Khilaf Tak Mungkin Datang Berkali-kali

Desember 22, 2009 at 2:11 pm Tinggalkan komentar

ADA yang agak aneh dengan Mama Dipo dan Bu Neneng. Mereka tampak tak harmonis seperti biasanya. Biasanya hubungan mereka ibarat kopi dan gula. Tak ada Bu Neneng terasa tak lengkap tanpa Mama Dipo. Keduanya teramat dekat, suka tuker-tukeran makanan atau lauk pauk. Tak jarang Bu Neneng suka meminta sayur kalau kehabisan sayur, demikian juga dengan Dipo. Dipo sering ditraktir jajan sama Bu Neneng.
Akhir-akhir ini Mama Dipo tampak sekali menghindar jika ada Bu Neneng. Demikian juga dengan Bu Neneng, ia suka mengumpat Mama Dipo ketika tak ada orangnya dan ketika ada orang lain berdekatan dengan Bu Neneng. Hingga tiba saatnya Bu Neneng mengundang tetangga makan bersama. Suaminya ulang tahun waktu itu. Semua tetangga yang diundang datang pada jam yang ditentukan, termasuk saya. Hanya Mama Dipo yang tak datang di acara makan-makan itu.
Bu Neneng emang jago dalam soal memasak. Menu siang itu khas masakan Padang, dia sendiri yang menyiapkan semua hanya dibantu adiknya seorang. Di tengah acara makan-makan Mama Revo, tetangga yang rumahnya paling ujung bertanya kok Mama Dipo nggak diundang.
“Diundang tapi mana mau dia datang,” ujar Bu Neneng ketus.
“Dia nggak bakal datang,” imbuh Bu Feri yang juga sangat dekat dengan Bu Neneng.
“Ririn itu kan kalau mati mayatnya ngubur sendiri, nggak butuh orang.” Mama Revo tersedak, untung tak jauh dari tempat duduknya tersedia minuman. Ia tampak sekali terkejut mendengar kalimat Bu Neneng. Saya juga teramat terpukul dengan kalimat Bu Neneng itu. Nafsu makan saya menurun drastis, dan benar-benar malas meneruskan makan di acara Bu Neneng itu. Sampai hati betul Bu Neneng berujar seperti itu, padahal berselisih paham itu bukan untuk selamanya. Suatu ketika akan ada masanya rukun kembali, tak salah kan menjaga lidah juga perasaan orang. Bukan tidak mungkin ucapan Bu Neneng itu terdengar oleh Mama Dipo orang rumahnya bersebelahan.

Satu persatu kami yang diundang pulang setelah setelah usai menikmati hidangan, persisnya saya tak bisa menikmati makan-makan bersama itu. Rasanya sangat kenyang begitu mendengar umpatan Bu Neneng untuk Mama Dipo itu. Saya duduk-duduk di ruang tamu usai pulang dari Bu Neneng, mengapa ya Bu Neneng gemar sekali menyakiti hati tetangga. Saya baru saja didiemin sama Bu Neneng, tetapi kedatangannya ke rumah mengundang saya membuat saya mau datang ke rumahnya, tapi lagi-lagi saya merasa sakit hati, meski bukan saya orang yang Bu Neneng maksudkan.

Saya pernah mendengar keluhan Mama Bella yang ingin pindah rumah karena tak tahan menghadapi tetangga yang macam-macam tabiatnya. Saya pikir, di manapun tempat akan selalu sama. Ada saja benturan, gesekan dengan tetangga. Saya sendiri pernah berpikiran untuk pindah rumah tetapi capek saat membayangkan pindah-pindah rumah. Sudahlah, pada saatnya nanti seseorang akan berubah baik. Tak akan selamanya saling menganggu tetangga bukan?

Terdengar salam, saya dengan lemas membuka pintu. Tak menduga sama sekali Mama Dipo yang datang ke rumah. Saya mempersilahkan masuk. Tanpa saya duga Mama Dipo minta ngobrol di dalam, kalau di ruang tamu akan tampak dari luar. Saya mengiyakan.
“Ada apa,” tanya saya kemudian setelah kami duduk di ruang keluarga. Suami masih berada di kantor sedang anak-anak sedang di sekolah, jadi kami bisa ngobrol dengan leluasa.
“Saya nggak menyangka Ma Fira.”
“Kenapa?”
“Bu Neneng, masak semalam begitu suami pulang dari kerja belum sempat ganti baju tahu-tahu datang ke rumah jelek-jelekin saya, dia bilang saya suka berhutang sama Tessy padahal saya hanya kurang seribu duaribu rupiah, itu pun besoknya langsung saya lunasi. Untung suami tak termakan omongan Bu Neneng. Saya heran sama dia, dia yang suka ambil belanjaan sampai sekian ribu saya yang diomongin suka berhutang. Saya kan malu sama suami.”
“Sudahlah yang penting papanya Dipo nggak mempermasalahkan soal itu kan?”
“Iya sih cuma saya heran, shock nggak nyangka Bu Neneng begitu.”
“Bukannya selama ini Mama Dipo sangat dekat sama Bu Neneng.”
“Makanya Mama Fira saya jadi seperti orang yang teramat kecewa, selama ini kalau perlu ini itu saya bantu kok akhirnya jadi begini. Suka mengumpat saya di depan tetangga. Seperti ucapan yang tadi.” Saya memilih diam, berharap Mama Dipo bercerita lagi.
“Saya gimana mau datang, mengundang saja nggak. Masak saya dibilang nggak butuh tetangga, diundang nggak datang. Mau musuhan sampai tua.”
“Kapan?”
“Baru saja ngomong keras-keras di depan rumah sama Bu Feri.”
“Oo.”
Kami diam sejenak.
“Apa salah saya, hanya karena Angie minta kertas HVS nggak saya kasih kok saya didiemin. Orang kertas emang banyak beberapa rim, tapi itu kan punya orang.”
“Kertas HVS?”
“Kalau dia nggak sedang diemin Mama Fira pasti datangnya ke sini.” Saya tersenyum tipis.
“Jangan-jangan dia mengundang saya makan-makan ada maunya Mama Dipo.” Mama Dipo tersenyum tipis.
“Sakit hati saya Mama Fira mendengar umpatan-umpatan Bu Neneng.”
“Sudahlah Mama Dipo anggap saja dia sedang khilaf.”
“Khilaf kok setiap saat.”
Saya jadi berpikir orang akan kehilangan rasa hormat kepada Bu Neneng, meski usia lebih tua dari yang lainnya. Memang tak mungkin bila khilaf itu datang berkali-kali.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Anak Sumber Inspirasi Saat Sakit Mendera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: