Sumbangan

April 28, 2010 at 3:06 am Tinggalkan komentar

TANGAN di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Memberikan sebagian harta kita kepada mereka yang membutuhkan memang sudah menjadi anjuran dalam hidup seseorang, hanya saja akhir-akhir ini ada orang-orang yang datang dari rumah ke rumah mengaku berasal dari yayasan yatim piatu. Setiap hari ada saja yang datang dengan sosok yang berbeda-beda. Saya sendiri lebih suka mengabaikan mereka mengingat hal yang pernah saya alami.
Dulu ketika baru-baru saja tingggal di Jakarta saya pernah didatangi ibu-ibu minta sumbangan dengan mengaku dari yayasan yatim piatu, karena iba dan percaya saya memberi sejumlah uang. Lain hari saya melihat ibu-ibu yang pernah mendatangi saya ternyata tinggal tak jauh dari tempat saya tinggal. Saya ikuti dia ternyata di tinggal di rumah yang biasa saja, rasa penasaran membuat saya bertanya apakah ibu itu bagian dari yayasan yatim piatu. Tetangga dia waktu itu mengatakan kalau dia memang suka meminta-minta uang ke orang-orang dengan mengatasnamakan yayasan ini dan itu.
“Dulu pernah Dik ditawari bekerja jadi pembantu, yang ngajak orang kaya eh dia tolak. Dia lebih suka keliling minta uang. Kami tak bisa berbuat apa-apa.” Sejak itu saya terpikir untuk menyumbangkan dana ke tempat yang jelas.
Sekarang ketika memiliki dan tinggal di rumah sendiri masih saja ada orang-orang yang datang dengan alasan yang sama. Jika saya perhatika tak satu pun dari kami yang memberi sumbangan, bukan berarti kami pelit tetapi memang keberadaaan mereka tak jelas. Soal sumbangan itu tak berhenti di situ saja. Pengalaman masa kecil dulu ketika orang-orang tua hendak membangun mushala atau masjid kami iuran. Kami kumpulkan yang kami punya atau bisa bantu, yang bisa beli semen membeli semen. Yang mampu membeli batu bata membeli batu bata, yang bisa membeli pasir sukarela membeli pasir. Bersama-sama kami membangun mushala dengan usaha sendiri. Kami menyediakan kotak amal yang bisa diisi oleh setiap pengunjung mushala atau masjid. Pengalaman itu sangat bermakna bagi saya. Berusaha sendiri dan memposisikan tangan di atas jauh lebih mulia daripada tangan di bawah.
Saya sering nelangsa jika menemukan sekumpulan orang menadahkan tangan untuk membangun masjid di tengah jalan, biasanya mereka sampai lima orang dengan jaring ikan di tangan masing-masing. Ini kan ironis banget. Untuk membangun masjid tempat ibadah kalau boleh dibilang rumah Allah mengapa harus seperti itu cara mengumpulkan dana. Saya yakin setiap pengunjung masjid yang datang dengan sukarela menyisihkan rezeqinya untuk turut membantu. Bisa kok menggalang dana dengan cara yang lebih bermartabat, tidak meminta-minta di tengah jalan. Tak jarang mereka memasang beberapa drum di tengah jalan agar laju mobil melambat tentu ini menganggu lalu lintas. Dari sekian kali yang saya lihat sangat jarang orang-orang yang lewat mau menyumbangkan dananya, mungkin karena terlanjur kesal.

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Bunga Tidur Sintren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

TELAH DIBACA

  • 101,550 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 14 hours ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 2 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: