Pembantu Juga Manusia

Desember 17, 2009 at 3:07 pm 4 komentar

RIMA seperti biasa datang ketika Fira dan Rizki baru saja berangkat sekolah. Asisten saya yang sudah hampir satu tahun membantu saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga ini termasuk orang yang disiplin. Ia datang selalu di jam-jam seperti ini, begitu datang langsung mencuci baju yang sebelumnya sudah saya rendam dengan deterjen. Saya yang di dapur karena memasak sambil mencuci piring, sering tak mendengar ucapan salamnya saat datang. Maklum tempat mencuci baju kami bikin di samping rumah sebelah kiri, sedang dapur ada di bagian rumah paling belakang.

Rima ini asisten saya yang entah keberapa kali. Saya memang sering gonta-ganti asisten sejak Asih, asisten pertama saya keluar dari saya karena ibunya yang sakit-sakitan. Ketika itu Asih memegang dua rumah di saya dan tetangga saya. Semula ia ingin berhenti di tetangga saya saja, dan ingin bekerja di satu rumah saja. Alasannya karena dia pertama kali bekerja di rumah saya.

Saya ketika itu berpikir sangat tidak enak dengan tetangga saya jika Asih keluar dari dia dan terus bekerja di rumah saya. Saya bilang agar Asih yang berhenti dari saya saja.
“Saya nggak enak sama ibu.”
“Sudah nggak apa-apa, carikan saja saya yang nggantiin mbak Asih.” Asih bersedia dan tak lama datang orang yang menggantikannya. Sayang tak bertahan lama seperti Asih. Jika Asih bekerja dengan saya selama empat tahun, penggantinya hanya selama seminggu. Ternyata saat menggantikan Asih, Darti tengah pulang ke rumah orangtuanya karena bertengkar dengan suami. Ia dijeput suaminya agar pulang.
Hanya selang sehari Asih datang ke rumah meminta maaf. Menurut cerita dia Darti pulang ke rumah lantaran suami Darti menikah lagi sedang Darti tak sudi dimadu. Asih menawarkan lagi untuk mencari pengganti Darti, saya bilang untuk sementara nggak dulu. Biar pekerjaan rumah sementara waktu saya pegang sendiri.
Ketika itu saya baru memiliki dua anak jadi pekerjaan rumah selama satu minggu bisa saya tangani, tetapi melihat saya tak sempat menulis suami menyuruh saya untuk mencari pembantu. Saya mengiyakan karena saya sendiri ternyata tak mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Saya juga harus membagi waktu untuk menemani anak-anak belajar, juga menulis cerpen untuk media. Terkadang badan yang capek membuat saya kurang perhatian dengan anak-anak, kadang juga mudah memarahi mereka.

Saya mencari lagi asisten baru dengan meminta tolong Pok Emen, tiga hari dapat. Sayang hanya bertahan satu minggu, saya cari lagi. Sekali lagi sayang beribu sayang dan untuk seterusnya saya gonta-ganti asisten karena meraka ada yang bekerja hanya dua hari, lima hari, dua bulan dan tiga bulan. Sampai-sampai Bu Neneng tetangga yang paling unik itu bilang sama Asih, emang pembantu seperti apa sih yang dicari sama Mama Fira. Asih sempat cerita sama saya perihal ucapan Bu Neneng. Saya tak peduli, yang penting saya menghargai asisten-asisten saya. Toh mereka berhenti karena berbagai alasan dari adik yang melahirkan, ibu yang sakit dan suami yang melarang bekerja karena anak-anak jadi kurang perhatian.

Rima ini yang menggantikan asisten saya yang dulu, Marsha. Marsha bekerja sama saya terhitung lama, satu tahun persis. Ia masuk di bulan April keluar juga di bulan yang sama. Jika Marsha banyak ngomong, suka memindahkan isu yang ada di kampungnya ke rumah saya, Rima pendiam luar biasa. Saya sering mengajaknya cerita tetapi tak juga bisa memancing dia untuk bercerita tentang apa saja.

Selama bekerja dengan saya sekali pun dia tak pernah mau minum atau makan makanan kecil yang saya sediakan meski sudah saya taruh khusus buat dia. Kalau saya paksakan malah dia minta dibungkus saja untuk dibawa pulang.
“Biar untuk anak saya,” ujarnya. Saya sering tersentuh dengan sikapnya. Suatu ketika pagi-pagi kami beli donat dan dibagi rata. Saya kasih ke Rima untuk dimakan di sini, eh malah dibawa pulang. Katanya ingat Yafi, anak satu-satunya. Rima ini usianya baru duapuluh dua tahun, anaknya sudah berusia empat tahun. Suaminya bekerja di bengkel motor. Termasuk istri yang beruntung karena suami punya pekerjaan dibanding dengan istri-istri lainnya. Di kampung dekat saya tinggal memang meyedihkan. Di sini tingkat pendidikannya rendah. Kaum laki-laki lebih suka menganggur, para istri yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Banyak para istri yang menjadi tulang punggung keluarga.

Hari ini jatahnya Rima menyeterika baju. Dia menyeterika baju dua hari sekali. Kalau mencuci baju setiap hari. Saya memberinya libur setiap hari Minggu juga setiap libur nasional. Usai menyapu bisanya Rima akan ngepel lalu menyeterika. Saya berniat mengeluarkan baju dan bertanya dulu hari ini nyeterika kan mbak? Ternyata dia menyanggupi permintaaan Bu Feri untuk membantu menyeterika baju. Saya mengiyakan.
“Nggak apa-apa kan bu saya nggosok besok,” ucap Rima mungkin nggak enak ke saya.
“Ya nggak apa-apa mbak,” ujar saya.
Pukul sepuluh Rima selesai mengerjakan semuanya. Seperti biasa dia pamitan pulang dan kali ini pindah dulu ke rumah Bu Feri. Saya sendiri sudah selesai masak dan waktunya menulis.
Sore harinya saya dikejutkan oleh Rima yang baru keluar dari rumah Bu Feri. Sesore ini?
“Bu,” salamnya saat lewat depan rumah dan hendak ke rumah Bu Mirza yang ada persis di depan rumah saya. Ibu Rima bekerja di keluarga Bu Mirza. Rima rupanya tengah mengambil rambutan yang tadi pagi dia beli. Usai Rima pulang, Pok Yanti menghampiri saya. Saya bertanya kok lama banget sampai jam lima sore.
“Iya cuciannya banyak bu.”
“Kan bisa dicicil Pok.’
“Nggak tahu bu, Rima kan anaknya harus dibilangin dulu, dia nggak berani pulang sebelum selesai. Habis gitu nggak dikasih makan siang.” Saya terkejut. Rima itu biar pun sudah dipersilahkan makan atau minum nggak pernah mau, apalagi tidak disuruh makan.

Esoknya Rima cerita ke saya, inilah pertam kali dia mau cerita ke saya. Dia jera membantu Bu Feri. Besok lagi nggak mau.
“Sayapikir hanya cucian di luar bu, eh ternyata di kamar segunung. Kata mertuanya sejak hajatan kemarin.” Saya mengangguk kecil. Bu Feri seminggu lalu memang baru menggelar acara khitanan anak keduanya. Pantas kalau cucian menggunung, apalagi ada mertua dan adiknya juga saudara yang lain. Yang saya herankan mengapa Bu Feri tak memberi makan siang sama Rima.
“Iya bu padahal saya sudah lapar eh nggak disuruh makan.”
“Kok ngak ke sini sih Rim.”
“Ya nggak enak bu.”
“Kamu nih sudah lama bantu saya masih saja nggak enak.” Rima hanya tersenyum tipis.
Saya selalu ingat nasehat mbah putri dulu, jangan sekali-kali membedakan pembantu kita karena dia juga sama kedudukannya dengan kita. Sama-sama manusia. Bisa jadi derajat pembantu lebih mulia dihadapan Tuhan karena taqwanya, dari pada kita.
Saya sangat mengakui keberadaan pembantu atau asisten sangat besar dalam kepenulisan saya. Tanpa asisten yang mengerjakan hampir seluruh pekerjaan rumah mana mungkin saya sempat menulis.
DWY

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Weton, Bidan dan Dokter Anak Sumber Inspirasi

4 Komentar Add your own

  • 1. chainur fauzi  |  Desember 18, 2009 pukul 7:01 am

    Terus terang sy kurang tertarik dg cerita diatas, krn permaslahan disetiap rumah tangga berbagai macam ragam, belum tentu juga majikan yg salah, mungkin sj pembantunya yg suka bergaibah .. Atau bayak hal yg terjadi disitu,misalnya pembantu menceritakan majikannya kpd org lain, belum tentu seperti itu kejadiannya, ygjelas kita harus mensyukuri nikmat, bisa mendapatkan asisten RT yg cocok dg karakter n gaya rumah tangga kita,,,,kesimpulannya adalah sy tdk tertarik menceritakan PRT dalam suatu rumah tangga,,,, oke mhn maaf

    Balas
    • 2. dianing  |  Januari 14, 2010 pukul 1:16 pm

      Sama, saya juga tak tertarik dengan menceritakan PRT ke orang lain.

      Balas
  • 3. Capli Ubit  |  Desember 18, 2009 pukul 8:15 am

    Tulisan yang sangat menarik. Semoga kita menjadi orang-orang yang bisa menghargai orang lain, sekecil apa pun peran dia dalam hidup kita. Tak terkecuali pembantu. Sebab, memang sedikit orang yang memberi apresiasi yang cukup pd pembantu. Pembantu kadang dilihat sebelah mata. Tapi, kita juga perlu hati-hati dan waspada, karena kadang ada juga pembantu yang “diberi hati minta jantung”, bahkan kebablasan. Jadi menghargai mereka secara proporsional saja. Ya menghargai pekerjaanya, ya menghargainya sebagai manusia yang juga sama dengan kita. Yang jelas, ini tulisan yang sangat menginspirasi.

    Balas
    • 4. dianing  |  Januari 14, 2010 pukul 1:17 pm

      He he …

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 12 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 12 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 12 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 12 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 12 hours ago

%d blogger menyukai ini: