Tetangga Paling Unik

Desember 7, 2009 at 4:42 am Tinggalkan komentar

TETANGGA saya yang paling unik adalah Bu Neneng. Ibu yang satu ini paling heboh dalam segala hal. Dia paling suka bikin pesta. Anak naik kelas dia undang tetangga untuk makan-makan, suami berhasil mendapatkan sesuatu dalam pekerjaannya mengundang tetangga makan-makan. Ulangtahun anaknya luar biasa sibuknya. Di depan rumah dipasang tenda, persis orang hajatan anak khitanan. Bedanya yang datang anak-anak kecil usia belasan tahun. Sulungnya Angie genap duabelas tahun.
Bu Neneng orang yang paling tua dibanding kami. Dia kelahiran tahun enampuluh lima, sementara kami rata-rata lahir di tahun tujuhpuluhan. Karena merasa tua itulah dia memanggil dirinya dengan panggilan ibu. Otomatis kami memanggilnya dengan embel-embel ibu, padahal diantara tetangga kami saling memanggil mbak, atau nama anak dengan embel-embel mama di depannya.
Saya termasuk yang memanggilnya Bu Neneng, tetapi Mbak In lain. Mbak In memanggilnya mama Angie. Hanya Mbak In yang memanggilnya mama Angie. Ada satu sifat Bu Neneng yang kurang simpati. Dia tidak mau kalah dengan tetangga. Untuk urusan masak saja, dia tidak mau kalah dengan tetangga. Bila tetangga membeli tempe, ia akan membeli ikan. Bila tetangga membeli ikan Bu Neneng akan membeli ayam. Jika tetangga membeli ayam, Bu Neneng akan membeli daging. Pendek kata Bu Neneng tak mau di bawah tetangganya. Akhirnya setiap kali belanja bareng-bareng sama tetangga Bu Neneng selalu membeli ayam, karena kami sering membeli ikan.

Rumah Bu Neneng merupakan rumah paling bagus di lorong kami, tetapi karena sifatnya yang tak mau kalah itu membuat rumahnya paling berantakan sekarang. Semua bermula ketika dua tetangga saya. Mama Lely dan Mama Icha merenovasi rumah berbarengan. Ini merupakan renovasi kedua bagi mereka setelah menambah dapur di tanah belakang. Sedangkan Bu Neneng sudah tiga kali merenovasi rumah. Saya pikir rumahnya sudah cukuplah, tak perlu direnovasi lagi.

Melihat Mama Lely dan Mama Icha merenovasi rumah, hanya dalm hitungan hari Bu Neneng mendatangkan material bangunan. Jadilah dalam satu lorong atau gang kami ada tiga rumah yang melakukan renovasi. Posisi rumah mereka juga saling berhadapan. Rumah Mama Lely berhadapan persis dengan rumah Bu Neneng. Rumah Mama Icha persis di sebelah kanan rumah Mama Lely. Rumah saya ada di samping kiri rumah Mama Lely, betapa penuh dan ramainya saat itu di gang kami. Material memenuhi gang kami juga bunyi palu beradu dengan dinding atau paku terdengar sepanjang hari.

Setiap renovasi rumah rata-rata memakan waktu dua minggu lebih, apalagi Mama Lely termasuk besar merenovasinya. Dia menambah ruang depan, garasi dan mengganti lantai. Mama Icha hanya menambah kamar samping, garasi dan bikin pagar. Rumah Mama Lely sendiri belum berpagar.
“Menunggu rezeki,” begitu ujarnya kepada saya. Renovasi Mama Lely selesai dalam waktu enam minggu, sedang renovasi rumah Mama Icha selesai selama tiga minggu.

Apa yang terjadi dengan renovasi di Bu Neneng? Satu minggu renovasi tak ada tanda-tanda renovasi diteruskan. Rupanya Bu Neneng menambah satu kamar mandi di ruang depan lalu disambung dengan kamar tidur di depan pagar, juga bikin garasi dengan dua tiang besar.
Satu minggu tak ada tukang yang masuk. Rupanya tukang yang bekerja di rumah Bu Neneng mutung. Tak mau bekerja lagi karena gaji dari hari pertama bekerja belum juga dibayar sepeser pun. Tiga tukang itu pun berhenti, terlebih material yang didatangkan pun dari hutang. Toko yang mensuplai tak mau mengirim lagi karena suami Bu Neneng tak memenuhi janji, membayar harga material tepat waktu. Akhirnya kamar yang atapnya belum tertutup sempurna ditinggalkan begitu saja. Dua tiang seperti pilar itu juga belum rapi, pendek kata masih berantakan.

Dua minggu kemudian renovasi dilanjutkan dengan tukang yang berbeda, tetapi tidak dirampungkan semuanya. Hanya membenahi atap kamar di depan pagar. Dua tiang atau pilar juga dibiarkan tanpa diselesaikan. Dinding kamar belum juga diplester. Entah kapan renovasi rumah Bu Neneng itu diselesaikan. Sekarang setiap memandang rumah Bu Neneng yang dulu berkesan luas itu jadi kurang enak.
Saya barangkali orang yang selalu berkesempatan melihat rumah Bu Neneng yang berantakan untuk pertamakalinya setiap bangun tidur. Rumahnya yang berhadapan meski tak persis dengan rumah saya, selalu tampak saat saya membuka jendela kamar.

Setiap pagi setiap melihat rumah Bu Neneng saya selalu ingat nasehat ibu, urip iku nrimo ing pandum. Ojo ngoyo. Hidup itu menerima apa adanya. Mesyukuri apa yang ada, tak usah memaksa ini. Saya seperti melihat sebuah cermin besar pada diri Bu Neneng juga rumahnya yang kini masih berantakan.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Novel Nawang ke Panggung Teater Hijauya Rumput Tetangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 103,858 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: