Ayo Menulis

September 6, 2011 at 2:01 pm Tinggalkan komentar

PAGI itu, setelah kesibukan di rumah sejenak reda, saya meraih sebuah koran yang tergeletak di meja – yang belum sempat saya sentuh sejak diantar loper sekitar pukul enam pagi tadi. Saya memang bangun agak siang. Masih tersisa kelelahan sehabis liburan ke Yogyakarta, saya istirahat sejenak sambil menunggu asisten rumah tangga datang. Bagi anak-anak, ini hari pertama masuk sekolah setelah liburan.

Anak-anak masih malas-malasan tentu, karena suasana liburan masih terbawa. Bahkan, si sulung, Fira Meutia, merasa liburan terlalu sebentar. Padahal, empat hari kami di Yogya – keliling ke sejumlah tempat, termasuk ke candi-candi yang tadinya cuma mereka kenal dalam pelajaran sekolah. Mereka sungguh menikmati.

Saat pulangnya, Fira yang sejak awal berniat menyumbangkan sedikit honor bukunya untuk liburan, mentraktir kami makan Mie Aceh di kawasan mall Cilandak, Jakarta Selatan. Buku cerita anak karya Fira berjudul “Liontin Amery” yang diterbitkan lini Kecil-kecil Punya Karya penerbit Mizan telah cetak ulang. Jadi, ia cukup punya uang untuk anak seusianya, 12 tahun. Sebelum liburan, ia baru saja membeli handphone Black Berry.

Ya, boleh dibilang, biaya liburan ini memang hasil dari menulis. Sebagian besar biaya liburan dari honor menulis ayahnya, sebagian lagi dari honor tulisanku. Kalau mengharap bisa lega berlibur dari pendapatan tetap bulanan, wah sulit. Soalnya pendapatan bulanan sudah ada peruntukannya – untuk makan sebulan, bayar ini-itu, biaya sekolah, dan sebagainya. Jadi, mau tidak mau, kalau mau liburan ya harus ada uang lebih – dan biasanya uang itu dari menulis.

Kebetulan, kami sekeluarga senang menulis. Bahkan, saya sendiri total menulis. Ya menulis novel, esai, cerpen juga puisi. Pendapatan terbesar tentu dari menulis novel. Selain itu, saya dan suami juga menjadi pengisi acara diskusi, seminar, peluncuran buku, dan sebagainya — dan tentu saja mendapatkan honor.
Saya menyukai menulis sejak remaja, dan terus saya lakukan sampai sekarang. Banyak manfaat yang saya dapatkan dari menulis. Saya bisa bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah, ketika memenuhi undangan acara kepenulisan. Saya bisa jalan-jalan gratis karena setiap kali mendapat kesempatan sebagai pembicara. Terakhir, beberapa waktu lalu, saya diundang ke Sumatera Barat untuk menjadi nara sumber dalam peluncuran novel penulis setempat. Honornya juga lumayan.

Itulah salah satu hal yang membuat saya terus bersemangat menulis, selain dengan menulis ada kepuasan batin. Menulis membuat keseharian saya lebih enjoy dan tidak bingung. Saya tahu ada yang bisa saya lakukan setelah semua pekerjaan rumah selesai. Saya akan menuliskan semua yang ada dalam pikiran saya. Dan menulis bisa dilakukan oleh siapa saja, terpenting niat dan semangat untuk terus belajar.

Kita bisa menulis apa saja yang kita suka dan mampu. Kita bisa menulis karya sastra seperti puisi, cerpen atau novel. Bagi perempuan yang suka mengikuti perkembangan ekonomi, sosial dan politik terkini, bisa menulis artikel. Bagi yang suka menata rumah, bisa menulis buku bagaimana menata rumah yang baik sehingga rumah tampak lapang dan cantik. Bagi yang suka tanaman, bisa menulis tentang berbagai hal tentang tanaman. Senang membaca buku bisa menulis resensi buku. Senang menonton film bisa menulis resensi film.

Jika senang menonton televisi bisa menulis amatan kita tentang acara-acara televisi, misalnya apakah acara-acara itu sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut, menarik, klise, atau bagaimana. Bagi yang senang jalan-jalan bisa menulis tulisan wisata atau tempat-tempat menarik yang dikunjungi. Bagi yang senang makan, bisa menulis tulisan tentang kuliner. Banyak sekali hal bisa ditulis. Yang saya sebutkan tadi adalah hanya beberapa contoh saja.

Tentu saja tulisan-tulisan kita itu kita perkaya dengan bacaan, pengamatan, juga riset-riset kecil. Setelah jadi, kita bisa kirim ke media massa atau ke penerbit buku. Jika tulisan kita layak diterbitkan, kita akan mendapatkan honor atau royalti. Artinya, biar pun kita hanya tinggal di rumah kita tetap bisa eksis. Menuliskan ide, gagasan kita dalam bentuk tulisan dan tidak jarang tulisan kita mampu memberi manfaat kepada pembaca.
* * *
Baru membuka halaman tulisan opini di koran itu, terdengar salam dari arah pagar, saya yang sedang duduk menjawab dan segera beranjak untuk membuka pintu. Dari pintu kaca, saya tahu Mbak In yang datang. Saya sejenak menautkan kening. Kali ini Mbak In membawa beberapa lembar kertas di tangan. Ia tersenyum kepada saya, seraya bertanya kabar saya. Saya jawab sangat baik.

Setelah saya persilahkan duduk, Mbak In memberikan kertas ke saya. Ia minta agar saya mengkritisi artikelnya tentang pendidikan untuk anak-anak miskin. Saya terhenyak. Mbak In yang memang selalu kritis dalam isu nasional itu minta saya mengkritisi tulisannya. Saya membacanya dan menikmatinya. Tulisan yang sangat mengena. Saya sarankan untuk mengirimnya ke media, lewat email dan dia setuju.
“Saya akan punya saingan nih,” goda saya.
“Jeng menulis novel, lha saya baru mulai belajar ini.”
“Jujur Mbak In, ini bukan memuji tulisan mbak In sudah layak muat.”
“Amien.”

Mbak In kemudian bercerita kalau ia sesungguhnya sudah lama menulis artikel soal perempuan dan anak-anak, tetapi belum percaya diri untuk dikirim ke media. Sekarang ia bertekad akan menekuni tulisan di sela-sela usahanya berdagang lewat online, serta menjaga anak-anak.

Mbak In memang seperti saya yang akhirnya memilih tinggal di rumah. Menjaga anak-anak tetapi sambil berusaha di rumah. Saya sendiri memilih menekuni menulis dan akhirnya mendapatkan banyak hal dari menulis. Saya bisa menumpahkan semua yang ada dalam hati dan perasaan saya lewat tulisan. Saya bisa menjalani hari-hari saya sebagai ibu rrumah tangga dengan riang gembira dan rileks karena tak ada beban pikiran yang tersimpan dalam hati saya.

Saya senantiasa mengeluarkan semua yang menyumbat dalam perasaan saya menulis. Saya terhindar dari stres karena jauh dari teman-teman yang seide dengan saya, yang bisa saya ajak berbincang-bincang. Semua sudah saya tumpahkan lewat tulisan saya dalam bentuk artikel, cerpen juga novel.
Ada kisah yang menarik untuk disimak. Seorang veteran perang Vietnam, John Mulligan, sempat menjadi gelandangan yang lontang-lantung di sepanjang Nort Beach,San Francisco. Perang Vietnam membuat jiwanya hampa, hingga dia memiliki semangat kembali setelah mengikuti workshop menulis.

John Mulligan kemudian menuliskan pengalaman mengerikan selama perang dalam bentuk novel. Sekarang gelandangan yang pernah stres karena pengalaman perang itu, telah menjadi novelis. Hidupnya kini jauh lebih tenang berkat menulis. Juga hidup dengan layak.

Banyak contoh orang sukses karena menulis. JK Rowling, penulis Harry Potter, bisa kaya raya karena menulis. Tadinya ia hanya seorang perempuan biasa saja. Dan siapa pun bisa menulis dan menjadi penulis, asalkan punya niat, semangat, dan tekat yang kuat. Kita bisa menulis pengalaman sendiri atau apa saja yang kita bisa dan kuasai. Banyak media massa, termasuk penerbit buku, yang akan menampung tulisan kita.
Majalah ini, POTRET, salah satu tujuannya hadir untuk memberi ruang kepada perempuan untuk menulis. Jadi tunggu apa lagi, ayo kita mulai saja dari sekarang. ***

Entry filed under: ARTIKEL RINGAN. Tags: .

Meneladani Sahabat Rasul Tas Etnik, Yes …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

September 2011
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: