Sembilu

Desember 19, 2011 at 2:28 pm 2 komentar

MATAHARI runtuh di kepala laki-laki berwajah tirus itu. Toko bahan bangunan yang bertahun-tahun menjadi sumber penghasilan ludes. Api tanpa belas kasih menghanguskan semua harapan. Semua yang ada di depannya tinggal asap dengan ekor putihnya yang muncul dari sela-sela reruntuhan.

Dari sela-sela benda yang hangus itu tampak benda putih kecil kehitaman bopeng di sana-sini. Pelan-pelan laki-laki itu membungkukkan badannya. Mengambil benda itu dan menidurkannya di telapak tangannya. Menggenggamnya. Ia merasakan kehangatan di telapak tangan itu menghunjam ulu hatinya.

Istrinya dari kejauhan merasakan perih suaminya. Terbayang masa depan yang sepi. Tanpa penghasilan, tanpa anak-anak yang bisa menemani mereka. Dengan langkah terseret perempuan itu mendekati suaminya. Menyentuh bahu kanannya. Sentuhan tangan itu seolah ingin berkata bahwa kita tak perlu larut dalam duka.

Pelan-pelan laki-laki itu membuka telapak tangannya. Tampak oleh istrinya kunci gembok yang merana.
“Kita miskin Bu, ” ujar laki-laki itu hampir tak terdengar.
“Sabar Pak,” balas istrinya dengan parau masih memandangi kunci gembok yang terkulai. Laki-laki itu memejamkan mata, kemarin ia masih berada di belakang meja dengan kalkulator yang aktif karena banyak pembeli. Sekarang keduanya saling diam, memandangi asap yang keluar dari kepingan-kepingan keringat mereka.

* * *
Sejak kebakaran yang menyakitkan, laki-laki tua itu tak mau lagi mengunjungi bekas tokonya. Ia trauma. Ia lebih sering berada di kamar. Seperti saat sekarangi ini. Usaha yang ia bangun sejak remaja hingga berkeluarga, dari nol hingga ia punya kios sendiri dengan omset yang membuatnya mampu menyekolahkan ketiga anaknya sampai sarjana, bahkan kedua anaknya tanpa ia sangka kini memiliki jabatan penting. Si sulung Dharma menjadi salah satu petinggi negara, Srikandi seperti cita-citanya di masa kecil menjadi hakim.
Mengingat itu laki-laki tua tak risau dengan kehidupan Dharma dan Srikandi. Ia dengar Dharma memiliki perusahaan papan atas. Dulu ia terkejut ketika tahu bahwa calon besannya adalah konglomerat terkenal. Ia sangat minder, bagaimana mungkin hanya pedagang bahan bangunan biasa berbesan dengan pengusaha kelas kakap. Dari besan inilah yang kemudian mengubah hidup Dharma. Ia dipercaya besannya untuk mengendalikan salah satu perusahaannya setelah dikuliahkan di Amerika

Ia hampir pingsan ketika Dharma pamitan hendak tinggal di Amerika bersama istri selama beberapa tahun. Entah bagaimana ceritanya sekarang Dharma bisa menjadi salah satu petinggi negara. Laki-laki itu geleng-geleng kepala. Ia sama sekali tak tahu soal mengurus negara, yang ia tahu bahan bangunan yang ia jual bisa menghidupi keluarganya.

Srikandi sejak kecil suka berdebat dengan siapa pun. Setiap kali ibunya salah bicara, Srikandi akan mengoreksi kalimat-kalimat ibunya. Laki-laki itu ingat saat Srikandi pulang sekolah dengan berlari-lari penuh semangat. Ia mengabarkan jika ia terpilih mewakili sekolah untuk ikut debat antar sekolah sekabupaten. Tanpa ia sangka Srikandi lolos hingga tingkat nasional. Srikandi yang masih SMP membuatnya gentar. Sangat sulit baginya melepas anak perempuan ke Jakarta tanpa ia bisa menemani. Hanya ditemani beberapa guru.

Tiga hari tiga malam hatinya tak tenang. Jakarta dalam pikirannya kota yang tak nyaman dihuni. Hiruk pikuk masalah rumit tumpah di sana. Ia sering mendengar berita-berita aneh terjadi di Jakarta. Kemiskinan yang menggigit, tingginya kriminalitas akibat kemiskinan serta budaya acuh tak acuh. Satu lagi mengemis dijadikan pekerjaan.

Laki-laki itu menghela napas. Sejenak menghembuskannya dengan kasar. Ia pandangi dinding kamar. Di dinding itu potret masa kanak-kanak Dharma, Srikandi dan Gendhis tengah berdiri di depan pintu toko bahan bangunannya. Toko yang ada di dekat pasar. Mulanya ia sewa tetapi pemilik toko membutuhkan uang dan menjualnya. Kesempatan itu ia rebut. Ia beli toko itu. Usahanya terus berkembang hingga ia mampu membeli tanah kosong yang ada di sebelah toko. Tokonya termasuk toko bahan bangunan yang terkenal di kampungnya. Lengkap dan harganya lebih murah dibandingkan toko bahan bangunan lainnya.

Srikandi akhirnya pulang ke rumah dengan piala dan tabungan yang jumlahnya sangat besar bagi hitungan orang kampung. Jika laki-laki itu mencemaskan kepergian Srikandi, Srikandi justru bersemangat ingin melanjutkan SMA di Jakarta. Serta merta laki-laki itu menolak. Baru ketika dibangku kuliah, laki-laki itu meluluskan keinginan Srikandi kuliah di Jakarta.

Laki-laki tua itu menghela napas. Dipandanginya lagi potret masa kanak-kanak ketiga anaknya. Jika Dharma menjadi petinggi negara, Srikandi menjadi hakim, Gendhis jauh sekali dengan mereka. Si bungsu memilih jadi orang aneh, setidaknya itu menurut dia. Gendhis malah masuk ke filsafat. Jurusan yang sama sekali tidak menjanjikan pekerjaan. Lebih aneh lagi Gendhis suka bikin puisi. Menurutnya dunia yang mustahil. Mau makan apa jika pekerjaannya membuat puisi?

Ingatannya kembali ke masa-masa di mana ia sering berbeda pendapat dengan Gendhis. Jika anak bungsu biasanya cenderung manja, Gendhis tidak. Nama yang ia sematkan pada bungsunya jauh dari gambarannya. Gendhis dalam pikirannya dulu akan tumbuh sebagai gadis ayu dan penurut, kenyataan Gendhis tumbuh menjadi perempuan yang keras kepala, keras kemauannya. Karena kekerasannya itu pula ia sempat menghentikan biaya kuliah dan keseharian di Jakarta beberapa bulan.

Ia luluh ketika tanpa sengaja membaca surat kabar ternama di Jakarta mencantumkan nama Gendhis sebagai penulis cerpen berjudul “Ayah”. Surat kabar itu sengaja dibawa oleh Dharma saat mudik ke Jawa. Akhirnya ia merestui langkah Gendhis menekuni dunia yang sangat asing baginya.
Sekarang perhatian Laki-laki itu tertuju pada Gendhis.

“Pak,” panggil istrinya dari luar. Ia hanya diam dan masih saja memandangi wajah Gendhis dalam potret anak-anaknya. Sejenak kemudian ia menunduk. Terbayang lagi api yang membakar tokonya. Terbayang kesulitan beberapa karyawan yang akhirnya menganggur. Untung tabungannya cukup untuk memberi pesangon kepada semua karyawannya, meski hanya dua bulan gaji saja. Terdengar lagi panggilan istrinya, kali ini menyuruhnya untuk makan malam.

Tak ada sahutan, istrinya menghampirinya. Ia ikut larut dengan memandangi potret di dinding itu. Istrinya duduk di sebelahnya dan bertanya bagaimana dengan kabar mereka sekarang, sedang apa mereka.
“Kata orang mereka semua sudah jadi orang Bu.” Mendengar itu istrinya menelan ludah. Ia tak berkata-kata lagi, tetapi ada sesuatu yang aneh mengalir dalam benaknya. Sesuatu yang membuat ia merasa kesepian dan terasing.

* * *
Dunia seperti tak bergerak. Begitu menjemukan. Tiga hari ini kegiatan laki-laki itu hanya duduk dan minum kopi. Biasanya jam sembilan pagi seperti sekarang ini, ia sudah berada di tokonya, siang sedikit rupiah sudah memenuhi laci meja. Laki-laki itu menggeleng-geleng kepala. Keikhlasan tak datang serta merta. Berkali-kali ia dinginkan hatinya untuk mau berdamai dengan kenyataan, tetapi kecewa dan susah datang bagai hantu laut. Begitu dekat dan terus mengikutinya.

Beberapa kali laki-laki itu istighfar, mencoba menyatukan serpihan hatinya pelan-pelan. Semua sudah terjadi. Tak mungkin kembali. Dalam perang batin antara hasrat bisa menerima kenyataan dan tidak itu, terdengar ketukan pintu. Dada laki-laki itu bertalu-talu. Siapa tamu datang pagi-pagi begini. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ia punya hutang kepada seseorang? Sejauh ingatannya tidak.

Pintu diketuk lagi, kali ini ia beranjak dan membuka pintu. Ternyata Gendhis yang datang. Seperti kebiasaan orang Jawa, Gendhis segera meraih tangan laki-laki itu dan mencium punggung tangannya tanda hormat. Anak dan ayah itu kemudian masuk ke dalam rumah. Di sana sudah ada si istri. Gendhis segera menyalami dan mencium tangan ibunya.

“Mana kedua kakakmu Gendhis.”
“Mereka sangat sibuk Ibu.”
“Bagaimana kabar Dharma, ia masih rajin salat dan bersedekah seperti pesan ibu kan?”
Gendhis menelan ludah. Dipandanginya ibunya.
“Dharma hebat bisa jadi pejabat negara,” bapak mengucapkannya dengan bangga.
“Kakakmu Srikandi juga hebat Gendhis, jadi hakim. Kamu tahu hakim itu sangat mulia tugasnya,” sambung bapak lagi tambah bangga.

Gendhis menunduk. Sembilu mencabik-cabik nadinya. Ia tak kuasa melihat sikap bapaknya yang begitu bangga dengan Dharma dan Srikandi. Kalau saja bapak tahu Dharma dan Srikandi tak seperti dalam bayangan bapak, tentu bapak kecewa. Terlebih ibu. Gendhis ingat betul ayah dan ibunya selalu menasehati agar menjadi orang jujur.

“Kejujuran itu kekayaan yang tak bisa dinilai oleh apa pun,” begitu ungkap ibu dulu. Duh perempuan agung itu bagaimana jika tahu kedua anak yang dibanggakan kini tersangkut kasus suap dan korupsi yang merugikan negara dalam hitungan miliar ? Bagaimana sebentuk hati bapak, jika tahu Dharma dan Srikandi yang ditimang-timang dengan iringan doa terbaik, kini menjadi penjajah bagi saudaranya sendiri. Mereka mendapatkan predikat teramat memilukan. Menjadi koruptor. Duh Gusti, tak sanggup Gendhis membayangkan sikap kedua orangtuanya nanti jika tahu siapa Dharma dan Srikandi kini.

Gendhis kini terperangkap antara ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Dharma dan Srikandi atau menyimpannya saja. Entah.

Depok, Oktober 2011

Dimuat Jurnas Minggu, 11 Desember 2011

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Uban dan Keriput Asisten Rumah Tangga

2 Komentar Add your own

  • 1. iasazhary  |  Februari 12, 2012 pukul 10:40 am

    kasian orang tuany para koruptor..
    Eh ya, ini masih ad lanjutanny atau ngga?

    Balas
    • 2. dianing  |  Maret 19, 2012 pukul 12:26 pm

      Betul. kasihan mereka. Semula Sembilu ini hanya cerpen, tapi kalau ada yang ingin membaca lanjutannya akan saya coba🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2011
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: