Belajar Dewasa dari Sikap Fira

Juni 13, 2010 at 4:43 am 5 komentar

SABTU pagi adalah keduakalinya Fira Meutia tak bisa mengikuti latihan perpisahan nanti di sekolahnya SD Islam Nurul Hidayah. Sebelumnya Kamis ia harus mengikuti Konferensi Penulis Cilik Indonesia yang diselenggarakan di Kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Kamis itu ia diminta mengenakan busana batik.

Saya tak menyangka pulang dari acara itu Fira mendapatkan rezeki dari kegitannya, ia pun berjanji akan mentraktir kami sekeluarga makan-makan. Saya terharu mendengarnya.
Sabtu ini sedianya ia mengikuti pembukaan pameran seni rupa yang diikuti guru dan siswa di Plaza Indonesia. Karena kami harus mengantar Rizki mengikuti audisi sepakbola di Lapangan D Senayan yang diselenggarakan oleh Biskuat, kami menunda beberapa jam ke Plaza Indonesia, sekaligus mengajarkan toleransi ke orang lain. Fira mau menunggu hingga audisi Rizki selesai.

Pukul 13.30 Rizki selesai kami langsung menuju ke Plaza Indonesia untuk melihat pameran seni rupa dan Fira Meutia merupakan salah satu peserta pameran itu. Di sana hati saya sering bergetar setiap kali pengunjung pameran lama-lama melihat karya Fira yang bercerita tentang pemanasan global. Ia memang salah satu penghubung atau Connector tentang perubahan iklim, ia peserta termuda seminar The Climate Project Indonesia. Dari duaribu limaratus peserta lebih yang ingin mengikuti Fira lolos menjadi peserta yang hanya berjumlah duaratus limapuluh peserta.

Kami sangat mendukung kegemarannya membaca, menulis dan menekuni design grafis. Kami tak pernah berpikir ulang berapa rupiah yang meski kami keluarkan untuk belanja buku di Gramedia, membeli laptop dan kamera untuk kegemarannya memotret. Rasanya kami tak pernah mengekang atau menekannya, kami selalu memberi spirit baginya untuk berkarya. Alhamdulillah salah satu impiannya terwujud, Liontin Amery terbit setelah sejak kelas dua dia mengirim puisi dan lukisan ke majalah Bobo. Liontin Amery diterbitkan oleh Mizan (KKPK).

Ada satu hal yang kami sampaikan ke Fira untuk melakukan sesuatu harus memiliki tujuan yang jelas. Ada tidak manfaatnya, ada tidak nilai-nilai pembelajarannya dan syukur-syukur ada tidak makna sosialnya. InsyaAllah Fira memahami nilai-nilai itu, betapa sia-sianya suatu pekerjaan jika tak memiliki manfaat, celakanya lagi jika cenderung mubazir. Kami ingin ia tumbuh menjadi manusia yang tak gegar oleh zaman dan budaya. Saya ingin ia mampu mengenali dirinya sendiri.

Usai dari Plaza Indonesia, Fira memenuhi janjinya mentraktir kami makan-makan di sebuah resto di bilangan Jakarta Selatan dari penghasilannya menulis. Usai makan kami meluncur ke Plaza Bintaro, Fira hendak membeli ponsel dengan fasilitas lebih lengkap dari penghasilannya sendiri. Usai itu kami pulang.

Sampai di rumah saya mendapat kejutan manis di layar FB teman Fira di sekolah. Mereka ngobrol menanggapi tafsir surah Ali Imran. Saya tersenyum geli membaca obrolan teman-teman Fira. Saya yang pernah kuliah di Institut Ilmu Alqur’an tak pernah berani menafsirkan Alqur’an apalagi yang ditafsirkan surah Ali- Imran. Saya takut keliru dan takut bermakna dangkal apalagi kalau penafsirannya justru tak mencerahkan pembacanya.
“Alhamdulillah bun, dapat ide akan saya jadikan novel setelah novel global warming selesai.”
Ia ingin ke Boscha, ingin mempelajari semesta raya lebih dekat, selama ini hanya melalui internet. Ia ingin melihat bintang-bintang dan benda langit lebih dekat lagi, memang ia belum pernah ke Boscha baru ke Planetarium saja.

Membaca obrolan teman-temannya, tak ada rasa sakit hati saya temukan di wajahnya. Pada anak yang 21 Juni nanti berusia genap 12 tahun itu saya menemukan kedewasaan pada sikapnya. Ia bahagia dengan sikap-sikap sebagian teman-teman sekolahnya.

Melihat langit lebih dekat di Boscha membuat saya ingat ucapan mereka yang menggemari astronomi. Melihat semesta raya membuat kita merasa sangat kecil dihadapan Tuhan. Membuat manusia lebih arif dan rendah hati. Saya ingat dialog dalam sinetron Para Pencari Tuhan yang kurang lebih begini, “Tiang-tiang Arsy akan bergetar setiap kali mendengar rintihan dan doa-doa fakir miskin dan kaum Dhuafa.”

Semoga liburan ke Boscha nanti akan memberi pencerahan pada Fira, adik-adiknya juga kami bahwasannya di luar sana banyak fakir miskin, dan kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tangan kita. Semoga ia mau belajar untuk berbagi dengan sesama dari penghasilan yang ia terima dari kegiatannya menulis, design grafis dan memotret.

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Hentikan Arogansi di Sekolah Cover Nawang

5 Komentar Add your own

  • 1. rizalihadi  |  Juni 14, 2010 pukul 7:38 am

    🙂

    Balas
  • 2. billy briliant  |  Juni 21, 2010 pukul 2:14 am

    saya salut dengan fira……….😀

    Balas
    • 3. dianing  |  Juni 21, 2010 pukul 12:45 pm

      Makasih ya Billy.

      Balas
  • 4. gendut  |  Juni 23, 2010 pukul 3:13 am

    salut kepada keluarga mbak dianing. semoga saya makin bisa belajar

    Balas
    • 5. dianing  |  Juni 25, 2010 pukul 1:55 pm

      Terimakasih mas,iya kita belajar sama-sama.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juni 2010
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: