Hijauya Rumput Tetangga

Desember 8, 2009 at 6:05 am Tinggalkan komentar

AKHIRNYA setelah tiga tahun terbengkalai, Bu Neneng melanjutkan renovasi kamar dan garasinya, dengan tukang-tukang yang baru lagi. Kali ini memakai dua tukang. Yang satu berusia setengah baya, Kamil begitu namanya dan yang satunya masih remaja. Hm untuk yang masih remaja ini memiliki tampang setampan Tommy Page, yang bikin hati Angie tertarik dan akrab dengannya.
Bu Neneng tampak sangat senang dengan renovasi rumah kali ini. Ia begitu akrab dengan kedua tukangnya dan keluargana. Istri dan anak Kamil sering main ke rumah Bu Neneng, mereka disambut dan diperlakukan seperti keluarga sendiri. Angie pun akrab dengan Puput anak Kamil yang masih lima tahun. Angie sendiri punya adik perempuan masih berusia satu tahun.
Ada yang lain dari tukang bangunan ini. Satu minggu bekerja di Bu Neneng, Budi tukang yang masih remaja dan ganteng itu setiap pagi punya tugas lebih. Mengantar Angie ke depan gerbang perumahan dengan motor, padahal sekali naik ojek meski bayar enam ribu rupiah. Saya pernah mendengar dari percakapan Budi sama salah satu tetangga saya yang bertanya, sekali mengantar dibayar berapa. Ternyata Budi tidak dibayar sedikit pun, padahal setiap pagi ia mesti datang lebih awal yakni jam 06.30 dan saat Angie pulang sekolah Budi akan menjemputnya. Enak betul jadi Bu Neneng dapat tukang bisa disuruh-suruh antar jemput anak sekolah. Bu Neneng sendiri sering minta diantar ke pasar untuk belanja. Akhirnya ke mana saja Bu Neneng atau Angie akan pergi tinggal suruh Budi atau Kamil.

Akhirnya renovasi selesai sudah. Rumah Bu Neneng sudah rapi, dan dia mulai membanggakan rumah plus tukang-tukangnya yang mau mengantar ke mana pun dia pergi. Biar pun rumah sudah selesai Kamil dan keluarga serta Budi masih sering bermain ke rumah Bu Neneng.
Pada suatu hari saya terkejut. Saat saya sedang berolahraga pagi, sekedar senam saya lihat Budi sedang membuka kamar yang ada di depan pagar. Kamar yang baru dibuat. Budi tidur di rumah Bu Neneng? Ya. Sejak itu Budi tinggal di rumah Bu Neneng. Rupanya dia bertugas menyapu dan membersihkan lantai serta antar jemput Angie sekolah juga mengantar ke mana pun Bu Neneng pergi. Kami para tetangga mempertanyakan mengapa Budi yang bukan saudara sendiri tidur dan tinggal di rumah Bu Neneng?

Kami hanya bisa saling bertanya antara tetangga saja, tak pernah berani mempertanyakan hal ini pada Bu Neneng. Itu sangat tidak mungkin. Bu Neneng suka meledak-ledak bila merasa tersinggung. Mulutnya yang pedas tak sayang utuk megumpat dan menghujat siapa pun. Akhirnya kami mendiamkan Budi yang berusia limabelasan tahun itu tinggal di rumah Bu Neneng memiliki anak gadis juga berusia tigabelas tahun.
Satu minggu setelah merenovasi rumah, Mama Tania salah satu tetangga saya yang kehidupannya biasa-biasa saja. Ia dan keluarga memang sangat sederhana dalam penampilan, membeli mobil. Bu Neneng tampak banget tidak suka melihat Mama Tania membeli mobil. Sepanjang bertemu denga tetangga selalu mobil mama Tania yang dibicarakan. Dari dugaannya kalau mobil itu cuma kredit.

“Nggak mungkinlah suami Rini yang cuma guru bisa beli mobil. Nggak mungkin. Nggak mungkin banget. Paling kredit atau dibelikan orangtua, atau nyewa kali.” Saya dan tetangga sering geleng-geleng mendengar Bu Neneng emosi setiap membicarakan soal mobil Mama Tania atau Rini itu.
Memang Mama Tania sangat bersahaja dalam keseharian. Suaminya guru dan dia sendiri punya usaha membuat aneka mukena, kerudung, sarung bantal, spray yang dihias dengan sulaman pita. Saya sendiri pernah memesan dua sarung galon air mineral. Karyanya bagus, dan Mama Tania sering ikut pameran juga bazar. Dia juga memiliki pegawai tetap lima orang.

Mama Tania ini dulunya mengajar tetapi setelah memiliki anak memilih berhenti mengajar dan menekuni kegiatan sulam pita yang menurutnya sangat dia suka. Bu Neneng sering mencela penampilan dan cara Mama Tania berpakaian.
“Orang punya baju kok nggak modis, jelek modelnya.” Saya sering mendengar ejekkan yang merendahkan Mama Tania. Bu Neneng kalau mengejek orang sepertinya sengaja memperbesar volume suaranya biar bisa didengar oleh tetangga terdekat. Dia juga selalu duduk di depan pintu pagar saat mencela siapa pun. Saya sering menghela napas setiap kali dia merendahkan orang. Hati Bu Neneng itu kok susah banget. Tidak bisa menikmati kebahagiaan orang lain. Sungguh kasihan.

Suatu hari tanpa saya duga Bu Neneng masuk ke rumah tanpa salam. Dia langsung menuju Marsha yang sedang menyeterika. Marsha ini orang yang suka membantu saya di rumah. Tahu-tahu Bu Neneng duduk di samping Marsha, saya sendiri sedang memasak. Bu Neneng ngomong keras.
“He Marsha itu si Jawa beli mobil baru ya.”
“Si Jawa?” Marsha balik bertanya. Marsa sekali-sekali dimintain tolong menyeterika baju di rumah Mama Tania kalau Mama Tania kelelahan.
“Itu si Rini.”
“Rini?” Marsha bertanya lagi. Dia memang tidak tahu nama Mama Tania dan asalnya, meski Mama Tania masih tampak medok Jawanya ketika ngobrol.
“Itu Mama Tania beli mobil,’ ucap Bu Neneng lagi ketus.
“Alhamdulillah ada rezeki,” ujar Marsha ringan. Habis Marsha selesai bicara, Bu Neneng langsung beranjak pergi tanpa ucapan salam atau pun pamit. Saya geleng-geleng kepala. Orang masuk dan keluar rumah orang kok tanpa muka juga punggung, tanpa salam apa pun.

Tiga hari setelah dari rumah saya dengan gaya yang mencengangkan itu suami Bu Neneng membawa pulang sebuah mobil sedan warna hijau gelap. Saya tersenyum tipis, semoga bukan karena emosi suami Bu Neneng membeli mobil, melainkan karena kebutuhan.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Tetangga Paling Unik Tuhan Hanya Memberikan yang Terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 105,232 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: