Menangis Membaca Nawang

Juni 1, 2010 at 1:52 pm Tinggalkan komentar

“MEMBACA Nawang membuat saya menangis berkali-kali mbak,” begitu ujar salah satu pembaca novel saya Nawang. Saya ingin tahu mengapa, dia menjawab mengikuti kehidupan Nawang terasa begitu getir. Komentar yang keluar dari pembaca perempuan ini mengingatkan saya pada pembaca laki-laki yang bercerita teman perempuannya menangis ketika membaca novel Nawang.

Berkaca-kaca bahkan sampai menangis tatkala membaca Nawang tentu diluar dugaan saya. Saya kadang ingin tahu bagaimana perasaan pembaca Nawang tatkala membaca novel ini. Saya juga ingat pesan pendek pertama kali masuk ke ponsel saya dari pembaca laki-laki. Dia bilang “Nawang keren mbak, inspiratif banget membuat saya ingin menyelesaikan skripsi.” Komentar itu dari salah satu mahasiswa di Semarang, mudah-mudahan saat ini dia sudah menyelesaikan skripsinya bahkan sudah sarjana.

Nawang sendiri saya buat untuk mengenang almarhum bapak. Mulanya saya menggunakan judul Bapak, tetapi di tengah perjalanan novel ini lebih banyak bercerita tentang Nawang.
Mulanya bapak menentang pilihan saya untuk menulis, bapak sendiri adalah pedagang. Hingga waktu membuat bapak memaklumi pilihan saya, sayang disaat saya mulai dikenal sebagai penulis bapak terlampau cepat meninggalkan saya dan adik-adik.

Iklan

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG.

Si Sulung Jadi Pengarang Telepon Pagi Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juni 2010
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

TELAH DIBACA

  • 104,609 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: