Menikah

Oktober 18, 2011 at 12:29 pm 2 komentar

Dianing Widya Yudhistira

AKU menggeleng tegas di depan Indra. Dari air mukanya aku tahu jelas langit telah runtuh dalam tubuhnya. Lamarannya aku tolak. Aku menolaknya bukan karena wajahnya yang pas-pasan, bukan juga karena dia pemuda tanpa penghasilan. Postur tubuhnya tinggi atletis, dengan hidung mancung serta bola mata yang mampu menggetarkan rasaku. Aku sering dibuatnya cemburu jika ia tengah berbincang-bincang dengan teman perempuan di kantorku.

Ia laki-laki yang hampir tanpa cela. Jenjang pendidikannya lebih tinggi dari aku yang sarjana. Aku memang lebih menyukai laki-laki yang tingkat kecerdasannya di atasku, bukan di bawahku. Laki-laki atau suami bagiku bukan sekedar teman hidup di rumah, melainkan pendukung karir istri.
Indra sosok paling ideal. Ia sangat peduli dengan isu-isu perempuan. Ia sangat mendukung perempuan dalam berkarya.
“Aku ingin istriku kelak bukan istri yang pekerjaannya di dapur melulu, tetapi istri yang mau tampil ke depan.” Ucapnya suatu ketika. Saat itu aku membayangkan betapa senangnya jika punya suami seperti Indra.
Lalu apa alasanku menolak Indra? Ini masalahnya. Aku seringkali melihat sosok bapak ada pada setiap laki-laki. Entah berapa laki-laki yang datang dan pergi dalam hidupku. Aku selalu menjaga jarak jika aku mulai membaca bahasa tubuh laki-laki telah tertarik padaku. Lalu dengan tegas aku menolak jika diajak menikah. Aku takut nasib buruk ibuku diwariskan kepadaku.
* * *

Aku tak ingat persis ketika bapak pergi meninggalkan rumah. Ketika itu entah aku kelas satu atau kelas dua Sekolah Dasar atau malah kelas tiga. Yang aku ingat ayah pergi tak lama setelah kakek menanam pohon samboja di halaman rumah.

Aku heran mengapa kakek menanam Samboja. Mengapa bukan pohon yang lain? Samboja biasanya berdiri kokoh di makam, daunnya lebat seolah menaungi jasad yang tertanam di bawahnya. Tetapi daunnya yang menua seringkali terkulai di tanah mengabarkan betapa manusia fana. Sejak ada samboja aku selalu dihantui pikiran buruk. Aku takut peristiwa buruk akan menimpa keluargaku.

Hingga di subuh yang belum sempurna. Aku terjaga oleh percakapan bapak dan ibuku. Kalimat-kalimat mereka saling berkejaran susul menyusul tak ada jeda. Ibu dengan suara tak tertahan memohon kepada bapak untuk memperhatikan aku dan adikku yang masih bayi. Memang Bapak jarang di rumah.

Biasanya seorang bapak akan pergi pagi-pagi lalu pulang sore. Atau pergi agak siang dan pulang agak malam, tetapi bapak selalu pulang larut malam dan bangun untuk pergi lagi di sore hari. Setiap kali Ibu bertanya hendak ke mana, bukan jawaban yang ibu terima melainkan caci maki dan tak jarang bapak memukul ibu.
Percakapan Bapak dan Ibu kian riuh. Aku tertegun jika selama ini Ibu cenderung menurut dan menerima amarah bapak dengan legowo, pagi ini ibu seperti menumpahkan semua yang ibu rasakan. Ibu mengeraskan suaranya di depan bapak. Aku buka selimut lusuhku, melemparnya begitu saja. Ketika sampai di ruang tengah, bapak sudah tak ada.

Usai itu ibu menyiapkan makan pagiku dengan wajah muram, bahkan ibu lupa mengusap keningku saat aku berpamitan ke sekolah. Hampa rasanya pagi itu tanpa usapan tangan ibu di dahi. Aku berangkat sekolah dengan pikiran dan hati ke Bapak. Sejak kepergian sebelumnya aku belum sempat bertemu bapak.

Aku hela nafasku pelan-pelan. Semula ibu masih berharap bapak akan pulang. Ibu mengunjungi rumah nenek dari bapak juga mengunjungi rumah keluarga bapak lainnya untuk menanyakan keberadaan bapak. Setelah satu bulan tanpa kabar juga tanpa nafkah, ibu mulai bekerja siang malam demi aku dan adikku yang masih bayi. Mungkin saat itu adikku berusia tujuh bulan.

Mula-mula ibu mencoba menjadi pembantu rumah tangga, tetapi hanya bertahan sampai sebulan saja. Adikku sakit-sakitan karena kurang terurus. Ibu berpikir keras. Tak mungkin tak bekerja atau mengandalkan belas kasihan dari saudara lain. Akhirnya satu-satunya tanah warisan milik ibu, ibu jual. Ibu gunakan untuk membuka warung di samping rumah. Biar tetap bisa menjaga adik juga menjaga aku, begitu ibu menjelaskan.
Ibu sangat keras dalam bekerja. Ibu tak hanya berjualan sembako tetapi ibu juga berjualan gado-gado di depan warung. Ibu bilang berjualan gado-gado untuk menarik tetangga datang ke warung. Beruntung sembako ibu terus berkembang hingga akhirnya ibu tak punya waktu membuat gado-gado. Setiap hari aku ditugasi ibu untuk menjaga adik sambil belajar. Dari pengalaman ibu, ibu ingin aku bisa sekolah tinggi agar kelak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

Ibu mewujudkan keinginannya menyekolahkan aku hingga ke perguruan tinggi. Sejak aku duduk di SMA ibu selalu mengobarkan semangat agar aku kuliah. Terus terang aku tak yakin kalau ibu bisa menyekolahkan aku ke perguruan tinggi. Aku takut ibu tak mampu membayar uang kuliahku. Kekhawatiran lain aku takut jika kuliahku berhenti di tengah jalan. Mengingat biaya kuliah sangat mahal, dan ibu hanya bekerja sendiri.
Setiap kali aku sampaikan kekhawatiranku pada ibu, ibu justru tambah semangat. Ibu menyakinkan aku bahwa ia sanggup menyekolahkan aku dan adikku sampai sarjana.

“Apa pun yang terjadi Tiara, kamu harus jadi sarjana. Kamu harus jadi orang,” begitu kalimat ibu berulang-ulang. Hingga aku akhirnya memantapkan diri untuk kuliah.
Sungguh jauh dalam lubuk hatiku, aku tak sampai hati melihat ibu bekerja siang malam sendirian. Aku mulai berpikir tidak hanya membantu tenaga, tetapi aku harus melakukan sesuatu. Aku harus bisa menghasilkan uang sendiri. Aku harus bekerja, tetapi aku bingung harus bekerja apa. Aku tak punya kelebihan.
Aku memang perempuan aneh, setidaknya ini menurutku. Aku tak suka memasak, padahal kalau aku pandai memasak aku bisa berjualan dari hasil masakanku. Berjualan roti bolu misalnya, seperti yang dilakukan bulekku. Ia membuat roti bolu dalam loyang lalu diiris-iris, ditaruh dalam tempat yang tertutup dan dititipkan di warung-warung. Untungnya lumayan besar. Menjahitpun aku tak bisa. Kelebihanku hanyalah suka membaca sejak kecil. Buku apa saja aku baca, koran bekas yang sudah dipotong-potong pun bisa menjadi bacaan.

Iseng-iseng aku mencoba untuk menulis puisi, seperti yang dilakukan tetanggaku. Ia penulis puisi, cerita pendek juga novel. Tetanggaku itu seringkali pergi jauh karena sering diminta menjadi pembicara. Aku pikir sangat menyenangkan bisa bepergian ke berbagai kota. Aku ingin menjadi penulis seperti tetanggaku.
* * *
Keinginanku tercapai, setidaknya keinginan minimalku. Puisi dan cerpenku mulai bertebaran di media masa ketika aku masih kuliah. Hasilnya lumayan, aku bisa meringankan beban ibuku. Percaya diriku pun tumbuh. Gelar sarjana berhasil aku persembahkan untuk ibu.
Aku lihat ibu menitikkan air mata sebelum akhirnya memeluk dan mencium keningku di hari wisuda. Waktu itu adikku naik kelas tiga SMU. Hatiku berseru aku harus bisa membantu ibu menyekolahkan adik hingga sarjana. Aku bertekad aku harus jadi orang sukses, demikian juga dengan adikku. Biar pun kami tumbuh dengan tidak normal, tanpa kasih sayang seorang bapak kami tak boleh kalah dengan hidup ini.
* * *

Kini aku dan adikku hidup berkecukupan. Peluh ibu di masa lalu membuahkan bahagia, dan kami akan mempertahankan kebahagiaan ibu. Tapi di senja ini, ibu menghampiriku. Mempertanyakan satu hal yang tak pernah aku duga. Mengapa aku menolak lamaran Indra. Lidahku kelu. Aku pandangi langit senja yang kali ini tak menarik benakku. Aku tak suka dengan pertanyaan ibu.
“Indra laki-laki ketiga yang kau tolak Tiara,” ucap ibu seperti mengeluh.
Terbayang bapak yang meninggalkan aku, adikku dan ibu. Terbayang masa yang menenggelamkan ibu dalam kesulitan. Betapa kasihan aku pada adikku. Pasti ia merasakan cemburu seperti yang aku punya. Dulu aku sering dilanda iri setiapkali melihat teman-teman sekolah diajak jalan-jalan oleh ayah mereka di akhir pekan, atau ketika pengambilan rapor. Aku sering tersiksa oleh perasaan iri dan cemburu itu.

Aku tidak mungkin menikah. Aku tak mau anakku mengalami pengalaman pahit seperti aku. Aku ingin melajang. Untuk apa menikah jika nanti menderita karena dikhianati.
“Jangan menghukum orang yang tak bersalah Tiara,” ucap ibu membaca pikiranku. Aku menelan ludah.
“Tak setiap laki-laki itu seperti bapakmu.” Aku menatap ibu.
“Menikahlah.” Aku menelan ludah. Terbayang sosok Indra yang lembut, sabar dan penuh perhatian. Aku menatap mata Ibu yang senantiasa mencipta kesejukan di hatiku. Terus terang Ibu aku trauma jika melihat masa lalu. Aku takut setiap laki-laki seperti Bapak.

Ibu mendekatiku lebih dekat lagi. Disentuhnya kepalaku ditariknya dan dibimbingnya bersandar di bahu kanan Ibu. Kalimat yang sejuk mengalir dari Ibu, bahwa kita tak mungkin hidup sendiri di dunia. Jika nanti ada masalah di tengah jalan, itu menandakan kita masih hidup.
Entah kekuatan apa yang akhirnya membuatku mau menerima Indra sebagai suami. Jika kelak ada masalah di tengah perjalanan, aku pasti mampu menghadapinya.

Depok Agustus 2011

Dimuat tabloid Nova, edisi 03 – 09 Oktober 2011

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Rawat Anak Kita dengan Cinta Sayangi Anak Kita

2 Komentar Add your own

  • 1. Ungu  |  Desember 26, 2011 pukul 2:43 am

    Cerita yang sangat bagus mbak, mengingatkan bahwa semua orang punya potensi dan bisa berkarya sesuai kemampuan diri.

    Balas
    • 2. dianing  |  Desember 29, 2011 pukul 6:39 am

      Terimakasih apresiasinya, iya setiap orang punya kelebihan masing-masing.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2011
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: