Ranah Pribadi di FB

Desember 7, 2011 at 2:38 pm 3 komentar

SEJAK kenal facebook atau FB, tiada hari tanpa nulis status. Tak terkecuali saya. Tak jarang saya suka melihat-lihat status teman saya. Ada banyak tema dijadikan status, dari tema pendidikan, geliat politik terkini sampai seluk beluk dapur.

Dari status FB kita bisa mengetahui keberadaan seseorang, tetapi setiap kali saya mengunjungi FB mbak In, tak pernah ia menuliskan keadaannya saat ini. Mbak In tak pernah menuliskan tentang perasaannya saat ini, apakah ia sedang sedih, bahagia atau sedang marah. Ia lebih suka menulis status hal yang penting-penting saja. Biasanya dia menulis soal politik, olahraga, terkadang soal pendidikan.

Disaat aku tengah memikirkan mbak In, terdengar salamnya dari ruang tamu. Pintu yang terbuka membuat saya lebih mudah mendengar suara salamnya. Tak lama kami hanyut dalam obrolan ringan, setelah makanan kecil dan air putih saya hidangkan di meja. Ditengah obrolan kami, terdengar suara BB mbak In. Ia segera membuka. Sejenak kemudian ia tersenyum. Membuat saya ikut tersenyum.

“FB Jeng,” ujarnya seperti hendak menjelaskan jika mbak In tengah membuka FB lewat perangkat canggih bernama blackberry. Tak lama mbak In tersenyum lagi. Barangkali ada koment-koment lucu, pikirku. Kali ini mbak In tertawa lirih. Barangkali ada status lucu, pikirku lagi.
“Ealaah …” saya menautkan kening.
“Coba Jeng dengar.” Saya mencoba pasang muka serius.

“Status begini Jeng, pekerjaan sudah selesai. Matahari sudah naik, suami masih tidur mendengkur. Capek deh.” Saya menghela napas.
“Ada lagi Jeng. Sudah pembukaan 2 nih, dag dig dug nungguin istri mo lahiran.” Saya menghela napas lagi.
“Nah yang ini shalat sambil FB-an kali yaa. Masak nulis status shalat dulu yaa.” Saya diam.
“Ada lagi Jeng, ini lebih bagaimana gitu.”
“Bagaimana, gimana Mbak?”

Mbak In malah diam. Membuat aku penasaran. Ia justru memberikan blackberrynya ke saya.
“Coba Jeng baca pantas nggak sih status seperti ini.” Saya menggeleng-geleng kepala. Malu membacanya.
Sejenak suasana hening. Memang tak jarang hal-hal yang mestinya disimpan rapat-rapat. Persoalan yang menyangkut ranah pribadi justru sengaja dirayakan di FB. Bayangkan saja seorang yang cukup dikenal menuliskan masalah ranjang di statusnya. Kemudian ramai-ramai dikomentari oleh teman-temannya. Jadilah hal yang mestinya hanya menjadi konsumsi pribadi bisa diketahui banyak orang.

“Kita ini kok gegar teknologi ya Jeng.”
“Sebagian mbak,” ujarku.
“Mestinya FB itu bisa kita manfaatkan sebagai ajang silaturahim, bukan ajang membuka ranah pribadi.” Saya jadi ingat seseorang yang gagap teknologi alias gaptek. Saya pikir orang yang gaptek jauh lebih beruntung daripada orang yang gegar teknologi.

Orang gaptek masalah pribadinya tak akan diketahui oleh orang lain, tetapi orang yang gegar teknologi masalah pribadinya bisa diketahui orang lain.

Depok, 7 Desember 2011

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Seni dan Olahraga Uban dan Keriput

3 Komentar Add your own

  • 1. sakrilegi  |  Desember 7, 2011 pukul 11:05 pm

    kesimpulan terakhirnya itu loh..

    nendang! hehehe

    Balas
  • 2. Dianing Widya Yudhistira  |  Desember 16, 2011 pukul 1:44 pm

    Makasih yaa

    Balas
  • 3. Merlyn Revelia  |  Agustus 25, 2013 pukul 10:30 pm

    Cukup lama saya ingin membaca artikel tentang publikasi hal pribadi ataupun hal-hal sepele di social media dan akhirnya saya menemukan pembahasannya di artikel Mbak Dianing ini🙂

    Saya pernah berpikir, hanyalah remaja yang sering meng-update hal-hal yang bersifat pribadi, hal-hal yang tidak penting untuk orang lain tahu. Namun, ternyata ada beberapa orang berusia 30 tahun ke atas yang mengupdate layaknya remaja. Selain itu, semakin hari saya semakin mendapati bahwa social media seperti hanya digunakan untuk ajang pamer (makan di mana, makan makanan mewah apa, bertemu denggan siapa, sedang belanja di mana, habis belanja apa), termasuk pamer aib orang lain (menghina seseorang). Jadi sering kali 80% informasi yang didapat hanyalah informasi tak berguna.

    Untuk update status yang kesannya personal, saya punya asumsi hal ini serng kali dilakukan oleh orang Indonesia. Saya ingin tahu apakah orang-orang Eropa pun melakukan hal yang sama?

    Maraknya publikasi informasi personal, sering kali saya dapati bahwa mereka ” berjiwa sosial” hanya di media sosial, ketika bertemu di kehidupan sosial yang nyata, sikapnya berbeda sekali, tidak respek.

    Saya jadi memikirkan betapa damainya arus informasi zaman-zaman kakek-nenek saya, Mbak. Mereka hanya berkirim surat dan hebatnya tidak ada orang yang berani membuka isi surat selain orang yang dituju di surat tersebut. Saya menganggapnya sebagai menghormati privasi orang lain. Kalaupun mereka sedang galau, mereka mungkin hanya melampiaskannya di dalam buku diary dan saya yakin bukan hanya menuangkan ocehan-ocehan saja, namun disertai solusi yang mereka pikirkan dan yang terpenting, mereka langusng mengambil tindakan untuk memperbaiki keadaan,bukan hanya melampiaskan dengan kata-kata🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2011
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 101,550 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 14 hours ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 2 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: