Libur

Mei 2, 2010 at 6:56 am Tinggalkan komentar

MINGGU biasanya orang lebih santai tetapi berbeda dengan saya yang ibu rumah tangga dengan empat anak, tiga anak yang yang dipercayakan ke kami. Si bungsu masih berusia dua tahun enam bulan, tentu masih suka meminta perhatian lebih banyak. Seringkali pekerjaan tertunda karena dia meminta ini dan itu dengan nada merengek.
Minggu menjadi hari yang lebih repot bagi saya karena asisten saya dalam urusan pekerjaan domestik libur. Saya dan suami sejak semula memberi libur ke asisten dalam satu minggunya. Mereka sama dengan kita, memiliki rasa lelah dan keinginan untuk santai bersama keluarga.
Sayang tak setiap orang memberi libur kepada para asisten atau pembantu rumah tangga, akhirnya biar pun Minggu banyak asisten tetanggaku masuk. Pok Ayum salah satunya, dia tipe pembantu yang setia pada majikan. Tak pernah mangkir atau tak masuk, pekerjaannya rapi. Pendek kata Pok Ayum pembantu ideal. Dia masuk pagi pulang menjelang maghrib dengan gaji tak jauh beda dengan gaji yang saya berikan ke asisten saya. Jika Pok Ayum pulang menjelang maghrib bahkan pernah pulang di atas pukul sembilan malam, asisten saya jam sebelas siang sudah pulang.
Minggu kemarin Pok Ayum masuk seperti biasa, saya yang mencuci pakaian sendiri sempat berkata dalam hati. Minggu-minggu kok masuk sih Pok Ayum, mbok minta libur. Pok Ayum kebetulan ibu kandung Mirna, asisten saya. Apakah tidak capai kerja terus tak pernah libur.
Lain hari, Selasa ketika saya hendak meremdam baju. Saya suka merendam baju sebelum Mirna datang, biar dia langsung mencuci. Saya urungkan sejenak niat merendam baju karena Aris anak bungsu Pok Ayum pagi itu mendatangai tetangga saya dan rupanya mengabarkan kalau Pok Ayum nggak bisa masuk. Pok Ayum sakit. Aris tak singgah ker rumah saya, artinya Mirna bisa masuk seperti biasanya.
Keesokkan harinya Mirna cerita kalau dia semalam baru mengantar Pok Ayum ke dokter.
“Aduh bu yang antre banyak,” ujar Mirna.
“Ibu sakit apa mbak?” tanya saya.
“Lemah bu, tensi darahnya lemah.” Saya mengangguk-angguk.
“Kurang darah,” ujar Mirna lagi.
Sampai sekarang Pok Ayum belum juga masuk kerja padahal sudah enam hari dia nggak masuk. Biasanya kalau sakit hanya dua hari saja nggak masuk. Saya jadi tahu kalau tubuh juga butuh istirahat, agar tak sakit. Lagipula dengan memberi libur sekali dalam seminggu kita jadi tahu kita sangat membutuhkan para pembantu. Tanpa pembantu kita tak bisa mengerjakan apa-apa. Saya misalnya, jika hari biasa saya mulai bisa menulis setelah pukul sembilan, tetapi jika Mirna sedang libur kadang sampai jam duabelas siang saya belum menulis. Tak jarang karena lelah mengerjakan pekerjaan rumah saya memilih tidur. Akhirnya kesempatan menulis berkurang.
Sakitnya Pok Ayum membuat saya jadi lebih mengerti, asisten atau pembantu juga butuh istirahat cukup agar tak mudah sakit.

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Sintren Miskin dan Kaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 101,550 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 14 hours ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 2 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: