Parkir Mobil

Desember 13, 2009 at 7:24 am 2 komentar

SEJAK memiliki mobil tabiat Bu Neneng tambah oke. Dari cara berjalan saja orang sudah cukup untuk geleng-geleng kepala. Begitu angkuh dan tambah tak mengenakkan saja tingkah lakunya. Setiap kali Rina keluar rumah ada komentar keluar dari mulutnya. Dari soal dandanan Bu Rina yang sangat sederhana sampai belanjaan yang dibawanya. Sepertinya apa saja yang dilakukan Bu Rina selalu Bu Neneng kritik. Tragisnya saya tetangga yang hampir persis berhadapan rumah dengannya, sering mendengar kalimat-kalimat Bu Neneng yang menyakitkan itu.

Bu Neneng juga seperti tak punya hati. Dia mengumpat habis Bu Rina ketika Cantika, anak keduanya jarinya kecepit pintu pagar Bu Rina. Ceritanya Bu Rina sedang asik mempersiapkan pesanan beberapa taplak meja besar dari sebuah salon. Suaminya yang hendak mengantar Bu Rina sempat membuka pintu pagar beberapa senti saja, karena keburu ada telepon masuk.

Tanpa diketahui Cantika main-main dengan pintu pagar itu bersama anak tetangga lainnya. Ketika yang lain hendak menutup pintu pagar, jemari Cantika berpegangan pada besi pagar dan kecepit. Cantika nangis berat, sedang temannya bingung dan ikut nangis. Bu Neneng yang mendengar Cantika menangis langsung keluar rumah. Mendekati Cantika. Bu Rina yang mendengar Cantika menangis tak jauh dari rumahnya ikut keluar hendak menolong.

Sayang bukan simpati yang ia dapatkan tetapi kalimat-kalimat kasar dan keras dari Bu Neneng. Bu Neneng meluapkan amarahnya puas-puas di depan Bu Rina yang tengah hamil tujuh bulan itu. Para tetangga satu persatu keluar rumah ingin tahu apa yang terjadi, termasuk saya.
Saya tak terkatakan marahnya sama Bu Neneng, mungkin juga perasaan ibu-ibu yang lain sama. Bu Neneng itu sangat keterlaluan. Tak punya sopan santun, tak punya rasa malu. Anak yang bermain sendiri di pagar orang, Bu Rina yang sama sekali tidak tahu dimarahin habis-habis. Kami para tetangga tak berani melerai. Saya ingin menghampiri Bu Neneng tetapi ragu, karena saya sendiri sedang bermasalah dengan dia.
“Bego aja lue, nggak punya otak lue,” Bu Neneng menunjuk-nunjuk Bu Rina yang hanya diam, lalu suami Bu Rina yang sangat santun itu malah meminta maaf sama Bu Neneng. Apa yang Bu Neneng lakukan?
“Rumah kayak seguede monas saja dikasih pagar tinggi-tinggi, dasar guru bego.” Saya mengurut dada. Siapa bilang pagar mereka tinggi, malah setahu saya pagar mereka yang paling pendek diantara rumah di lorong kami. Ingin sekali ke sana tetapi umpatan Bu Neneng terhadap keluarga itu membuat saya gentar. Bu Neneng kok sampai hati bilang bego, bego berkali-kali sama mereka.

Saya menghela napas lega. Suami Bu Rina akhirnya memilih masuk ke dalam rumah, diikuti Bu Rina. Melihat mereka masuk rumah Bu Neneng tambah marah. Dia lupa sama anaknya yang masih menangis dan minta tolong karena kesakitan.
“Dasar guru nggak tahu sopan santun,” begitu teriak Bu Neneng. Tak ada yang tak menggelengkan kepala dengan sikap Bu Neneng.
“Yang tak tahu sopan santun itu siapa,” ujar salah satu tetangga kami yang ikut melihat.
“Tahu tuh sudah tua, kok nggak malu.”
“Orang nggak pernah makan bangku sekolah.”
“Kok bisa kita punya tetangga kayak Bu Neneng.” Begitu ujar tetangga-tetangga saya sambil berlalu masuk rumah masing-masing. Saya masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamu sambil menghela napas. Kok bisa Bu Neneng memiliki tabiat seperti itu.

Esoknya nasib sial menimpa saya. Saya dan suami hendak keluar rumah dengan mobil pagi-pagi. Kami diliputi perasaan gugup pagi itu. Si kecil yang sejak semalam demam dan saya kasih obat turun panas, pagi ini demam lagi. Suami langsung menghidupkan mesin mobil. Saya bersiap-siap membawa si kecil ke dalam mobil. Usai menutup pintu mobil saya membuka pintu pagar.
“MasyaAllah,” saya menghela napas. Bu Neneng memarkir mobil memakan separuh lebih jalan di lorong gang kami. Bagaimana suami bisa mengeluarkan mobil dengan leluasa?
“Aduh Wid tolong deh bilangin Mama Angie, suruh minggirin mobilnya. Susah takut nyenggol.” Memang sepandai apapun orang membawa mobil rasanya nggak mungkin nggak nyenggol mobil Bu Neneng. Lha wong udah di tengah jalan juga sudah nongol lurus dengan pagar rumah kami.
Mau tak mau saya yang sedang dicuekkin Bu Neneng karena nggak ikut ngasih iuran kado buat tetangga yang melahirkan, saya sudah membeli kado sendiri buat tetangga itu. Eh lha kok saya didiemin sampai sekarang. Saya memberanikan diri ke rumah Bu Neneng untuk meminta tolong suami Bu Neneng agar mau menepikan mobilnya. Saya yang bicara sesopan mungkin dengan Bu Neneng malah kena omelan.
“Emang mobilmu segede apa sih, mobil sekecil itu saja minta-minta suami dipinggirin.”
“Maaf Mama Angie takut nyenggol.”
“Bego aja lue, mobil sekecil itu saja belagu lue.” Saya memilih diam. Beruntung teriakan Bu Neneng didengar suaminya.
“Bapak lagi makan.”
“Sudah selesai.”
“Merepotkan saja,” ketus sekali Bu Neneng mengucapkannya.
Pak Karmin, suami Bu Neneng segera keluar dengan membawa kunci mobil. Rupanya Pak Karmin sudah tahu dan segera menepikan mobil.

Saya mengucap terimakasih sama Pak Karmin, tetapi entah kenapa Bu Neneng masih sempat teriak-teriak.
“Dasar bego, ngerepotin orang.”
“Maafkan istri saya Ma Fira.” Saya tersenyum tipis menanggapi permintaan maaf Pak Karmin. Sejak pagi itu entah untuk berapa lama lagi waktu untu saya dicuekkin Bu Neneng.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Tuhan Hanya Memberikan yang Terbaik Bersimpatilah Dengan Tulus

2 Komentar Add your own

  • 1. Blog Acep Zamzam Noor  |  Desember 13, 2009 pukul 5:39 pm

    Salam Sastra

    Kumpulan Puisi Acep Zamzam Noor, Artikel Budaya, Artikel Sastra, Artikel Sosial, Artikel Seni, Lukisan Acep Zamzam Noor dapat di update pada Blog http://acepzamzamnoor.blogspot.com

    Selamat Berapresiasi

    Balas
    • 2. dianing  |  Januari 14, 2010 pukul 1:14 pm

      Terimakasih Bang infonya …

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 106,142 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: