Janganlah Mengambil Hak Orang Lain

Januari 7, 2010 at 8:00 am Tinggalkan komentar

PAGI belum beranjak ke siang ketika salah satu tetangga saya berkunjung ke rumah. Saya juga baru saja selesai memasak. Tetangga saya itu setengah berkeluh kesah dengan saya, dia bilang ibunya tengah bermasalah dengan kakak kandung sendiri. Saya sejenak mengabaikan pekerjaan rumah. Memberi ruang serta waktu untuk tetangga saya sekedar berbagi cerita. Saya lihat wajahnya begitu muram.
“Bermasalah dengan saudara kandung kan biasa mbak, lumrah dalam keluarga.” Tetangga saya duduk bersebelahan dengan saya meski beda kursi. Ia mengambil bantal yang saya taruh di kursi dan menaruhnya di atas pahanya sambil setengah memeluk bantal.
“Masalahnya rumit Ma Fira,” saya mencoba untuk menahan diri untuk tidak bertanya meski hati begitu penasaran.
“Pakdhe saya itu menggadaikan tanah milik ibu tanpa sepengetahuan ibu, tahu-tahu datang surat tagihan dan karena ibu tak siap maka tanah itu dijual. Ibu sepeser pun tak mendapatkan uang dari penjualan tanah itu.” Saya menelan ludah. Teringat dengan sengketa tanah antara nenek dan adik nenek.
Ceritanya nenek sudah membayar tanah yang telah dijual adiknya. Kakek tak mengurus akta tanah itu karena kakek pikir jual beli tanah itu dengan saudara kandung nenek sendiri.
“Untuk apa dibuat aktanya,” begitu alasan kakek hingga datang prahara itu.
Tiga anak-anak adik nenek itu meminta kembali tanah yang sudah dibayar kakek. Kakek dan nenek juga bulek dan paman saya membela sebidang tanah itu, hingga bertengkaran memanas. Singkat kata kakek dan nenek saya kalah telak, karena tidak ada akta tanah hanya surat bukti jual beli tanah. Saksi-saksi yang bersangkutan dengan jual beli tanah itu sendiri sudah meninggal.
Kekalahan itu membuat kakek jatuh sakit dan sempat dirawat selama lebih satu bulan di salah satu rumah sakit di Semarang. Setelah kesehatan kakek membaik, kakek dibawa pulang ke Batang. Ketika itu saya masih duduk di kelas dua SMP. Saya tak sampai hati melihat kakek, tubuhnya teramat kurus. Wajahnya yang tirus semakin jelas tampak pada tulang rahangnya.
Kakek sangat lemas, padahal keseharian kakek sebelumnya dihabiskan di sawah, di kebun juga halaman samping rumah yang penuh sayur mayur. Kakek merupakan petani sejati, apa pun keperluan sayuran tinggal petik di halaman samping rumah. Tak lama kakek pulang ke Batang, kakek meninggal. Peristiwa itu hanya berselang satu sampai dua bulan setelah sengketa tanah itu.
Dampak dari sengketa tanah itu terasa hingga sekarang, kami yang masih saudara sekandung dari pihak nenek sampai anak ke cucu nenek tak ada yang mau bersilarutahmi. Perasaan sakit itu mendera sampai sekarang. Saya yang hanya cucu saja merasa sakit setiap kali melintas di depan tanah itu. Saya tak tahu persis berapa luas tanah itu, yang saya tahu lumayan luas. Sampai sekarang hubungan itu belum tersambung, mungkin juga tak akan pernah tersambung, meski masing-masing dari anak cucu kakek sudah bisa menerima kenyataan pahit itu.
“Ibu sebenarnya ikhlas Mama Fira, tapi namanya tanah biar pun bisa menerima tetap saja sakit rasanya. Sudah hampir satu tahun kami saling diem-dieman, tidak saling bertegur sapa apalagi saling berkunjung,” ujar tetangga saya lirih. Saya bisa memahami itu. Terdengar helaan napas tetangga saya yang berat.
“Saya yakin Tuhan tak kan diam,” ujarnya lagi. Saya mengiyakan. Lalu panjang lebar tetangga saya itu bercerita kalau pakdhenya sering mendapatkan musibah setelah menjual tanah ibunya. Pakdhe tetangga saya pernah jatuh dari atap rumah ketika hendak membetulkan atap. Satu bulan dirawat di rumah sakit, entah berapa biaya keluar untuk pengobatan itu. Belum lama dari rumah sakit dan belum pulih benar kesehatan pakdhenya sepeda motor menabraknya dari belakang. Anak gadisnya tak jadi menikah lantaran calon suami dijemput polisi karena melakukan tindakan kriminal. Pernikahan yang sudah direncanakan jadi urung dilaksanakan. Saya sejenak menghela napas. Tak bisa membayangkan bagaimana malunya sang gadis.
Tetangga saya menambahkan lagi ceritanya.
“Saya baru saja menerima telepon dari bulek di kampung Ma Fira, satu-satunya motor pakdhe buat ngojek hilang dicuri. Sekarang saya tidak tahu dari mana pakdhe harus menafkahi keluarganya, mengingat ojek itulah sumber penghasilan sehari-hari.” Saya menghela napas lagi. Begitu musibah datang bertubi-tubi menyambangi pakdhe tetangga saya itu.
“Dulu kalau kekurangan beras atau uang, istri pakdhe suka ke rumah minta tolong. Sekarang hubungan kami yang buruk bisa jadi membuat istri pakdhe tak berani datang ke rumah. Saya mengangguk-angguk membayangkan istri dan anak-anak pakdhe yang tak bersalah. Kesalahan bisa jadi murni milik pakdhe dan istrinya, anak-anak sama sekali tak tahu menahu tetapi mereka harus menanggung bebannya.
Pengalaman buruk atau musibah juga datang bertubi-tubi setelah tanah kakek direbut kembali oleh adik nenek. Dari peristiwa-peristiwa buruk itu kami jadi bercermin pada sebuah ajaran janganlah kita zalim pada orang lain, jangan pula mengambil hak orang lain.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Pentingnya Khitan Khitan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: