Saya dan Perempuan

November 2, 2010 at 12:56 pm Tinggalkan komentar

ADA satu bulan deh kayaknya saya nggak nulis Blog. Kali ini ingin menuliskan goresan hati saya. Saya sudah lama tak pulang ke Aceh, asal suami saya. Ketertarikan saya terhadap Aceh tentu tak datang tiba-tiba. Saya yang dari Batang, kota kecil di Jawa. Jelas memiliki kultur, bahasa, selera makan yang berbeda dengan suami.

Ada satu hal yang membuat saya nyaman bersama teman-teman Aceh adalah kehangatan mereka. Pendek kata mereka menyenangkan. Semua teman penulis suami saya, dengan otomatis menjadi teman saya. Kebetulan suami juga berprofesi menulis. Yang paling berkesan adalah pertemuan saya dengan Abang Maskirbi dan Kakak Virse Venny, semoga saya tak salah tulis nama. Bang Maskirbi adalah penyair Aceh yang pertama kali dikenalkan ke saya oleh suami saya. Ada satu kalimat yang sangat berkesan dari Bang Maskirbi, yang sulit saya tuliskan di sini.

Kak Virse Venny adalah kakak dan sahabat yang luar biasa, pelukis perempuan itu sering berhubungan dengan saya melalui surat pendek ke ponsel saya. Hingga pada saat-saat terakhir tsunami menggulung Aceh, beberapa tahun silam, saya masih berhubungan dengan almarhum via message. Pesan terakhirnya masih tersimpan sampai sekarang, belum pernah saya hapus. Pesan pendek itu saya terima kurang lebih satu minggu sebelum tsunami datang. Sayang baterainya sudah tak berfungsi dan itu ponsel pertama saya.

Saat sekarang pun saya berteman baik dengan Bang Sulaiman Juned, tentu bersama kakak atau bunda dan Bang Surya, si penyair cilik. Juga Bung Muhammad Subhan yang wartawan sekaligus novelis. Mereka tinggal di Padangpanjang. Bersama teman kuflet, mereka adalah penyemangat saya dalam berkarya.

Bersentuhan dengan Aceh membuat saya tertarik mempelajari bahasanya. Ternyata bahasa Aceh itu eksotik. Ini bermula ketika saya sering roaming alias tidak paham dengan apa yang abang dan teman-teman abang bicarakan. Bahasa Aceh jauh berbeda dengan Jawa. Jika di Jawa penulisan dan ucapan sama, bahasa Aceh penulisan dan ucapan beda. Jika bahasa Jawa mengenal tingkatan, kasta yaitu ngoko, dan kromo inggil, bahasa Aceh tidak.

Saya belajar Aceh seperti saya belajar sastra. Otodidak. Akhir-akhir ini perbendaharaan kata-kata saya lumayan. Saya sudah bisa memahami apa yang mereka katakan, meski masih sangat jauh dari fasih. Saya senang karenanya. Kegemaran saya menggunakan bahasa Aceh di facebook tak jarang membuat teman bertanya, apakah saya asli Aceh. Saya akan menjawab saya Jawa yang jatuh cinta dengan Aceh. Bahasa, budaya, sejarah, karya-karya klasik Aceh, tersedia di rumah. Kebetulan kami sekeluarga suka membaca.

Kecintaan saya terhadap bahasa Aceh, dan bisa berbahasa Aceh sedikit-sedikit mengantarkan saya untuk bisa belajar banyak hal. Termasuk sikap menghargai perempuan. Saya sangat menghargai perempuan, siapa pun dia. Saya menghargai perempuan, seperti saya menghormati ibu saya.

Semua puisi, cerpen dan novel yang saya tulis selalu menokohkan perempuan sebagai makhluk otonom, makhluk subyek yang sangat cerdas dalam menentukan apa pun. Karena sejak dulu saya sangat suka menyuarakan tentang perempuan yang bebas merdeka menentukan sikap.

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Jangan Cepat Puas I Love You, Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2010
S S R K J S M
« Sep   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

TELAH DIBACA

  • 101,550 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 14 hours ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 2 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: