. iasazhary  |  Februari 12, 2012 pukul 10:23 am

    iy, gue jg stuju..
    Media itu bs jd fitnah tersadis, tp bs sngt membantu..
    Hmpr sama kyk ganja y, tp g d haramkan.. :p

    Balas
    • 2. dianing  |  Maret 19, 2012 pukul 12:22 pm

      Terimakasih mas Iasazhary, iya demikian realita yang kita hadapi. Semoga kita bisa menerima berita dengan tidak menelannya mentah-mentah. Salam.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Februari 2012
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: