Uban dan Keriput

Desember 16, 2011 at 1:40 pm Tinggalkan komentar

MINGGU pagi lalu saya gamang untuk ikut senam bersama dengan tetangga di lapangan bulu tangkis di blok sebelah. Sehari sebelumnya saya sudah bersemangat untuk mengikutinya, tetapi kondisi tubuh nggak memungkinkan. Badan satu ini terasa dipukuli orang se RT. Ups. Nggak gitu kali yaa.

Dibandingkan ketika lajang dulu, kondisi tubuh serasa berbeda. Mudah lelah lalu rada-rada demam jika kurang istirahat. Apakah saya sudah tua? Nggak juga. Usia juga baru mengintip kepala 4. Masih muda. Tentu.
“Jeng,” panggilan khas mbak In terdengar dari pintu rumah yang selalu terbuka. Kecuali jika Poppy, kucing betina yang biasa tidur di teras rumah mulai suka masuk ke ruang tamu lalu ke dapur. Dengan terpaksa pintu saya tutup. Poppy memang berbeda dengan pendahulunya Puspita. Puspita termasuk kucing yang santun. Ia kalau sudah saya kasih ikan, tidak lagi mencari-cari ke dapur. Puspita akan mencari sendiri di luar rumah.

Selalu ada yang mbak In bawa kalau ke rumah. Sepertinya dia merasa ada yang kurang jika ke rumah tanpa oleh-oleh. Suami mbak In memang sering keluar kota bahkan propinsi. Kalau nggak makanan khas ya benda yang beraroma etnik. Kali ini mbak In bawa krupuk kemplang lengkap dengan sambalnya.

Tak lama kami hanyut dalam obrolan santai, tetapi ada yang aneh dengan mbak In kali ini. Ia sering menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung.
“Aduuh uban ini kok bikin gatal Jeng kalau mau numbuh.” Saya ingat ucapan mama Adit beberapa hari lalu. Dia cerita kalau rambutnya mau numbuh uban rasanya gatal. Betul atau tidak saya belum tahu. Lha wong satu pun rambut saya belum beruban.

“Rambutmu nggak dicat hitam kan Jeng.” Saya tersenyum.
“Uban itu seksi Jeng, makanya saya nggak pernah punya niat nyemir jadi hitam.” Saya mengangguk.
“Tapi kita jadi kelihatan tua mbak kalau beruban.”
“Emang sudah tua kan?” Saya tersenyum lagi. Teringat akan kondisi tubuh yang tak fit seperti saat remaja.
“Pernah risau nggak sih jika kita nanti beruban, berkeriput bahkan sampai lupa ingatan,” tanyaku.

Mbak diam sejenak. Ia seperti tengah berpikir. Lalu dengan bahasa yang teratur dia bilang bahwa menjadi tua adalah keniscayaan. Masa itu akan datang, tetapi menjadi tua belum tentu menjadi dewasa. Ia katakan ia sangat santai menghadapi proses menjadi tua. Ya ubanan dan timbulnya lipatan halus di wajah.
“Ini anugerah dari yang kuasa, jeng. Tak usah ditutupi melainkan dinikmati. Yang penting kita mesti menjaga kesehatan badan. Dan kamu nih …” tiba-tiba mbak In menatapku.
“Kalau badanmu pegal itu sinyal tubuh ngajak istirahat. Matikan laptop. Jangan FB-an melulu.”
Glek.

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Ranah Pribadi di FB Sembilu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2011
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: