Asisten Rumah Tangga

Desember 29, 2011 at 6:34 am Tinggalkan komentar

LIBURAN tiba. Bukan anak-anak sekolah saja yang gembira, ibu-ibu seperti saya juga gembira. Setiap pagi bisa lebih santai sedikit. Bangun siang sedikit boleh, masak siang sedikit boleh, nggak masak juga boleh. Di warung makan sudah tersedia berbagai masakan, kita tinggal memilih yang kita suka.

Pagi ini saya mengunjungi mbak In, sekalian memberi undangan hajatan dari orangtua murid, teman sekelas Najwa. Sampai di sana saya langsung ke dapur. Dapur mbak In berada di samping kiri pintu utama. Jadi kalau ada tamu, lebih suka ke dapur lalu duduk di teras, persis di depan dapur.
Saya lihat mbak In baru saja selesai mencuci piring. Di atas kompor ikan tengah digoreng. Dalam hati aku menggerutu, salah waktu berkunjung.

“Duduk Jeng,” ujar mbak In mematikan kompor, lalu meniriskan ikan di saringan. Menaruhnya di atas mangkok.
“Murni pulang kampung Mbak?” tanya saya sambil menarik kursi.
“Nggak, itu sedang mencuci baju.” Saya menaruh undangan di atas meja makan.
“Dari mama Fairuz.” Mbak In mengambil undangan hajatan khitan dengan foto dua anak laki-laki.
“Ma, Najwa sudah selesai ngepel lantainya.” Saya menautkan kening. Setahuku Murni menginap di rumah mbak In. Seluruh pekerjaan rumah tangga menjadi tanggungjawab Murni, tetapi yang saya lihat mbak In yang mencuci piring dan memasak. Lalu Najwa baru saja ngepel lantai.
“Mbak In ngapain repot nyuci piring, masak sama ngepel. Bukannya ada Murni.” Mbak In tersenyum.
“Mbak bisa melakukan pekerjaan lain, toh sudah ada pembantu.” Mbak In tersenyum lagi. Ia menaruh undangan ke meja, lalu menatapku.

“Jangan sebut dia pembantu, kurang enak didengar Jeng.”
“Lha nyatanya kan memang pembantu, kita gaji untuk kita suruh-suruh.” Lagi-lagi mbak In tersenyum.
“Saya lebih suka menyebut orang seperti Murni, dengan sebutan asisten atau staf rumah tangga Jeng. Kehadirannya dalam rumah tangga kita, hanya sebagai asisten. Tidak semua pekerjaan kita serahkan ke dia. Sifatnya hanya membantu. Selama kita bisa mengerjakan, kenapa tidak kita kerjakan sendiri.”

Deg. Saya lupa, tengah bicara dengan perempuan yang sangat memuliakan pembantu. Mbak In setiap minggu meliburkan Murni. Sehari penuh Murni boleh bermain ke mana saja Murni mau, bersama teman-temannya. Tak hanya itu, mbak In juga memasukkan Murni ke kursus menjahit, sesuai keinginan dan bakat Murni. Murni memang tak ingin menjadi pembantu rumah tangga selamanya. Ia ingin menjadi penjahit kelak setelah berumahtangga.

Saya merasa ditampar dengan sangat lembut oleh mbak In. Selama ini saya kurang arif dalam memperlakukan pembantu. Saya masih suka seenaknya menyuruh-nyuruh pembantu saya, untuk melakukan ini dan itu, padahal saya bisa melakukannya sendiri. Pelan-pelan juga saya merasa malu sendiri. Mbak In, untuk menyebut Murni saja lebih suka dengan sebutan staf atau asisten.

“Mereka banyak berjasa kepada kita Jeng. Tanpa mereka saya belum bisa menjadi seperti sekarang. Selayaknya kita muliakan mereka.” Saya mengangguk. Mengamini ucapan mbak In.
Asisten atau staf rumah tangga itu juga manusia. Punya hak untuk kita hargai dan dimanusiakan. Bukan disuruh-suruh melulu.

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Sembilu Memperbarui Persepsi Tentang Ganja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2011
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: