Sembunyikan Pemberian Kita

Januari 13, 2010 at 5:08 am 2 komentar

TAHUN baru segalanya serba baru termasuk pengurus RT juga kartu iuran RT, kartu SPP TPA, dan ada satu lagi yang bikin saya menautkan kening. Kartu warna biru laut yang diedarkan pengurus masjid. Kartu yang ditandatangani banyak pengurus serta mengutip ayat Alqur’an untuk mengajak seseorang untuk beramal.
“Kalau ada uang Fir sumbangin ke masjid, kalau nggak ada ya nggak usah” ujar bu Nadine yang juga guru ngaji di TPA dekat rumah. Kadang orang setengah kaya ini kalau bicara suka menyakiti perasaan. Sudah memanggil saya dengan nama anak doang, memberi kartu amal dengan kalimat rada-rada meremehkan saya. Bujubune tenan dia.
Saya hanya meruncingkan mulut sambil masuk ke dalam, jadi ingat peristiwa beberapa tahun silam ketika di lingkungan kami berdiri sebuah masjid yang lux. Semua dinding dari kayu pilihan. Masjid itu diberi nama sesuai nama donatur terbesar. Katanya sih pengusaha yang anaknya menteri.
Masjid yag kalau di kampung saya seukuran mushala itu langsung sarat dengan kegitan. Salah satunya pengajian ibu-ibu setiap Jumat sore. Kegiatan inilah yang bikin saya trauma menginjak masjid ini. Sebenarnya bukan masjidnya yang bikin saya trauma melainkan sikap tetangga-tetangga saya yang unik-unik. Ya salah satunya Bu Nadine itu. Suatu hari dia datang ke rumah memberi undangan pengajian ke saya. Kalimatnya sangat menusuk perasaan saya.
“Sekali-kali mbok ke masjid Fir, biar tahu masjid.” Begitu ucapan yang keluar dari Bu Nadine. Saya hanya bisa mengurut dada sambil memandangi punggungnya saat keluar dari halaman rumah saya. Kok bisa Bu Nadine berujar seperti itu. Apakah dia nggak punya perasaan hingga bisa berujar seenak hati. Apa saya ini buta aksara apa kok dibilang biar tahu masjid. Saya geleng-geleng kepala sambil masuk ke dalam.
Kalau saya mau ke masjid atau nggak itu kan urusan saya, apalagi waktu itu saya masih punya bayi. Kalau pun saya tak datang di pengajian itu pun saya selalu mendengarkan dan menyimak sambil menemani si kecil. Ceramah di masjid itu selalu menggunakan pengeras suara. Mendengarkan dari jauh justru lebih bisa menghayati isi yang disampaikan, ketimbang mendengarkan langsung.
Beberapa minggu kemudian saya tergerak untuk mengunjungi pengajian Jumat sore itu. Betapa terkejutnya saya melihat baju dan busana ibu-ibu yang datang. Kesan fashion show begitu kental. Saya menangkap ada persaingan dalam penampilan diantara ibu-ibu yang datang, sementara saya hanya memakai celana panjang biasa dengan baju lengan panjang biasa juga. Saya jadi merinding melihat pemandangan seperti itu.
Minggu besoknya lagi saya datang lagi, di tengah jalan saya bertemu dengan dua ibu-ibu yang mau datang juga. Kami ngobrol sepanjang jalan hingga salah satu dari ibu-ibu itu berujar kalau dia datang ke masjid karena malu dengan tetangga. Rumah dekat masjid kok nggak aktif ke masjid. Saya jadi berpikir jadi tetangga saya itu mau mengaji ke masjid karena malu sama tetangga, bukan karena mencari ridha Illahi. Waduh.
Kali itu saya dibuat tercengang lagi. Dalam pengajian itu dijadikan ajang jualan pakaian. Ada beberapa ibu menawarkan jualannya ke orang lain, saya jadi kurang nyaman mengikuti pengajian Jumat sore itu. Sebelum pengajian dimulai karena pengisi ceramah belum hadir, pengurus pengajian mengeluhkan jumlah ibu-ibu yang terus menyusut kehadirannya. Dia mengusulkan agar ada konsumsi di setiap pengajian.
“Agar bersemangat ngajinya,” ujar pengurus pengajian di masjid itu.
“Adakan saja pengajian bu,” ujar salah satu ibu-ibu yang ikut pengajian. Tak lama masjid itu riuh rendah oleh usulan-usulan bagaimana caranya agar pengajian Jumat sore itu dikunjungi oleh ibu-ibu. Diantara percakapan ibu-ibu itu saya memilih diam dan langsung syock menghadapi model pengajian seperti ini.
Dulu sewaktu remaja saya pernah mengikuti pengajian setiap Sabtu malam keliling mushala. Setiap minggu berpindah-pindah mushala. Pengajian diikuti oleh remaja-remaja dari berbagai kampung. Setiap satu bulan sekali berkumpul di Masjid Jami Agung di Batang. Saya senantiasa menemukan ketulusan dalam setiap ritual pengajian. Kami tak dipusingkan soal berapa jumlah yang datang dalam pengajian, apalagi dengan makanan kecil.
Saya masih menimang-nimang kartu warna biru laut yang baru saja saya terima dari Bu Nadine.
“Bun,” anak saya yang kedua memanggil saya.
“Bikin mi goreng,” pintanya sambil merengek.
“Makannya bareng nasi ya.” Anak saya mengiyakan. Saya ke dalam. Menaruh kartu mirip spp itu di atas lemari. Saya mengambil selembar uang imaribuan untuk membeli mi instan ke warung.
Kebetulan Mama Sheila sedang di warung, jadi saya tak perlu teriak-teriak memanggilnya.
“Beli apa Ma Fira,” tanyanya.
“Mi goreng Mbak tiga,” ujar saya. Mama Sheila mengambil mi goreng, sementara mata saya tertumbuk pada kartu warna biru laut yang tertumpuk di atas meja.
“Banyak banget Ma Sheila kartu amal.”
“Iya tuh nggak tahu kok ditumpuk di sini,” ujar Mama Sheila agak menggerutu.
“Emang sampean selalu rutin ngasih setiap bulan ya,” saya siang itu mendadak cerewet. Ingin tahu berapa dia beramal, rutin nggak ngasih ke masjid. Saya juga bilang ke dia nggak pernah ngasih melalui pengurus.
“Habisnya ya mama Fira beramal kok diketahui orang lain, ditulis berapa kita beramal. Kata orangtua kita kan kalau tangan kanan memberi ya tangan kiri kita nggak perlu tahu. Ini malah dicatat nama dan besarnya sumbangan. Bikin riya,” ujar Mama Sheila panjang lebar tetapi kok seperti tengah bad mood. Ada aya sih gerangan.
“Menurutku nih Mama Fira mau beramal kek mau nggak kek terserah kita dong. Masak setiap bulan Bu Nadine datang ke rumah persis tukang kredit, nanya mama Sheila mau nyumbang masjid berapa nih bulan ini.” Masih panjang lebar penjelasan Mama Sheila.
“Ya mau nggak mau saya harus ngasih kan, orang dia datang ke rumah sambil bawa catatan buku masjid.” Saya mengangguk-angguk.
“Saya malah nggak pernah ngasih mbak terus terang saja, lha wong beramal kok diketahui orang lain, ya lucu.”
“Lucu bin ajaib,” sambung Mam Sheila.
“Makanya Mama Fira saya nggak bisa ikut arisan RT karena memang pengeluaran untuk beramal ke masjid saja sudah berat,” Mama Sheila mengucapkannya dengan getir. Saya menelan ludah. Memang untuk arisan RT pergantian tahun ini dibuka periode baru. Saya tercenung mendengar keluhan Mama Sheila soal amal jariah dimasjid yang ternyata memberatkan baginya.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Khitan Menyajikan Kota Batang

2 Komentar Add your own

  • 1. Henny  |  Januari 25, 2010 pukul 10:58 am

    Wow, web nya bagus nihhh
    Sukses ya

    Balas
    • 2. dianing  |  Februari 1, 2010 pukul 12:37 pm

      Terimakasih mbak Henny.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: