Menyajikan Kota Batang

Januari 14, 2010 at 1:34 pm 6 komentar

INI merupakan pengalamanyang membuat saya bertanya, apakah Batang itu betul-betul kota yang tak dikenal di peta Indonesia. Ceritanya saya baru pindah rumah, untuk memangkas rambut sebenarnya saya tak terbiasa gonta-ganti salon tetapi kondisi membuat saya mengunjungi salon terdekat yang notabene adalah tetangga saya.
Kami ngobrol panjang lebar mengenai pengalaman kami masing-masing dari masa-masa mengontrak rumah sampai ke masalah anak-anak. Hingga lawan bicara saya bertanya dari mana asal saya. Saya menyebut Batang, dia sendiri berasal dari Surabaya.
“Masak sih Mbak dari Batam kok dialek mbak Jawa banget,” celetuknya mendengar jawaban saya yang berasal dari kota Batang.
“Batang mbak, Pekalongan ya jelas to medok Jawa.”
“Ooh.”
Membaca novel terbaru saya WETON, Bukan Salah Hari akan membawa pembaca seperti pelesiran ke tanah Jawa, khususnya Batang. Kota kecil di Jawa Tengah yang masih jarang dikenal oleh orang luar Jawa, bahkan yang orang Jawa saja ada yang tidak tahu Batang itu ada di mana. Letaknya di sebelah Pekalongan memang terkesan hanya menjadi bayang-bayang dari kota Batik itu. Setiap kali saya ditanya dari mana asal saya, saya akan menjawab dari Batang Pekalongan untuk menghindari si penanya bertanya lebih detil lagi, seperti “Di mana itu?”, dengan menautkan kening kuat-kuat. Dengan merangkaikan kota Pekalongan, orang akan paham.
Lewat novel saya ingin orang mengetahui tentang Batang. Bagi saya Batang sangat kaya dengan budaya tradisinya, salah satunya ungkapan-ungkapan yang sulit dialihkan ke bahasa mana pun. Seperti kata-kata krowak, kemruyuk, mlungker, ngrungkel dan sebagainya. Novel WETON saya garap dengan semangat mengenang Batang. Nama-nama jalan dan kampungnya benar-benar nyata.
Batang bagi saya adalah magnet yang sewaktu-waktu bisa membuat benak saya campur aduk karena didera rasa kangen. Kangen itulah yang membuat saya kembali ke masa kanak-kanak lalu menumpahkannya ke novel sebagai ungkapan betapa saya selalu kangen dengan betangan sawah, air sungai yang jernih juga lenguhan khas kerbau.
Selamat membaca novel WETON, semoga merasa berada ditengah-tengah kearifan lokal Jawa, merasakan denyut perekonomian di sana juga berbagai masalah sosial yang ada. Salah satunya mitos yang satu ini. Weton.
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik Novel WETON.

Sembunyikan Pemberian Kita Hidup Untuk Bekerja

6 Komentar Add your own

  • 1. Potter  |  Februari 12, 2010 pukul 10:41 am

    hahahaha, Iya mbak, saya juga sering mengalami hal yang sama, orang akan bertanya balik tentang keberadaan kota kita, “Dimana Itu…???”
    SMoga kita tak pernah ragu untuk menyebut “Mbatang” sebagai kota kita,

    Salam Kenal Ya Buat Mbaknya, hebat ah yakin, moga Novelnya juga banyak yang menikmatinya, 🙂

    Balas
    • 2. dianing  |  Maret 2, 2010 pukul 3:53 am

      He he, sama dunk nasib kita mas Potter. Salam kenal juga, btw Mbatange endi?

      Balas
  • 3. Potter  |  Desember 17, 2012 pukul 12:41 pm

    dari sambong, wirosari mbak,,, mbak nya mana ?

    Balas
    • 4. dianing  |  Januari 18, 2013 pukul 3:44 am

      Saya Alun-alun Batang ngalor. Cedak bangets mbek sampean:)

      Balas
  • 5. Anonim  |  Maret 4, 2013 pukul 10:44 am

    Saya habis baca Novel Weton ini mbak, kebetulan sekali saya baca bertepatan dengan weton saya. Ah saya merasa Jowo sekali mbak sekaligus nostalgia…

    Balas
    • 6. dianing  |  April 12, 2013 pukul 3:27 am

      Maturnuwun wes moco Weton .

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 103,212 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: