Tuhan Tidak Butuh Sapi

Desember 1, 2009 at 8:14 am 4 komentar

SATU pekan ini tak jumpa dengan Mbak In kok rasanya seperti satu tahun nggak ketemu. Maklum Mbak In tetangga sekaligus teman ngobrol yang asik buat saya. Selalu nyambung ngobrol dengan dia dan selalu seru plus selalu dapat mengambil hikmah. Satu lagi dan ini yang paling penting, jauh dari menggunjing.

Saya sejenak menengok ke rumah Mbak In sambil membeli sayuran dan ikan segar yang berhenti tak jauh dari rumah Mbak In. Sepertinya belum tampak kalau Mbak In sudah pulang, ia memang sedang pulang kampung. Orangtua Mbak In hendak menunaikan ibadah haji, Mbak In ditelepon langsung untuk pulang. Praktis suami yang super sibuk hanya menemani sampai bandara saja. Nggak mungkin lah usaha ditinggal lama. Saya akhirnya pulang dengan kegiatan memasak di dapur. Kali ini bikin sayur jamur, ma wortel plus bakso. Ikannya ikan bawal. Semalam sibungsu pesan minta dibikinin agar-agar dikasih santan. Oke deh. Memasak jadi asik kalau saya sambil menghidupkan komputer untuk facebookan. Maklum biar pun ibu rumah tangga, dan hanya tinggal di rumah, saya kan pengen gaul.
“Assalamualaikum,” saya menautkan kening. Suara itu mirip suara Mbak In. Terdengar lagi salam, saya masih meragukan dengan pendengaran saya. Saya berasumsi itu hanya halusinasi saya aja karena saat ini emang sedang kangen sama Mbak In.
“Jeng,” saya menautkan kening lagi. Kali ini panggilan khas Mbak In terdengar.
“Jeng.” Ini bukan halusinasi.
Saya segera ke ruang tamu. Saya kaget campur senang. Ternyata Mbak In.
“Lagi repot Jeng, dipanggil dari tadi baru nongol.”
“Duduk mbak, saya ragu tadi. Saya pikir hanya pikiran saya aja kalau sampean datang.”
“Halusinasi maksudmu, Jeng.” Saya tersenyum tipis dan mengangguk.
“kangen sama sampean,” sambung saya.
“Paling bisa bikin orang tersanjung.”
Mbak In duduk, dan seperti biasa selalu saja ada yang Mbak In bawa. Kali ini sekantung pir.
“Banyak banget mbak,” ujar saya.
“Buat anak-anak.”
“Makasih ya mbak.”
“Ya.”

Tak lama kami terlibat obrolan kian kemari. Dari harga telur dan gula yang masih tinggi sampai minyak goreng yang turunnya pelan-pelan. Tiba-tiba melintas di depan rumah saya Pak Karta, ia membawa sekor kambing untuk di bawa ke masjid. Besok merupakan hari besar Idul Adha, dan seperti ritual sebelumnya. Umat muslim sedunia akan serentak menyembelih hewan ternak secara massal, kemudian dibagi ke fakir miskin. Pembagian inilah yang kadang masih mengesankan merendahkan para fakir miskin, yakni menyuruh mereka mengantri. Ini pun memberi kesan bahwasannya sekarang masyarakat kita tidak malu lagi mengaku sebagai fakir miskin.

Tahun kemarin keluarga Mbak In menyembelih dua ekor kambing. Bisa jadi tahun ini keluarga Mbak In menyembelih lebih dari dua ekor kambing. Saya jadi ingin tahu.
“Tahun ini kami nggak menyembelih hewan qurban, Jeng.” Saya termangu. Tak seperti biasanya. Yang saya tahu setiap tahun keluarga Mbak In selalu berqurban.
“Tahun ini suami dan saya sepakat berqurban dengan uang.” Saya masih bingung belum bisa menangkap maksud Mbak In.
“Kami menyumbangkan uang ke yayasan sosial seharga satu ekor sapi. Saya ingin dana seharga satu ekor sapi itu bisa bermanfaat lebih lama. Dalam jangka waktu yang panjang. Yayasan ini bergerak di bidang pendidikan. Menyekolahkan anak-anak dari kalangan orang miskin. Memberi pelatihan bagi ibu-ibu berupa ketrampilan sulam dan keahlian lainnya. Yayasan ini intinya membantu masyarakat miskin untuk bisa lebih berdaya lagi.” Mbak In menyebut nama yayasan itu. Saya mengangguk-angguk.

Yayasan sosial yang tergolong masih muda itu memang memiliki kegiatan yang menarik. Yayasan ini menyekolahkan anak-anak usia taman kanak-kanak, sekolah menengah dan atas juga sampai ke perguruan tinggi. Yayasan ini juga memberi pelatihan bagi remaja putri yang terlanjur putus sekolah dan tak mungkin lagi sekolah karena faktor usia.

Anak seusia sekolah menengah pertama mulai dilihat minat dan bakatnya, lalu diberi kesempatan kursus dan diarahkan untuk bisa mandiri. Kelak mereka bisa membiayai sebagian biaya sekolah, tidak melulu bergantung pada yayasan, karena banyak anak-anak yang membutuhkan pertolongan.
“Saya berpikir ada baiknya ritual penyembelihan kambing setiap Idul Adha itu dihapus saja Jeng.” Saya tercengang.
“Ditiadakan Jeng.” Saya kian tercengang.
“Pertama kita yang secara finansial ini InsyaAllah bukan orang miskin setiap Idul Adha dapat daging sampai satu kilo, Jeng.”

Saya ingat Idul Adha kemarin saya dapat daging dari masjid terdekat juga dapat dari salah satu Sekolah Islam yang ada dekat di tempat kami tinggal. Kalau ditimbang memang jumlahnya lebih dari satu kilo.
“Kita sering lihat to Jeng, bapak-bapak pada bikin sate ramai-ramai satu gang ini begitu usai bagi-bagi hewan qurban. Ini karena terlalu banyaknya hewan yang dipotong. Coba kalau qurban kita ganti dengan uang seharga kambing atau sapi. Uangnya kita sumbang ke yayasan sosial, ke rumah yatim piatu, memberi modal usaha buat si miskin, menyekolahkan anak-anak dari kalangan tak mampu. Jauh lebih bermanfaat kan Jeng.” Saya mengangguk pelan, mengamini pendapat Mbak In. Pendapat yang pasti dikecam banyak orang, terutama para orangtua yang masih kolot.
“Saya yakin si miskin lebih membutuhkan uang ketimbang daging,” ujar Mbak In lagi
“Lagian yang dibutuhkan Tuhan bukan sapi, tapi makna berqurban itu sendiri Jeng.”
“Iya Mbak sepertinya kita memang perlu mengkaji ulang perintah Tuhan yang satu ini,” ujar saya.
“Saya yakin kok Tuhan maha menerima keikhlasan kita, dan tak menafikan qurban kita berupa uang. Toh menyembelih kambing, membagikan ke fakir miskin kemudian membiarkan mereka lapar kembali bukan cara menolong yang baik.” Saya mengangguk-angguk lagi.

Saya pikir, menghapus ritual penyembelihan hewan qurban sih tidak, paling dengan mengurangi jumlah hewan yang mau disembelih, sebagian lagi berupa uang seharga hewan ternak. Tujuannya untuk menghindari melimpahkan daging qurban yang akhirnya untuk pesta pora. Memberi manfaat lebih panjang buat simiskin dengan memberi modal usaha atau menyekolahkan anak-anak yang terlantar, juga memberi cinta kasih kita ke anak-anak yatim piatu.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Selendang Kado dari Budhe Novel Nawang ke Panggung Teater

4 Komentar Add your own

  • 1. jayanti  |  Desember 1, 2009 pukul 1:19 pm

    bnr jg mba. di tmpat sy daging kurban jg banyak yg ga kemakan.

    Balas
    • 2. dianing  |  Desember 1, 2009 pukul 4:05 pm

      Ya mbak Jayanti, begitu juga di sini. Banyak orang mampu mendapat daging qurban, sementara usai qurban si miskin lapar kembali.

      Balas
  • 3. munajat Edris  |  Desember 2, 2009 pukul 3:13 am

    Ide mbak widya tentang bagaimana seandainya berkorban diganti dengan bentuk lain. Merupakan ide yg sangat luar biasa, meskipun barang kali bukan yg pertama ide itu , tapi kemampuan mbak widya memotret realitas yang ada dimasyarakat , serta argumen2 yang mbak widya sampaikan menjadikan aku semakin jatuh hati. Insya Allah masalah ini akan saya sampaikan diforum diskusi. MUdah2an ide atau pemikiran mbak widya bisa dibaca oleh pakar hukum islam sehingga bisa dicarikannya solusi yg menyangkut masalah umat ini.,..

    Balas
    • 4. dianing  |  Januari 14, 2010 pukul 1:09 pm

      Terimakasih mas Edris, semoga bermanfaat. Amin.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,308 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: