Keunikkan Diantara Kita

Januari 21, 2010 at 5:34 am 2 komentar

SEORANG teman lama datang berkunjung ke rumah. Sebelumnya memang sudah berjanji ingin bertemu. Cukup lama kami tak berjumpa meski sama-sama tinggal di Jakarta. Saya sendiri tak yakin teman saya itu akan memenuhi janjinya untuk datang ke rumah mengingat kesibukkannya sebagai wartawan sepertinya tak mungkin. Beberapa kali kami berjanji untuk bertemu beberapakali juga kami membatalkan janji bertemu karena ada sesuatu hal.
Saya menyambutnya dengan perasaan tak percaya berapa tahun ya kami tak saling jumpa? Sudahlah lupakan yang penting sekarang sahabat lama itu ada di depan mata. Bila dulu kami berpisah masih lajang, sekarang saat berjumpa masing-masing dari kami sudah memiliki tiga anak. Anak-anak kami dalam waktu tak lama saling akrab, mereka bermain bersama di ruang tengah, sementara para ibu merumpi ria.
Awal-awal pembicaraan kami bercerita pengalaman masing-masing saat hijrah ke Jakarta demi satu impian. Mewujudkan keinginan masing-masing. Dulu saya pernah berkata pada teman saya itu bahwa kelak saya ingin menulis novel, tidak saja menulis puisi, cerpen juga laporan jurnalistik. Teman saya tampaknya sangat bahagia dengan profesi yang menguras tenaga, hebatnya profesi itu masih dia jalani hingga kini meski dia telah dipanggil ibu.
Saya memilih tinggal di rumah setelah melahirkan anak pertama dan fokus untuk menulis fiksi.
“Biar pun kita lama tak jumpa tapi aku selalu mengikuti karyamu, hampir semua bukumu aku punya.” Saya agak tersanjung mendengar penuturannya. Disela-sela obrolan dia memuji eksistensiku di dunia kepenulisan. Pembicaraan jadi mengalir hingga akhirnya ke masalah tetangga. Ternyata apa yang ia rasakan hampir sama dengan yang saya alami. Mengalami pengalaman kurang meyenangkan dalam hidup bertetangga.
“Awalnya saya stres,” ujar teman saya.
“Akhirnya,” pancing saya.
“Berusaha memahami jika mereka tak sama dengan kita, bahwa dia tak sama dengan saya Jeng.” Saya tersenyum tipis bertambah lagi satu teman yang memanggil saya jeng. Okelah tak apa asalkan nama saya tak sampai tenggelam dengan panggilan itu.
“Dari sekian tetangga saya yang paling rewel yang persis sebelah kiri saya jeng, ada aja ulahnya.” Saya mengangguk pelan sambil berpikir tetangga persis sebelah kiri, kok hampir sama dengan saya.
Tetangga saya persis sebelah kiri rumah saya ini sering bikin saya geleng-geleng kepala. Beberapa kali asisten saya menjemur keset di dinding pembatas, beberapakali itu juga keset ditepis, bahkan sampai diturunkan dari dinding. Akhirnya saya tak pernah menjemur apa pun di dinding yang sebenarnya milik berdua. Herannya tetangga sebelah saya itu menjemur sepatu, sendal, keset, bantal di dinding itu. Suatu ketika asisten saya menjemur keset lagi di dinding itu mungkin dia pikir boleh-boleh saja menjemur di situ. Hanya beberapa jam keset sudah terlempar dari dinding. Saya mengambil keset dan mencucinya kembali dengan perasaan tak habis pikir.
“Bayangkan jeng renovasi rumah mestinya yang minta izin karena gaduh sepanjang hari, bukan si empunya rumah melainkan pembantunya yang datang ke rumah. Saya iyakan saja sampai-sampai suatu hari dinding rumah saya jebol.”
“Jebol?”
“Ceritanya dia bikin lantai dua, entah gimana tahu-tahu dinding dekat atap jebol. Saya komplain jeng, tahu nggak itu si tetangga saya nggak sedikit pun menemui saya. Urusan dinding jebol diurus oleh pembantu dan tukangnya. Sepatah kata pun tak ada ucapan permintaan maaf atau rasa tak enak karena sudah bikin jebol dinding rumah saya,” ujar teman saya tampak emosi. Saya mengangguk-angguk, ternyata karakter tetangga yang unik-unik itu tak hanya di lingkungan saya.
Saya termasuk orang yang trauma dalam bertetangga, sampai-sampai saya memilih untuk di rumah saja, menghindari rasa sakit hati yang sering datang saat berkumpul dengan tetangga.
“Sorry niy jeng jadi curhat sama kamu sekalinya ketemu, habis aku kadang merasa seperti sendirian.” Saya menatap teman saya.
“Saya seperti nggak punya teman, sepertinya saya nggak bisa menyesuaikan gaya hidup mereka.”
“Memang kenapa?”
“Lha saya pulang selalu larut malam, kadang disindir-sindir jadi orang kok nggak suka bergaul seperti nggak butuh tetangga. Ada lagi yang suka nyuruh-nyuruh untuk datang ke masjid ikut pengajian, tapi cara dia mengajak seringkali menyakitkan hati.” Saya menghela napas mengiyakan ucapan teman saya.
“Maaf bu,” terdengar ucapan seseorang. Ternyata Pok Ayum pembantu tetangga persis depan rumah saya. Dia meminta agar saya memindahkan motor yang saya parkir di depan pintu pagar, tuannya mau memasukkan mobil.
Saya segera memindahkan motor dibantu teman saya. Siang itu jadinya kami berdua ada di halaman. Tetangga saya segera memasukkan mobil tetapi tiba-tiba bruk pot semen yang saya taruh di depan pagar pecah ditubruk ban depan mobil. Si tetangga saya santai saja dan lagi-lagi bruk. Dua kali dia menghantam pot saya hingga pecah.
Usai memarkir mobil, tetangga saya bernama Falahuddin itu turun dari mobilnya memeriksa bodi mobil tergores tidak. Usai itu langsung masuk ke rumah tanpa melirik sedikit pun pot saya yang hancur. Saya geleng-geleng kepala melihat sikap Falahuddin. Teman saya menghela napas.
“Parah,” gumamnya. Saya tersenyum padanya.
“Kok kamu santai aja jeng, nggak bilang soal pot yang renyek itu,” ujar teman saya sambil menatap ke pot yang sudah tak berbentuk meski tanah dan bunganya masih segar berdiri.
“Buat apa,” ujar saya sambil melangkah menuju ke dalam.
“Setidaknya minta maaf kek sudah nabrak pot bunga kamu jeng.” Saya tersenyum tipis.
“Sudahlah ayo diminum es cendolnya,” ujar saya.
“Aneh juga tetanggamu jeng, sudah ngancurin pot cuma ngeloyor pergi nggak ada sopan santunnya,” rutuk teman saya.
Ini hanya sedikit pengalaman kurang menyenangkan dari tetangga, meski sesunguhnya tetangga itu sebenarnya menjadi orang yang paling dekat dengan kita terutama ketika kita sedang mengalami kesulitan.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Hidup Untuk Bekerja Mendengar

2 Komentar Add your own

  • 1. AGT  |  Januari 21, 2010 pukul 6:47 am

    Thx ya jeng Wid, aku jadi tahu polah tingkah tetanggamu itu, soalnya aku g bs memantau setiap hr. Sing sabar!

    Balas
    • 2. dianing  |  Januari 23, 2010 pukul 4:53 am

      Terimakasih pak, ya gitu deeh.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 105,232 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: