Tolong, Jangan Tes Keperawanan Saya

Desember 8, 2010 at 9:06 am Tinggalkan komentar

PAGI yang tak mendung juga tak cerah. Akhir-akhir ini Jakarta dan sekitarnya tak menentu soal cuaca. Pagi hingga siang bisa sangt terik, menjelang sore langit mendadak gelap. Tak lama hujan turun dengan lebat. Beberapa hari lalu siang panas tak terkira, beruntung bagi kaum ibu adalah soal jemuran. Cepat kering. Menjelang sore angin berhembus amat kencang. Angin kencang itu meruntuhkan jemuran di depan rumah. Serumpun bambu yang ada di bukit sebelah kiri sana, gemerincing bunyinya. Seperti hendak mengabarkan resah di belahan bumi lain.

Seperti biasa, saya menyalakan komputer ketika anak-anak sudah berangkat sekolah. Pertama tentu saya memilih untuk bergentayangan dulu di dunia maya. Mata, hati dan perasaan saya luluhlantak, membaca sebuah wilayah akan diberlakukan tes keperawanan bagi calon siswa. Saya geleng-geleng kepala. Ingin tahu siapa pejabat daerah yang memiliki ide secemerlang ini. Bagaimana mungkin seorang remaja perempuan tak bisa mendapatkan pendidikan atau termajinalkan hanya karena tak perawan lagi.
Remaja putri yang tak perawan lagi tentu memiliki masa lalu yang berbeda-beda. Belum tentu karena kesalahan dia, dan seandainya ia tak perawan, itu sudah jadi pilihan, kebebasan sekaligus tanggungjawab dia. Negara tak punya hak untuk mendikte dia, apalagi memutus hak dia untuk mendapatkan masa depan melalui pendidikan. Setiap orang punya masa lalu yang buruk sekali pun, pasti masih punya kesempatan memperbaikinya di masa depan.
Saat saya khusuk membaca soal tes keperawanan tadi, terdengar ucapan salam. Dari suaranya saya sangat mengenali. Dia adalah tetangga saya yang baik hati, yang selalu nyambung untuk saya aja ngobrol tentang apa saja. Dia bukan penulis, hanya saja bacaannya melebihi saya yang seorang konon katanya adalah penulis. Dia adalah mbak In.
Saya beranjak dari hadapan laptop saya. Menjawab salamnya dan segera menuju pintu rumah. Mbak In ada dibalik pintu rumah yang separuhnya terdiri dari kaca yang tembus pandang. Di tangan kanannya ada bingkisan menyerupai tas tangan dari anyaman daun pandan. Mbak In selalu begitu, membawa oleh-oleh untuk kami jika baru bepergian. Saya membuka pintu dan langsung mempersilahkan mbak In untuk masuk dan duduk. Biar pun kami telah berteman lama, mbak In sangat santu dalam bertentangga. Dia tak akan masuk ke dalam rumah saya, apalagi duduk di kursi apabila belum saya izinkan.
Mbak In tersenyum dan menyodorkan tas tangan ke saya, seraya berkata untuk anak-anak. Saya tergoda membukanya. Begitu menggugah selera, makanan ringan dari Jambi. Mbak In memang baru pulang dari sana. Saya ke belakang sebentar, membawakan minuman dan makanan kecil buat mbak In. Seperti biasa saya bertanya kabar kesehatannya, mbak In sehat-sehat saja.
Kami pun akrab dan ngobrol ke mana-mana hingga akhirnya ia bercerita kalau kemarin saat melintas di depan gedung DPRD Jambi, ada demo mahasiswa yang menuntut dibatalkan rencana tes keperawanan bagi remaja putri, sebagai syarat masuk sekolah. Mbak In menceritakan dengan geleng-geleng kepala. Tampak jelas raut kesal di wajahnya. Mbak In keheranan bagaiamana bisa wacana seperti itu keluar dari mulut seorang wakil rakyat yang notabene adalah kaum terpelajar.
“Mereka tak cerdas ternyata,” saya kaget. Mbak In memang luar biasa dalam hal mengkritis seseorang, apalagi pemimpin.
“Ya mungkin maksud mereka agar banyak remaja putri berhati-hati mbak.”
“Ya tak begini caranya Jeng.” Saya mencoba menjadi pendengar mbak In kali ini. Mbak In membetulkan sikap duduknya.
“Kalau menjadikan keperawanan sebagai syarat masuk sekolah, itu sama saja membunuh masa depan si remaja jeng.” Saya mengangguk-angguk.
“Memang sih pergaulan anak-anak kita zaman sekarang ini memprihatinkan, dibanding zaman kita muda dulu.”
Saya mengangguk lagi. Dalam benak saya terlintas sepasang remaja yang begitu asyik berpelukan di atas motor di Sabtu malam yang lalu. Saya juga ingat remaja putri masih berseragam abu-abu putih melingkarkan tangannya pada pinggang seorang pemuda di sebuah danau di tengah kota Jakarta. Saya juga ingat ketika saya sangat kangen dengan teman SMU, tetapi ketika sama-sama bertemu di sekolah saya justru takberani menatap wajahnya. Jelas ada perbedaan yang jauh.
Sekarang di kota sekecil Batang pun anak remaja putri bisa leluasa memeluk pemuda yang ada di depannya mengemudikan motor, menuju laut Batang. Di pantai Batang yang eksotik, MasyaAllah gaya pacarannya tak kalah dengan gaya pacaran remaja metro. Mengenaskan. Saya jadi ingat si sulung yang mulai tumbuh remaja.
“Akar masalahnya bukan pada tes keperawanan Jeng,” ujar mbak In lirih seolah membaca pikiran saya yang cemas.
“Pendidikan agama, peran orangtua terhadap anak, tidak mengekang anak dengan berbagai aturan, memberi pengertian tentang seks yang sehat, serta memberi pendidikan kesehatan mengenai alat reproduksi pada perempuan dan laki-laki itu jauh lebih penting, Jeng.”
“Iya mbak,” timpal saya lirih.
Tes keperawan terhadap perempuan itu sama saja dengan upaya mengurangi ruang gerak bagi perempuan untuk eksis dalam bidang apa pun. Seolah-olah remaja yang terlanjur tak perawan, tertutup sudah ruang geraknya. Di zaman yang memang sudah jauh berubah ini sudah tak penting lagi menekan perempuan untuk sekedar menjadi pelengkap, atau pendamping suami semata. Saat sekarang perempuan justru harus tampil di depan sebagai subyek.
Jika tes keperawanan itu betul-betul diterapkan di masyarakat kita, jelas bukan solusi cerdas, melainkan menambah masalah. Kita jauh mundur ke belakang. Jadi tolong, jangan ter keperawanan mereka. Jangan tes keperawanan saya.

Dianing Widya, Novelis.
Sumber : POTRET, Media Perempuan Aceh. Edisi 38 Tahun 2010

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Bayang di Dinding Tolong, Jangan Tes Keperawanan Saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2010
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: