Binar Bola Mata Mbak In

Juli 12, 2011 at 4:50 am Tinggalkan komentar

LAMA tak bertemu Mbak In bikin aku kangen. Akhir-akhir ini mbak In disibukkan oleh usahanya membuka perpustakaan di berbagai tempat. Mbak In memang gemar membaca dan selalu berusaha menularkan kegemarannya kepada orang lain, terutama anak-anak usia sekolah. Dari taman kanak-kanak hingga SMU.
Saya dengar perpustakaan yang hendak ia buka ada di kawasan orang-orang yang kurang beruntung. Mbak In tak sayang mengeluarkan dana untuk pembangunan perpustakaan, isi juga sarana perpustakaan lainnya. Dia akan menemukan kebahagiaan tak ternilai jika perpustakaannya ramai dikunjungi anak-anak kurang mampu.
“Rasanya surga ada dalam genggamanku Jeng, kalau lihat anak-anak itu membaca di perpustakaan. Wajah mereka Jeng, meneduhkan.” Begitu ujar Mbak In suatu ketika.

Aku terhanyut oleh rindu kepada Mbak In. Aku mengangguk-angguk sendiri karenanya, seolah-olah kali ini aku tengah berhadapan dengan mbak In. Aku pandangi bunga-bunga dalam pot yang terjajar tak beraturan di seberang rumah. Ketidak beraturan pot-pot itu justru enak dilihat. Aku pandangi terus bunga-bunga dalam pot itu, hingga detak jantungku serasa berhenti sejenak. Nafasku tersengal meski sesaat.
“Mbak In,” aku sedikit berteriak.

Aku menautkan kening. Wajah Mbak tanpa ekspresi. Ia hanya memandangku sejenak lalu jalan sambil menunduk menuju rumahku. Hal seperti itu cirikhas Mbak In jika tengah memendam sesuatu.
Di ambang pintu Mbak In mengucap salam dengan suara lirih. Lirih juga aku membalas salamnya. Aku terbawa oleh raut mukanya yang mendung.
“Aku boleh duduk nggak Jeng.”
“Ya boleh to mbak,” ucapku.
Mbak kemudian duduk dan berujar jika hatinya saat ini tengah resah. Seperti biasa aku diliputi hasrat ingin tahu. Gerangan apa yang tengah mengusik benaknya.
“Jeng, mau nggak bantu aku.”
“Tentu mbak.” Kemudian Mbak In cerita tentang keiinginannya membentuk sebuah komunitas yang menggalang dana, untuk membantu anak-anak kurang agar bisa masuk sekolah lagi. Aku terperangah. Mbak in mengangguk. Terus terang aku bingung bagaimana caranya mengumpulkan dana untuk anak-anak kurang mampu.
Untuk mengumpulkan uang jimpitan di RT saja sulit. Tak terkumpul. Ini harus menggalang dana. Menyekolahkan anak tentu membutuhkan biaya banyak. Aku pernah melontarkan gagasan seperti ini ke petinggi RT, tak mendapatkan respon.

Hambatan lain apakah warga yang hendak kita sekolahkan memiliki keinginan untuk sekolah? Aku perhatikan orang-orang asli sini, yang dekat dengan tempat kami tinggal kurang peduli dengan pendidikan. Pernah juga kelompok ibu-ibu pengajian ramai-ramai menyekolahkan seorang perempuan hingga SMP. Usai lulus si anak malah buru-buru menikah. Duh, kecewa mendengar anak yang disekolahkan memilih nikah muda.
“Yang kita bantu anak-anak yang punya impian, Jeng.” Aku terperangah lagi. Aku pandangi mbak In.
“Anak yang punya semangat tinggi untuk sekolah. Jangan kita sekolahkan lalu tahu-tahu di tengah jalan mereka menikah muda.” Aku sedikit menautkan kening kali ini. Bagaimana mungkin kita bisa mencegah orang lain untuk tidak menikah muda? Bisa dituduh melanggar hak asasi nanti. Mbak In terdiam sejenak. Ia menatapku.
“Percuma dong Jeng kalau kita sekolahin tetapi berhenti di tengah jalan. Aku pengennya anak yang kita sekolahin ya tuntas selesai sampai jadi orang. Kalau pun dia perempuan ya punya karier bagus. Kalau anak laki-laki memiliki pekerjaan yang layak. Bisa menghidupi anak istri dengan sejahtera. Hidup ini nggak melulu makan dan minum saja, kita butuh rekreasi, bacaan, nonton, juga berlibur. Semua itu bisa kita penuhi kalau pendapatan kita bagus. Lha bagaimana caranya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak? Ya sekolah yang tinggi Jeng.” Aku mengamini kalimat panjang Mbak In yang berapi-api. Ruang tamu mendadak senyap.

Mbak In menyandarkan kepalanya ke dinding. Kursi di ruang tamu memang saya letakkan berdekatan dengan dinding. Jadi kepala seseorang bisa bersandar ke dinding saat tengah duduk santai.
“Ya percuma Jeng, kalau kita sekolahin anak-anak eh hanya selesai sampai SMU lalu menikah muda. Jadi ibu rumahtangga saja. Rugi kita.” Saya tersenyum.
“Terus Mbak In maunya apa, lha wong menikah muda sudah tradisi di kampung sebelah, bahkan tanpa pekerjaan tetap pun pemuda di kampung sebelah itu bisa menikah. Orangtua biasanya menjual tanah untuk beli motor lalu ngojek. Yang perempuan turun ke bawah jadi pembantu rumah tangga. Anak-anak yang lahir seringkali terlantar sekolahnya karena biaya tak cukup. Begitu muter hingga turun-temurun kalau nggak ngojek, kerja serabutan dan jadi pembantu rumah tangga,” ujarku cuek. Memang begitu kenyataan yang ada. Mereka sudah bahagia dengan kehidupan yang seperti sekarang ini.

“Kasihan anak-anak mereka Jeng,” terdengar helaan napas Mbak In. Terasa berat. Wajahnya yang sedari tadi agak mendung, kini benar-benar mendung.
“Kita harus berani merubah mereka, menjadikan anak-anak memiliki impian hidup lebih baik lagi.”
“Aduuh Mbak In, nggak usah merepotkan diri. Wong merubah diri sendiri saja susah, kok mau merubah orang lain. Kampung sebelah lagi. Daya juang mereka kurang mbak…”
“Jeng,” saya terdiam. Mbak In memotong kalimatku.
“Oke, memang kita tak bisa merubah mereka tetapi kita masih punya harapan. Yang generasi tua biarlah menikmati keadaan seperti sekarang. Tapi kita harus menyelamatkan anak-anak mereka. Kita sekolahkan mereka yang masih kanak-kanak hingga mereka bisa mandiri. Kasihan anak-anak itu, jika tak ada yang memikirkan.” Panjang lebar Mbak In mengutarakan keprihatinannya. Aku menunduk menekuri lantai. Membenarkan semua ucapan-ucapan Mbak In.
“Siapa lagi kalau bukan kita Jeng, ayo lakukan sesuatu untuk anak-anak kita.”Ucapan Mbak In yang lirih itu membuat saya mengangkat kepala. Memandangi wajahnya yang penuh harapan.
“Kita bikin sebuah organisasi. Kita galang dana dari teman-teman kita untuk nyekolahin mereka. Kalau saya sendirian hanya bisa memberi buku tulis saja, tetapi tak bisa membantu banyak. Kalau kita ramai-ramai mengumpulkan dana, Insyaallah Jeng. Kita bisa nyekolahin anak-anak kita.”
Saya pandangi lagi wajah Mbak In yang penuh harapan. Terus terang di dalam benakku ragu membukit.
“Biar saya yang bikin akta Jeng. Saya butuh bangets dukunganmu.” Aku pandangi lagi wajah Mbak In yang penuh harapan.
“Mau kan,” kali ini setengah merajuk. Aku mengangguk. Bola mata Mbak In berbinar.

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Tinuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2011
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 101,550 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 14 hours ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 2 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: