Cinta

April 8, 2010 at 2:29 pm Tinggalkan komentar

LAMA tak bertemu dengan mbak In kok kangen luar biasa. Akhir-akhir ini mbak In sibuk banget. Beberapa hari lalu baru pulang dari Padang, eh sekarang bersiap-siap ke Kuala Lumpur. Habis itu akan pergi lagi ke Jawa untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu kerabatnya. Belum lagi dengan rencananya membuka sekolah gratis untuk warga kampung sebelah, pasti kesibukan kian akrab deh.
Tadi pagi saya melihat mbak In sedang menyapu teras, saya ingin singgah ke rumahnya sebentar tetapi takut mengganggu. Mbak In mbok main ke rumah, nggak usah bawa oleh-oleh seperti biasanya nggak apa-apa. Saya cuman ingin ketemu, memandangi wajahnya yang sejuk.
Telepon berdering, saya segera menuju ke meja kecil yang diatasnya tergeletak manis telepon rumah itu. Saya lega akhirnya mbak In mengabarkan kalau ia ingin ketemu, tapi ia berharap saya yang datang ke rumahnya. Okelah, toh karena asistennya sudah pulang dan anaknya masih tidur aku memahami keinginannya agar saya yang datang ke rumahnya. Saya yang kebetulan sedang sendirian di rumah segera mengunci pintu dan menuju ke rumah mbak In. Sebelumnya saya sudah memastikan kalau kompor dan mesin air dalam keadaan off.
Sampai di sana mbak In menyambutku dengan senyumnya yang senantiasa bikin hati damai melihatnya.
“Kabar baik kan jeng.”
“Alhamdulillah.” Kami segera akrab dengan obrolan kian ke mari, hingga datang salah satu tetangga kami, Gadis namanya. Gadis ini ibu muda dengan satu anak. Sayang nasibnya kurang baik, entah kenapa usia pernikahannya yang masih tergolong muda terhenti di tengah jalan. Suaminya menceraikannya sekali lagi entah apa alasannya.
“Bu saya ingin curhat,” ujar Gadis tak lama setelah kami ngobrol bareng. Saya terpikir untuk beranjak, tetapi ketika saya pamitan sama mbak In Gadis mencegah saya. Dia berharap saya jangan pergi kalau pergi dia merasa nggak enak.
“Saya percaya sampean tak seperti ibu-ibu lainnya.” Saya memandangi ke mbak In. Mbak In mengangguk.
“Saya butuh pendapat ibu juga,” ujar Gadis lagi.
“Ya duduklah siapa tahu kamu bisa bantu, ” ujar mbak In.
“Maaf saya pulang saja.”
“Kalau begitu saya pulang juga.”
“Lho.”
“Kesannya kedatangan saya mengusir sampean.” Saya memandangi mbak In.
“Sudah duduklah dulu.” Akhirnya saya tetap di rumah mbak In. Gadis mulai bercerita.
Gadis bilang kalau ia saat ini sedang menjalin hubungan dengan suami orang. Saya menelan ludah. Gadis itu janda kembang dengan anak satu berusia dua tahun. Postur tubuhnya tinggi semampai, kulit kuning langsat dengan tubuhnya yang sintal serta wajah ayunya memang tak jarang membuat kaum laki-laki ingin melihatnya lama-lama. Kami maklum kalau diantara suami di sini suka memandangi keelokkan Gadis, tapi hanya mengagumi kecantikannya saja, tak sampai berbuat yang aneh-aneh. Makanya ketika saya mendengar pengakuannya tengah pacaran dengan suami orang, siapakah dia.
Gadis melanjutkan curhatnya kalau pacarnya itu teman kerjanya di kantor. Tinggal terpisah dengan istrinya dan mengaku sudah tak punya hati lagi pada istrinya. Saya menelan ludah lagi. Ingin sekali saya tonjok laki-laki yang mengaku tak mencintai lagi istrinya.
“Tapi dia tak bisa bercerai dari istrinya.”
“Kenapa?” tanyaku antusias. Mbak In menatapku seolah hendak menegurku agar membiarkan Gadis bercerita sendiri.
“Saya bingung, bagaimana ya baiknya.” Saya memilih diam, takut salah bicara.
“Bagaimana bu In.” Mbak In saya lihat hanya menghela napas. Hati-hati ia bicara agar sebaiknya Gadis mulai belajar menjauhi pacarnya itu. Pertama ia sudah beristri, kasihan kan dengan istrinya. Ke dua jika ia bersungguh-sugguh dengan Gadis, mengapa tak bisa bercerai dengan istrinya. Dalam hati saya geram, mana ada laki-laki sudah tak punya hati buat istri. Huh, ingin sekali aku unyel-unyel itu orang. Ups, kok jadi saya yang sewot.
“Masalahnya…” Gadis tak meneruskan ucapannya. Ia malah menunduk menekuri lantai.
“Masalahnya kamu terlanjur jatuh cinta sama dia,” ucap saya mengalir saja. Mbak In mengernyitkan dahi sambil melihat ke saya. Mulutnya ia tutup dengan telunjuk jari kanannya. Saya mengangguk.
“Masalahnya …” Saya geregetan dari tadi ucapan Gadis menggantung begitu. Mbak In buru-buru memberi isyarat agar saya diam. Okelah kalau begitu. Cukup lama Gadis hanya diam.
“Saya sedang mengandung anaknya.”
“Hah!”
“Tapi dia berjanji akan menikahi saya, masalahnya ibu saya tak setuju.” Saya lagi-lagi menelan ludah.
Mbak In dengan tenang menyarankan agar Gadis menerima pacarnya dan segera menikah. Soal ibu yang tak setuju, bukan tidak mungkin kelak akan merestui. Sebisa mungkin pacar Gadis jangan menceraikan istrinya. Saya menunduk, saya tak setuju poligami tetapi kali ini saya sependapat dengan mbak In, agar tak ada satu pun diantara mereka yang terzalimi. Zalim? Ah, tiba-tiba saya pening menghadapi Gadis, tetapi bukankah kesalahan, jatuh cinta adalah hal yang manusiawi?
Saya memilih pulang terlebih dulu, entah apalagi yang dibicarakan antara Mbak In dengan Gadis. Sampai di rumah saya mencoba merenungi agar tak menyalahkan siapa pun. Jika Gadis pacaran dengan suami orang sampai hamil itu karena ada yang melatarbelakanginya. Kita tak punya hak untuk menyalahkan siapa pun karena setiap orang punya tanggungjawab atas pilihannya masing-masing.
Saya menelan ludah, cepat atau lambat kabar ini akan tersiar dan jadi buah bibir tetangga saya. Mudah-mudahan Gadis bisa menjalaninya dengan hati yang lebih tenang.
Dianing WY

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Kesan yang Berkesan Cinta Itu Rumit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

TELAH DIBACA

  • 101,574 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @Gratciaschannel: Yesus itu org yahudi sisbro:))) musti benci yahudi krn menyalibkan yesus? Dia aja bilang maafkan mrk krn mrk tdk tahu… 2 days ago
  • RT @arman_dhani: Buat yang melarang ibadah umat kristen di Sabuga. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan"… 3 days ago
  • RT @spirit_kita: 5 Des.2016 Spirit Kita dapat donasi Rp 25.000 dari sahabat @spirit_kita langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahabat 4 days ago
  • Ganti chanel aja deh, nonton serial India. Lebih seru ketimbang sidang pergantian ketua akom ke papa minta jabatan. 1 week ago
  • Harapan @spirit_kita bisa melihat anak miskin, kelak mendapatkan/menciptakan kehidupan layak, hingga mengurangi sedikit angka kemiskinan. 1 week ago

%d blogger menyukai ini: