Daging Qurban

November 28, 2009 at 6:09 am Tinggalkan komentar

SETIAP tahun umat muslim sedunia akan merayakan hari besar Idul Adha. Bagi mereka yang mampu secara mental dan finansial akan berangkat ke tanah suci. Melakukan napak tilas kembali dari perjalanan para nabi. Dari seluruh ritual haji, puncaknya adalah shalat Idul Adha yang kemudian dilanjutkan dengan pemotongan daging qurban.
Ritual pemotongan daging qurban berupa hewan ternak seperti sapi dan daging berawal dari kisah nabi Ibrahim. Diriwayatkan bahwa nabi Ibrahim dikenal sosok yang suka berkorban, mensedekahkan harta kekayaannya untuk para fakir miskin. Suatu ketika ada yang mengagumi sikap kedermawanan sang nabi, hingga nabi Ibrahim berujar jangankan hanya harta benda, kalaupun dikaruniai anak ia rela mengorbankan anaknya.

Ucapan nabi Ibrahim itu rupanya dicatat oleh malaikat Allah atas perintah Allah. Lahirlah Ismail dari istri Ibrahim meski pun usia Ibrahim waktu itu sudah tua. Ibrahim sangat menyanyangi Ismail, hingga akhirnya datang perintah Tuhan agar Ibrahim menyembelih Ismail. Ibrahim sempat bimbang karena perintah itu datang melalui mimpi, hingga bertanya pada Ismail. Ismail dengan mantap mengiyakan perintah itu. Singkat kata Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan dengan menyembelih Ismail sebagai tanda ketakwaannya terhadap Tuhan.

Jika ditarik garis dari peristiwa ini ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil, yakni pentingnya menjaga ucapan. Berucaplah yang baik-baik karena ucapan bisa jadi sebagian dari doa. Perintah Tuhan turun agar Ibrahim menyembelih Ismail, bermula dari ucapan Ibrahim yang akan rela mengorbankan anaknya, bila ia memiliki anak. Waktu itu Ibrahim mengucapkan dengan emosi rasa kangen ingin memiliki anak.
Dari peristiwa itu lahirlah ritual berqurban dengan memotong hewan ternak. Ismail yang sudah siap disembelih itu diganti dengan seekor hewan ternak atas kuasa Tuhan. Setiap tahun daging qurban yang disembelih selalu bertambah, hingga akhirnya daging berlimpah. Orang-orang yang tinggal di sekeliling masjid yang mengadakan pemotongan hewan qurban yang notebene adalah orang-orang yang mampu dari segi finansial, mendapatkan daging qurban.

Pemandangan hura-hura sering kita lihat usai daging di bagi-bagi ke mereka yang membutuhkan. Saya sering kewalahan mendapatkan daging kambing dan sapi bila Idul Adha tiba. Sore sampai malam kaum bapak akan ngumpul bareng untuk pesta sate, dan ibu-ibu seperti saya disibukkan memasak rendang atau gulai. Saya menangkap ritual pemotongan daging kambing dari waktu ke waktu kental dengan nuansa hura-hura, padahal pesan yang ingin disampaikan dari kisah Ibrahim itu adalah kerelaan berqurban bagi si kaya untuk fakir miskin. Kita selayaknya memanjakan si miskin untuk bisa menikmati daging setahun sekali, tetapi sekarang makna seperti itu telah bergeser.

Saya jadi berpikir apakah ritual pemotongan daging setiap Idul Adha masih relevan dengan realita sekarang. Apakah ritual penyembelihan massal kambing tak bisa diganti? Dengan uang misalnya, saya pikir orang miskin lebih membutuhkan uang ketimbang daging kambing.
Ini bisa dilihat dari adanya daging kambing yang dibagikan ke si miskin dijual ke pedagang dengan harga yang relatif murah. Pembagian daging kambing pun sering memberi kesan mereka yang mengemis ke masjid-masjid. Pembagian daging kambing tidak dilaksanakan seperti zaman saya masih sekolah dasar. Panitia atau amil zakat akan mendatangi setiap pengurus RT untuk kemudian pengurus RT menyalurkan ke warga yang berhak di lingkungan RT setempat. Sekarang fakir miskin justru yang diharuskan mengantre. Akibatnya tak jarang saat bahagia justru menuai musibah. Para wanita yang pingsan saat antre, atau anak yang kehilangan ibunya karena banyaknya antrean penerima daging qurban.

Saya berpikir ritual berqurban kita ada baiknya diubah. Tidak semua orang yang ingin berqurban mesti berwujud kambing. Bisa dengan uang seharga satu ekor kambing. Bila ada satu keluarga yang ingin berqurban dua ekor kambing, bisa hanya membeli satu ekor kambing. Satu ekor kambing lagi berupa uang senilai harga kambing. Ini untuk menghindari melimpahnya daging hingga si kaya pun mendapatkan daging, juga bisa menghindari kesan hura-hura.

Uang senilai seekor kambing atau sapi dikumpulkan oleh panitia untuk diberikan ke yayasan-yayasan sosial seperti rumah yatim piatu, atau memberikan beasiswa bagi anak-anak yang membutuhkan pendidikan tetapi orangtuanya tak mampu menyekolahkan anaknya karena tingginya biaya pendidikan di negeri kita.
Saya yakin Allah menerima qurban kita meski tak berbentuk hewan ternak. Uang yang terkumpul dari jutaan umat manusia InsyaAllah bisa bermanfaat banyak. Memberikan modal bagi si miskin untuk berusaha berdagang, menyekolahkan anak-anak miskin, membangun gedung-gedung sekolah yang rawan ambruk.
Bila hal ini terwujud dana dari qurban itu akan mengurangi angka kemiskinan, meningkatkan pendidikan anak-anak kita juga memperbaiki martabat negeri ini, karena sebuah negeri akan berjaya bila tingkat pendidikannnya bagus. Sudah saatnya kita menelaah kembali makna berqurban kita. Semoga Allah meridhai kita. Amin.
DWY

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Alue Vera Melati yang Ayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 12 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 12 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 12 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 12 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 12 hours ago

%d blogger menyukai ini: