Mama Lily

Mei 14, 2010 at 8:22 am Tinggalkan komentar

PAGI itu ada pemandangan yang tak seperti biasa. Pakdhe begitu saya menyapa tukang ayam yang biasa keliling di gang saya juga beberapa gang di komplek saya kali ini bolak-balik sampai tiga kali, hingga ketika saya pulang dari warung untuk membeli sesuatu, Pakdhe berhenti bertanya sama saya.
Pakdhe bertanya apakah saya tahu orang tua bertubuh gemuk yang tinggal di gang saya, menurut cerita Pakdhe orang itu punya rumah di komplek saya hanya saja di bagian depan sana.
“Kemarin ambil ayam satu ekor bu, dia bilang kalau mau ambil uangnya datang saja ke rumah. Lha saya lihat masuk ke gang ibu.”
“Siapa ya?” saya malah balik bertanya. Kemudian Pakdhe meneruskan lagi ceritanya, orangtua itu mengakui disuruh menempati rumah anaknya yang dekat warung. Saya menautkan kening. Di dekat warung artinya sebelah rumahnya mama Sofi. Rumah itu memang kosong tetapi setahu saya masih kosong sampai pagi itu. Saya sampaikan perihal rumah kosong, orangtua yang gemuk tak ada di gang ini.
“Kalau ada saya pasti tahu dong Pakdhe.” Pakdhe menautkan kening sejenak saya lihat jualan Pakdhe pagi ini laris manis, keranjang ayamnya sudah kosong padahal baru jam delapan lewat sedikit.
“Saya yakin kok bu orangnya masuk ke gang ini. Orangnya gemuk.” Saya hanya mengangguk-angguk saja.
“Saya sudah bu, makasih.”
“Sama-sama.”
Saya meneruskan langkah saya menuju rumah sambil menggendong Edgin si bungsu. Di mulut gang si akang, tukang sayur yang biasa keliling di lokasi kami berhenti di depan rumah Pak Halim. Akang memanggil-manggil penghuni rumah dengan berterika bu, ibu berkali-kali. Salah satu tetangga saya yang sedang membeli jamu gendhong menegur.
“Rumah itu nggak ada perempuannya, cuma Pak Halim doang yang tinggal. Cari siapa?”
“Mama Lily.”
“Oh itu sebelah sana tuh sebelah rumahnya mama Fira,” tetangga saya itu menunjuk ke saya. Saya pandangi si akang memang aneh, mengapa berhenti di depan rumah pak Halim kalau mau mencari mama Lily.
“Orangnya gemuk itu lho Bu.”
“Iya tuh tunjukin rumahnya ma Fira,” ujar tetangga saya lagi.
“Kenapa emang mau titip pesanan?” tanya tetangga saya lagi.
“Bukan kemarin ambil belanjaan ada berapa hari kok belum kasih uang.”
“Ooh.” Tetangga saya itu tiba-tiba mengerucutkan mulutnya.
“Tobil anak kadal ambil spray saja sudah setahun nggak dibayar,” saya tersenyum mendegar gerutunya. Dalam hati saya berujar, ya sudahlah beberapa ribu rupiah uang yang dipinjam sama mama Lily itu tak kembali tak apa-apa, lha wong ternyata korbannya bukan cuma saya.
“Ya sudahlah besok saja,” ujar akang.
Saya berjalan sambil berpikir mungkinkah orang yang dimaksud pakdhe adalah mama Lily? Pakdhe bilang ibu itu masuk ke gang ini dan tubuhnya gemuk. Kalau benar mama Lily artinya dia telah berbohong, ia mengaku menempati rumah milik anaknya yang dekat warung, padahal rumah itu selalu kosong sampai detik ini.
Jika benar Mama Lily yang dimaksud mungkin ia sedang mengalami kesulitan keuangan saat ini, tetapi beberapa dari kami justru sering menggujingnya dengan embel-embel suka hutang, padahal setiap orang punya masalah. Mudah-mudahan saja masalah mama Lily segera teratasi dan bisa melunasi hutang-hutangnya.

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Sepanjang Klidang Si Sulung Jadi Pengarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: