Khitan

Januari 8, 2010 at 5:19 am Tinggalkan komentar

KHITAN sangat dianjurkan dalam Islam, ternyata untuk menghindarkan kaum laki-laki dari penyakit yang membahayakan seperti gangguan ginjal atau kanker kulit. Khitan seringkali diikuti dengan membuat pesta yakni mengundang tetangga untuk datang ke rumah dengan jamuan makan siang juga makanan kecil lainnya. Tak jarang pula yang hanya dilakukan dengan biasa-biasa saja, tanpa menyelenggarakan pesta.
Masih ingan dengan Bagus dalam novel WETON, Bukan Salah Hari? Ia harus dikhitan meski masih sangat muda untuk ukuran kebiasaan Batang. Bagus masih berusia balita ketika dikhitan. Di novel Weton itu saya gambarkan bagaimana tegangnya Sri saat harus menemani Bagus saat dikhitan.
Soal khitan ini saya ambil dari kisah saya ketika harus mengkhitankan Rizki di usia tiga tahun lebih. Setelah mengurus segala sesuatunya, disepakati Rizki dikhitan pagi hari pukul enam. Saya dan si sulung yang menemani selama Rizki dikhitan. Suami memilih di luar karena nggak tega.
Di dalam kamar operasi kecil itu dokter berusaha memperlunak suasana. Saya banyak diam dan tegang, Rizki sendiri banyak diam dan pasrah. Dia mau dikhitan setelah diberi pengertian agar tidak sering demam dan tak masuk rumah sakit lagi karena harus dirawat. Dokter Menyapa Rizki dengan pertanyaan-pertanyaan seputar dunia anak-anak.
“Besok mau jadi apa Rizki,” tanya dokter sambil mempersiapkan peralatan operasi kecil dibantu asistennya.
“Jadi Power Ranger,” ujar Rizki datar yang disambut tawa oleh dokter. Selanjutnya sambil memberi bius lokal dan mulai bekerja dokter terus mengajak ngobrol dengan Rizki seputar film anak Power Ranger. Tak lama setelah memotong bagian ujung maaf penis Rizki, dokter menjelaskan ke saya, memperlihatkan kuman-kuman yang ada di dalam. Kuman itu menyerupai bubuk putih seperti tepung yang kemudian dibersihkan oleh dokter. Dokter menyampaikan kuman inilah yang bisa mengakibatkan ganggunan ginjal juga kanker kulit.
“Itulah mengapa Islam mengajarkan pada anak laki-laki dikhitan,” ujarnya kemudian. Saya mengiyakan penjelasan dokter.
Syukur operasi berjalan lancar meski Rizki sempat kesakitan saat jahitan terakhir. Rupanya bius lokalnya selesai. Sepulang dari dokter kami singgah ke Ciputat mencari permintaan Rizki. Dari televisi yang dinyalakan oleh pemilik toko, mengabarkan Yogya diguncang gempa. Duh adik saya sedang kuliah di sana, bagaimana kabarnya?
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik Novel WETON.

Janganlah Mengambil Hak Orang Lain Sembunyikan Pemberian Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 106,142 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: