Rawat Anak Kita dengan Cinta

Oktober 14, 2011 at 1:11 pm Tinggalkan komentar

MINGGU pagi itu, kami keluar rumah di kawasan Depok menuju Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Kami ingin menikmati hari tanpa kendaraan yang jatuh pada Minggu terakhir tiap bulan di Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. Nah di jalan, beberapa ratus meter sebelum Sudirman, kami singgah di sebuah kedai kecil yang menjual mie ayam.

Sambil menunggu pesanan mie ayam, kami menikmati makanan kecil yang tersedia. Tak jauh dari tempat itu, terdapat satu rumah yang tampaknya merupakan gudang menyimpan barang-barang dagangan. Tempat itu dihuni oleh satu keluarga muda dengan empat anak yang masih kecil.

Pagi itu, ayah-ibu mereka hendak berjualan di sekitar Sudirman–Thamrin. Mereka sudah siap di atas sepeda motor, tiga anaknya yang masih berusia kira-kira 6 tahun, 4 tahun, 3 tahun. Si bungsu ada dalam gendongan ibunya karena masih bayi. Anak ketiga, perempuan. Usianya kira-kira tiga tahun.

Anak perempuan itu tak mau turut serta. Ia menangis. Ibunya memanggilnya dengan berteriak serta marah-marah, menyuruh anak perempuan itu cepat naik ke motor. Si anak bukannya memenuhi keinginan ibunya, ia malah tambah menangis. Ibunya tak puas, lalu turun dari motor. Si anak tetap menangis dan menolak ikut. Ibunya yang sedang menggendong bayi kira-kira tujuh bulan itu, mulai marah berteriak-teriak mengumpat anak perempuannya, dengan ucapan tak pantas.

Saya terhenyak. Seumur hidup saya, sejak kanak-kanak hingga remaja, ibu saya tak pernah menghardik saya. Tetapi pagi itu, di depan mata saya, seorang ibu meracau hebat di hadapan anak perempuan berusia sekitar tiga tahun.
Si anak itu tetap menangis. Kali ini, ayahnya ikut menghardik dan memarahi anak itu. Wajah ayahnya merah dan memaksa anak itu agar segera ikut naik motor. Tetap saja anak perempuan itu menangis dan menolak. Akhirnya si ibu mencubit lengan anak perempuan itu puas-puas. Tangisnya tambah keras.

Hatiku teriris melihatnya. Edgina, 2 tahun, si bungsu kami, saya peluk erat-erat. Ibu itu dengan amarah menarik lengan, mengangkat paksa dan mendudukkan anak itu di sadel sepeda motor dengan sangat kasar. Ayahnya ikut menghardik: “Diam!”

Saya menghela napas. Suami saya yang duduk di depan saya geleng-geleng kepala. Mata anak tertua saya yang berumur 12 tahun, Fira Meutia, berkaca-kaca. Sedangkan Rizki, 8 tahun, hanya diam dan memandangku. Aku menelan ludah. Tukang mie ayam, tanpa kami tanya menjelaskan keluarga itu terbiasa menghardik anaknya, hampir setiap pagi, ketika hendak mempersiapkan diri untuk berjualan di kawasan Sudirman.

Kita, seringkali masih terbawa pada kebiasaan menjadikan anak sebagai obyek, bukan subjek. Anak harus menuruti kehendak orangtua. Harus patuh dan turut pada aturan-aturan orangtua, tanpa berkesempatan untuk “bernegosiasi” dengan aturan-aturan kita. Padahal, aturan-aturan kita itu belum tentu cocok dan pantas pada mereka. Apalagi anak yang masih sangat kecil, mereka tentu belum mengerti apa yang kita mau.

Di sinilah konflik sering terjadi. Dan sebagian orang tua merasa paling benar, dan anaklah yang salah. Maka itu, sang anak pun dimarahi, dihardik, bahkan dikerasi. Kita lupa, setiap anak memiliki jiwa merdeka, punya keinginan-keinginannya sendiri, bahkan tafsirnya sendiri terhadap apa yang mereka lihat dan hadapi, termasuk aturan-aturan kita. Jadi belum tentu apa yang kita pikirkan atau inginkan bisa sama dengan pikiran si anak.

Sebenarnya, secara asasi, anak bebas menentukan sikapnya sendiri. Kewajiban kita adalah melindungi dan meyayangi mereka, memberi pengertian-pengertian, dan membekali mereka dengan pengetahuan dan ajaran-ajaran moral. Lalu bagaimana jika mereka menolak keinginan kita, seperti kasus di atas. Di situlah diperlukan “kewarasan” kita untuk berdialog, membujuk, memberi pengertian-pengertian dengan semangat cinta dan kasih sayang, dengan senyum tulus, bahkan mungkin dengan sebuah hadiah kecil, bukan dengan semangat kemarahan, apalagi kekerasan.

Dan ternyata, kekerasan anak tidak saja berbentuk fisik. Kekerasan psikis jauh lebih berbahaya bagi perkembangan dan tumbuh kembang mereka dan ini seringkali tak disadari oleh orangtua. Misalnya, menekankan anak untuk menjadi yang terbaik di kelasnya, mengharuskan anak menjadi peringkat pertama, adalah salah satu contoh bentuk intimidasi yang sangat menekan kejiwaan anak.

Lalu anak diharuskan belajar siang-malam, sampai tak sempat bermain, agar nilai semua mata pelajaran bagus. Padahal setiap anak memiliki kecerdasan masing-masing. Setiap anak berhak untuk mendapatkan waktu untuk dirinya, bermain dengan teman-temannya, menekuni hobi, mengembangkan bakat, termasuk bersosialisasi dengan lingkungan.

Memang, siapa yang tak bangga ketika melihat anak kita bisa berprestasi. Masalahnya, apakah itu menyenangkan bagi anak. Tak jarang karena ambisi orangtua, menyuruh anak melakukan kegiatan sesuai keinginan orangtua. Bukan keinginan si anak. Demi gengsi, anak diharuskan les piano, padahal ia lebih suka menulis puisi. Ia diharuskan belajar balet, padahal ia suka bermain drama.

Lebih menyakitkan lagi jika masa depan anak ditentukan oleh kedua orangtuanya. Anak yang menyukai seni misalnya, harus mengubur impiannya karena orangtua mengharuskannya kuliah di fakultas kedokteran, ekonomi, dengan alasan dapat hidup layak ketimbang menjadi seniman. Ini semua akan membuat anak merasa tertekan dan “teraniaya” secara kejiwaan. Dan ini termasuk bagian dari kekerasan terhadap anak.

Harap dimengerti, pola didikan orangtua pada anaknya, kelak akan sangat mempengaruhi cara hidup anak. Jika anak terbiasa mendapatkan hardikan, kata-kata kasar dari orangtua, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang suka berkata keras dan suka menghardik. Jika anak sering dilarang melakukan hal yang ia sukai, atau dicela oleh orangtuanya karena nilai atau hasil pekerjaannya tak memuaskan, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang minder, tidak punya keberanian diri untuk tampil di depan. Ia pun akan tampil sebagai sosok yang rendah diri, tak punya kepercayaan diri.

Begitu pula, kadang orang tua secara tak sadar suka menakut-nakuti anak-anak pada obyek tertentu. Seperti ucapan “Jangan minum es, nanti sakit perut. Jangan lari nanti jatuh, kalau jatuh masuk rumah sakit, disuntik. Sakit.” Menakut-nakuti anak-anak saat mereka hendak melakukan sesuatu, artinya tak memberi kesempatan pada anak untuk mencoba sesuatu dan berekspresi.

Itu semua membuat anak tidak mendapatkan kesempatan untuk “bereksprimen” kecil-kecilan tentang hal-hal penting di lingkungannya. Padahal, hal itu akan menjadi pelajaran penting buat dia, yakni praktek kehidupan, yang membuat dia paham dan mengambil kesimpulan sendiri aktivitas itu. Namun sebaliknya, jika dilarang, itu membuat mereka merasa terkekang yang pada gilirannya membuat anak takut dan dilanda kecemasan.

Satu hal lagi yang perlu kita sadari: setiap anak memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing. Setiap anak memiliki bakat dan kemauan sendiri. Jika ia tidak bisa mendapatkan nilai matematika 9, bukan berarti ia tidak pandai. Dalam dunia psikologi moderen, dikenal dengan istilah kecerdasan majemuk. Anak-anak ada yang hanya pandai bidang sastra, sejarah, seni, dan sebagainya.

Maka, mari kita kita beri kesempatan kepada anak-anak kita seluas-luasnya untuk mengekspresikan dirinya, agar kelak ia memiliki mental dan sikap yang tangguh dalam menghadapi hidup. Kekerasan bukanlah jalan bijak dalam mengasuh anak-anak. Justru kekerasan akan melahirkan kekerasan baru kelak.

Dianing Widya Yudhistira,Novelis.

Entry filed under: ARTIKEL RINGAN. Tags: .

Jejaring Sosial Menikah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2011
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 101,550 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 14 hours ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 2 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: