Bersimpatilah Dengan Tulus

Desember 15, 2009 at 7:16 am Tinggalkan komentar

SEMALAM ketika hendak mengunci pintu pagar, iseng-iseng saya melongok ke ujung gang. Lorong atau gang di tempat saya tinggal malam itu sudah senyap. Pukul sebelas lewat, saya yang terbiasa menulis sambil menunggu suami pulang akan terbiasa tidur di atas jam sebelas. Kalau pun saya mematikan komputer pukul sembilan dan masuk kamar pukul itu juga, saya susah sekali terpejam.

Saya kembali ke pagar rumah dan menarik pagar untuk bisa dikaitkan pada gembok, tetapi suara mobil yang dari rumah Bu Rina mengusik keinginan saya untuk melihatnya. Saya urungkan niat mengunci pagar.
“Ngapain Wid jam segini mau dikunci pagarnya, masih sore.” Saya hanya mendengarkan saja ucapan suami saya itu dan memperhatikan suami Bu Rini yang tengah mengeluarkan mobil dari garasi. Tak lama kemudian Bu Rini keluar rumah sambil memegangi perutnya, disusul Tania yang duduk di kursi belakang. Saya menautkan kening. Malam-malam begini keluar rumah? Astaga. Portal sudah saya kunci ketika suami pulang barusan. Kunci portalnya pun masih berada dalam saku saya.

Malam itu kok entah kenapa saya bergegas ke portal dan membukanya. Suami Bu Rini membuka kaca mobil, mengucap kata terimakasih. Saya lihat sepintas Bu Rini wajahnya seperti menahan rasa sakit sambil berusaha tersenyum ke saya. Saya sebenarnya ingin bertanya hendak ke mana, tetapi saya mengurungkan dan saya yakin mereka menuju ke rumah bersalin. Bulan ini menurut Bu Rini beberapa hari lalu merupakan bulan dia akan melahirkan anak kedua.
Suami Bu Rini keluar dari mobil.
“Sudah biar saya saja Pak,” ucap saya sembari menurunkan portal dan siap menguncinya.
“Terimakasih banyak Bu.”
“Sama-sama.” Suami Bu Rini masuk lagi ke mobil.

Mobil itu pun segera melaju menembus keheningan malam. Di tempat saya tinggal memang sepi, padahal masih dekat dengan Jakarta. Dibandingkan dengan kota kelahiranku di Batang, tempat tinggal saya jam sembilan sudah tidak ada warga yang berada di luar rumah, kecuali Sabtu malam.
Saya segera meninggalkan portal setelah menguncinya kembali. Di ambang pintu suami menatap saya dengan heran dan bertanya dari mana? Saya jawab baru buka dan menutup portal.
“Bukannya sudah dikunci tadi.”
“Bu Rini kayaknya mau lahiran.”
“Oo.”
Saya tarik lagi pagar rumah untuk saya kunci, lagi-lagi suami berkomentar masih sore kok sudah mau dikunci.
“Masih sore buat Abang, sudah larut buat orang lain,” ucap saya sambil mengunci pagar. Memang sehabis pulang dari kantor, suami saya tidak langsung istirahat. Ia akan menulis sesautu atau berselancar ke ranah maya. Saya memilih tidur karena harus bangun pagi untuk menyiapkan makan pagi buat anak-anak. Saya membiasakan anak-anak makan pagi sebelum berangkat sekolah.

Esok paginya kabar datang dari ibunya Bu Rini kalau Bu Rini melahirkan anak perempuan pukul dua dini hari. Syukurlah saya turut senang juga tetangga lainnya, tetapi kebahagiaan kami sedikit berkurang karena dua hari setelah Bu Rini melahirkan, dia pulang tanpa bayinya. Kami para tetangga bertanya mengapa dengan bayinya.

Saya dan beberapa tetangga mengunjungi Bu Rini. Menanyakan kabar tentang sikecil. Bu Rini bercerita sambil sesekali terisak, ia bilang tak tega melihat anak yang baru ia lahirkan itu mesti dipasang alat macam-macam untuk membantu pernapasannya.
“Begitu lahir tubuhnya biru, suster langsung memberinya alat bantuan pernapasan,” saya menunduk. Ingat almarhumah anak ketiga saya. Kasusnya hampir sama, begitu lahir sempat menangis sebentar kemudian diam. Bidan yang menolong saya memasangkan slang pernapasan di hidung anak saya karena tubuhnya membiru. Saya tak sampai hati untuk terus bertanya perihal sakit sikecil. Saya pernah mengalaminya . Waktu itu saya merasa hidup sendirian, menghadapi bayi yang baru berusia beberapa jam itu harus menggunakan slang oksigen.

Kabar tentang sikecil itu menyebar cepat. Tetangga kiri kanan mengunjungi rumah Bu Rini untuk menyampaikan simpati. Tak jarang ada yang membantu dengan memberi sumbangan berupa uang. Tak ada yang tak datang di lorong saya tinggal, bahkan dari lorong lainnya pun berdatangan ke rumah Bu Rini, juga para pelanggan buah karya Bu Rini berupa sulaman pita. Hanya ada satu tetangga kami yang tak juga berkunjung, yakni Bu Neneng. Dia sangat tidak peduli dengan kesedihan Bu Rini.

Hingga di suatu pagi, telepon di rumah sebelah berdering. Tak lama kemudian Bu Lely datang ke rumah mengabarkan kalau bayi Bu Rini menghadap ke sang khalik semalam. Dalam waktu singkat kami para tetangga menyiapkan segala sesuatunya untuk pemakaman sikecil, karena rencananya dimakamkan siang ini juga.
Kaum bapak memasang tenda warna kuning, sebagian mengurus pemakaman. Kami kaum ibu ada yang mengeluarkan kursi dan meja, ada juga yang menyiapkan lainnya. Kami sibuk dan penuh rasa kebersamaan membantu Bu Rini. Sampai detik itu juga Bu Neneng belum juga bersimpati pada Bu Rini.

Malam harinya kami berkumpul di rumah Bu Rini, berdoa dan menemani serta menguatkan Bu Rini. Tidak pernah saya sangka Bu Neneng datang saat acara doa bersama selesai. Saya lega akhirnya Bu Neneng mau datang ke rumah Bu Rini. Saya lihat Bu Rini tampak menghela napas, entah apa yang tengah ia rasakan dengan kehadiran Bu Neneng. Tak lama kemudian Bu Rini dipanggil suaminya untuk mengambilkan sesuatu. Saat itulah hanya tinggal nenek Tania dan Tania yang ada bersama kami.

Bu Neneng dengan santai mendekati nenek Tania. Dengan mantap dia berkata kepada kami bahwa kami, ibu-ibu di sini tidak usah repot-repot menyiapkan besek atau nasi kotak untuk bawaan bapak-bapak saat pulang dari doa bersama. Biasanya dilakukan di hari terakhir berdoa bersama.
“Biar saya yang memasak, nenek Tania tenang aja biar jadi urusan saya sama Bu RT.”
Kami saling berpandangan dengan ibu-ibu tetangga kami, disaat seperti ini Bu Neneng masih bisa bernegoisasi soal menu nasi kotak untuk malam terakhir doa bersama nanti. Artinya ia datang karena punya maksud tertentu, bukan turut berduka dengan kehilangan yang sedang dirasakan Bu Rini.
Semoga Bu Neneng besok atau lusa lebih bijak lagi. Semoga dia akan memiliki urat malu.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Parkir Mobil Weton, Bidan dan Dokter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,296 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: