Tas Etnik, Yes …

September 21, 2011 at 5:19 am Tinggalkan komentar

GAYA hidup. Dua kata yang seringkali membawa kita pada kemewahan dan perempuan biasanya menjadi obyeknya. Iklan, televisi dan pergaulan ikut mendorong pola konsumerisme semacam ini. Benda tak lagi cuma dilihat fungsinya, tetapi menjadi pengantar pesan tertentu yang menempatkan seseorang pada level tertentu dalam masyarakat. Tak heran demi mengejar “derajat sosial” itu, orang rela menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk memiliki barang-barang tertentu.

Misalnya gaun atau tas. Siapa tak bangga jika bisa menenteng tas-tas berkelas dengan merk asing semisal Aigner atau Louis Vuitton. Bagi perempuan penggila tas bermerk semacam itu, harga bukan masalah. Seorang karyawan di sebuah perusahaan di Medan misalnya, mengaku harus berpenampilan luks demi menunjang pekerjaannya. Ia tak peduli harus membayar sebesar Rp. 14.000.000 untuk satu tas produk Jerman.
Istri salah satu pejabat di Aceh, seperti ditulis hariansumutpos.com, menenteng tas merk Louis Vuitton seharga Rp. 45.000.000. “Ya kan penampilan saya juga akan mendukung karier suami dengan jabatannya sekarang biar nggak malu-maluin,” ujar Erna. Tapi benarkah tas mahal ikut mempengaruhi citra seseorang atau mampu mengangkat derajat seseorang lebih tinggi daripada mereka yang tampil lebih sederhana?
Saya menarik nafas dalam-dalam. Saya membayangkan binatang yang kulitnya diambil lalu dijadikan tas, sabuk, jaket, atau lainnya demi menunjang gaya hidup itu. Saya juga terbayang para pengrajin tas lokal di berbagai penjuru tanah air, dari Aceh sampai Papua, baik yang membuat tas modern maupun tas model etnik. Mereka tentu sulit bersaing untuk merebut hati para penggila tas bermerek dari luar negeri. Padahal, tas bikinan mereka tak kalah menariknya.

Belum sempat pikiranku berjalan jauh, aku mendengar pintu diketuk. Dari teras rumah terdengar salam, aku menjawab sambil menuju ke pintu. Dari kaca pintu aku tahu yang datang adalah mbak In. Ia menenteng sebuah tas. Dari corak dan motif tas tangan itu etnik Lampung.

Mbak In duduk, dan aku masih saja terus memperhatikan tas cantik yang dibawanya. Lampung memang dikenal dengan motif kapal pada kain tapisnya, dan saya ingat betul motif itu, pernah saya lihat pada bangunan di Taman Budaya Lampung.
“Cantik nggak Jeng?” saya tercekat. Kekagumanku pada motif tas itu, ternyata sangat terbaca oleh Mbak In. Mbak In menaruh tas itu di tanganku.
“Kamu baru punya tas etnik Aceh sama Padang kan? Sengaja aku bawa ini untukmu.”
Saya tersenyum menatap mbak In. Memang tetanggaku yang satu ini luar biasa. Selalu tahu seleraku. Aku lebih suka benda-benda yang beraroma etnik. Saat mengenakan baju batik Pekalongan misalnya, lalu dengan sendal batik juga, dan tas tangan etnik Aceh, membuat kepercayaan saya bertambah.

Saya raba sulaman dari benang emas yang mengelilingi tepi tas. Sungguh tas yang cantik. “Pasti mahal,” ucapku dalam hati. Tas ini tentu dibuat dengan cita rasa seni tinggi. Membutuhkan ketekunan, ketelatenan dan kesabaran. Tak bedanya dengan seni batik. Membutuhkan ketelatenan yang tinggi. Pantas harganya mahal.
“Cantik dan murah Jeng.” Saya menatap mbak In. Mbak In tersenyum.
“Jauh lebih murah ketimbang Ginza Tanaka, Clutch, Chanel Diamond, Hermes dan entah apalagi namanya. Didengar saja sudah aneh di telinga.” Aku terenyum dan mengangguk-angguk.

Sejenak aku terdiam. Ingin tahu pendapat mbak In tentang gaya hidup mewah bagi perempuan.
“Kita ini memang sering tergiur oleh penampilan Jeng,” ucap mbak In tak aku duga.
“Maksudnya?”
“Demi gengsi Jeng, tas harus merek luar negeri. Harganya pun tak masuk akal.”
“Mereka bisa beli mbak In, bukan masalah bagi mereka.”
Kali ini mbak In menatapku. Aku jadi salah tingkah.
“Iya sih semoga saja benar-benar uang sendiri, uang halal. Bukan dari korupsi.” Aku tertawa lirih. Suasana sejenak hening kembali.

“Tapi Jeng.” Mba In menatapku. Tatapannya kali ini serius.
“Sebenarnya kita ini punya potensi besar untuk membawa kebaikan.” Aku terdiam, berharap mbak In bicara lagi.
“Kalau tas mahal menjadi gaya hidup bagi sebagian perempuan, biasanya mereka adalah korban dari iklan yang gencar, seolah-olah dengan tas mahal harga diri bisa naik berlipat-lipat. Padahal memakai tas etnik juga bisa menjadi gaya hidup lo. Dan kita melestarikan kebudayaan kita. Sekaligus membantu para pengrajin negeri kita. Bukan memperkaya perusahaan-perusahaan luar negeri yang mengeluarkan tas bermerek itu. Dengan tas etnik, dari kita untuk kita juga.”
Aku menggangguk-angguk. “Hmm, iya juga ya.”
“Nah, sekarang yang diperlukan adalah keterlibatan semua pihak untuk mengangkat pamor tas etnik kita. Ya pemerintah, ya swasta, ya kita-kita. Trend dan gaya hidup kan diciptakan, bukan lahir dengan sendirinya. Kita punya banyak ahli marketing, kenapa tidak kita ajak untuk mengangkat citra tas-tas etnik kita menjadi lebih tinggi. Untuk beberapa produk sudah berhasil, seperti batik, sehingga menjadi sangat terkenal dan bisa dibikin menjadi busana yang modis.”
“Kita sudah memulainya mbak. Memakai busana dan tas etnik ke mana-mana.”
“Tidak cukup kita-kita saja jeng. Ini harus menjadi agenda besar semua pihak untuk mempromosikannya. Kita harus ramai-ramai berteriak: tas etnik, yes….!” ***

* Pernah dimuat di majalah POTRET, Media Perempuan Aceh .

Entry filed under: ARTIKEL RINGAN. Tags: .

Ayo Menulis Jejaring Sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

September 2011
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: