Jejaring Sosial

Oktober 5, 2011 at 1:07 pm 2 komentar

PONSEL saya berdering pendek di awal hari. Isinya memberitahukan tentang undangan menjadi pembicara di sebuah forum diskusi dengan kepenulisan. Sepintas saya berpikir masih lama, dua minggu ke depan lagi. Masih banyak waktu, jadi makalah bisa saya tulis minggu depan saja. Sejenak saya melihat ke kalender, saya menautkan kening. Ternyata sudah Desember. Artinya lagi waktu bukan dua minggu lagi tetapi kurang dari itu.
Saya menghela napas. Betapa waktu tak pernah berjalan, melainkan berlari kencang bagai kuda perang yang terluka.

Perputaran waktu itu pula yang membawa kita ke sebuah era bernama Globalisasi. Era yang jauh berubah dan abad-abad yang lampau. Jika kita tilik fenomena globalisasi dari dari terminologi, globalisasi merupakan hubungan sosial yang intensif dari lokalitas-lokalitas yang ada hingga seluas wilayah di seluruh dunia. Hubungan itu terjalin dengan sangat cepat, berjauhan sedemikian rupa sehingga peristiwa yang sangat jauh keberadaannya, bisa kita akses meski kita berada jauh dari pusat peristiwa.

Seperti halnya saya di pagi ini. Teman yang berada sangat jauh dari tempat saya tinggal, bisa mengabarkan kepada saya dalam hitungan detik tentang sebuah peristiwa. Saya, akhirnya memilih untuk segera mempersiapkan makalah untuk keperluan seminar tersebut. Jika makalah sudah selesai, saya tak perlu lagi pergi ke kantor pos untuk mengirimkan naskah ke alamat tujuan. Saya cukup menyalakan komputer dan mengirim makalah dengan failitas internet. Saya mengirim via email. Dalam hitungan detik pun makalah saya bisa diterima dan dibaca oleh teman saya yang saat itu juga sangat berjauhan dengan saya. Membutuhkan waktu dua jam perjalanan udara, belum lagi ditambah dengan perjalanan darat. Inilah salah satu manfaat globalisasi yang bisa kita petik. Kita bisa berkerjasama, bisa berkomunikasi, bisa mewujudkan sesuatu meski saling berjauhan.

Saya memilih duduk santai di ruang depan dengan menulis draf makalah yang hendak saya tulis. Seperti biasa saya akan menggambar lingkaran-lingkaran kecil sebagai penanda sub bahasan. Hampir selesai draf makalah saya, terdengar ketukan pintu seiring salam. Refleks saya menjawab salam dan menoleh ke pintu. Pintu yang sebagian dari kaca itu membuat saya tahu siapa yang datang. Ternyata mbak In, tetangga saya yang luar biasa. Luar biasa, maksud saya mbak In biar pun perempuan sangat tidak suka menggunjing tetangganya. Biar pun ia ibu rumah tangga dan sering di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca. Tak heran jika wawasan mbak In jauh lebih luas dibanding dengan ibu-ibu rumahtangga di sekeliling saya. Ngobrol sama mbak In, sangat nyambung.

Saya segera membuka pintu dan mempersilahkan mbak In masuk ke dalam. Duh apa lagi yang dibawa mbak In. Ada saja yang selalu ia bawa jika ke rumah. Bingkisan terbungkus tas beranyam bambu itu mengingatkan saya pada kampung halaman.
“Ayahnya baru pulang dari Yogya, wah orang Yogya itu tertimpa bencana masih saja mau berbagi salak Jeng.” Saya terharu, ingat dengan harian pagi yang saya baca beberapa waktu lalu. Mereka yang korban letusan Merapi itu mengungkapkan rasa terimakasih kepada para relawan dengan membagikan hasil panen berupa salak pondoh.
“Mereka Jeng, sungguh luar biasa rasa kebersamaannya. Kebersamaan yang begitu nyata Jeng. Sedang kita sangat maya.” Mbak In mengucapkannya sambil menaruh bingkisan salak pondoh ke meja dan duduk. Jadi ingat jejaring sosial yang sering saya aktifkan facebook.
Saya duduk.
“Iya mbak seperti saya, selama ini bergaul dengan banyak orang tetapi lewat faceebook, kita saling bertegur sapa. Menulis koment lalu dibalas koment.”
“Nha itu dia Jeng,” mbak In agak meninggikan volume suaranya. Ia menatap saya dan berkata-kata lagi.
“Semestinya perempuan mampu berperan aktif dalam dunia maya. Dia bisa menimba ilmu lewat internet, kita bisa menambah penghasilan rumahtangga lewat internet, kita bisa menggalang dana untuk beasiswa anak-anak miskin lewat facebook. Jadi jejaring facebook itu kita ambil manfaatnya. Kita jadikan media untuk menolong sesama. Tidak sekedar ajang koment-koment saja.” Saya terperangah, selama ini seringkali menggunakan facebook hanya untuk koment-komenan saja, hanya sekedar bertegur sapa saja, tanpa isi.

Saya sekarang baru menyadari, jika mbak In yang kelihatannya di rumah saja, tak tampak bekerja. Dia mengurus rumah saja dan merawat anak di rumah, tetapi dengan jejaring sosial lewat facebook dia menjual berbagai macam barang. Dari mukena, spray, sarung bantal, sarung galon air mineral sampai baju batik mbak In jual lewat facebook. Pesanan dia kirim via pos, untuk belanja pun mbak In tak perlu repot keluar rumah. Cukup berhubungan dengan kolega lewat facebook.
“Zaman sekarang Jeng, perempuan harus tetap berperan dalam berbagai bidang meski hanya tinggal di rumah saja. Teman saya baru saja mendirikan sebuah yayasan sosial, waah keren dia.” Mbak In diam sejenak, membuat saya penasaran. Ingin tahu kalimat selanjutnya.
“Dia mengumpulkan dana dari facebooker juga dari para tetangga, lewat jaring sosial. Dia bikin status siapa yang ingin menyumbang bisa dikirim ke rekening yayasan. Dana yang terkumpul bersama pengurus yayasan digunakan untuk menyekolahkan anak-anak miskin yang ada di sekitar dia. Waah…” mbak In geleng-geleng kepala.
“Ternyata tetangga sebelah kita Jeng, kampung atas itu Masya Allah.” Mbak In geleng-geleng lagi. Membuat saya penasaran lagi.
“Banyak anak-anak putus sekolah, bayangkan saja anak laki-laki hanya sampai SMP terus yang perempuan kebanyakan hanya lulus SD, kemudian turun ke preumahan kita, menjadi pembantu rumah tangga, dengan gaji sesuai selera majikan.”

Saya menelan ludah. Alangkah indahnya bisa meringankan beban kaum dhuafa, menyekolahkan mereka melalui facebook.
“Jeng.”
“Iya Mbak.”
“Saya kok ingin memanfaatkan facebook sebagai kerja sosial, saya ingin meniru teman saya. Bikin yayasan sosial, menggalang dana untuk beasiswa sekolah mereka. Saya bayangkan semua anak-anak di kampung sebelah itu sekolah semua sampai ke perguruan tinggi. Saya bayangkan kelak kita mengirim tenaga ahli ke luar negeri, bukan mengirimkan tenaga buruh, karena tingkat pendidikannya yang bagus. Gimana Jeng?”
Saya terharu, saya mengangguk. Kita perempuan seyogyanya bisa menggunakan jejaring sosial seperti facebook untuk kebaikan bersama. Kita semestinya bisa memanfaatkan facebook di era globalisasi ini, karena perempuan adalah pilar sebuah peradaban. Kita bisa menciptakan peradaban lebih gemilang, bisa lewat facebook, tanpa harus meninggalkan anak-anak kita sendirian di rumah.

Entry filed under: ARTIKEL RINGAN. Tags: .

Tas Etnik, Yes … Rawat Anak Kita dengan Cinta

2 Komentar Add your own

  • 1. fadjar  |  Oktober 5, 2011 pukul 1:45 pm

    Bagus dan inspiratif mbak, memang ilmu bisa kita dapat dari mana saja.

    Fajar

    Balas
    • 2. dianing  |  Oktober 14, 2011 pukul 1:04 pm

      Terimakasih mas Fadjar .

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2011
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: